Selasa, 31 Oktober 2017

Sebuah Catatan: Kampung Buku Jogja #3 dan Malang Sejuta Buku “Ketemu Buku #2”


Pada bulan Oktober 2017 ini saya berkesempatan datang (sendirian) ke dua acara pameran buku. Yang pertama Kampung Buku Jogja #3 dan yang kedua Malang Sejuta Buku “Ketemu Buku #2”. Kampung Buku Jogja #3 digelar mulai tanggal 4-8 Oktober 2017, sedangkan Malang Sejuta Buku “Ketemu Buku #2” diselenggarakan tanggal 19-25 Oktober 2017. Sebagai pecinta buku yang sudah pasti akan kalap jika berada di pameran buku, dan mengingat biaya akomodasi ke Yogyakarta dan Malang yang tidak sedikit, saya berhemat sejak jauh-jauh hari demi bisa datang ke kedua acara tersebut. Sungguh pengorbanan yang berat, karena di bulan September banyak sekali acara yang terpaksa saya lewatkan untuk berhemat. Sebagai pecinta buku, kurang militan gimana coba pengorbanan saya? Cinta memang butuh pengorbanan.

Kampung Buku Jogja #3

Saya berangkat jam 7 pagi dari Maospati ke Yogyakarta tanggal 4 Oktober pagi, karena tertulis di jadwal Kampung Buku Jogja #3 (selanjutnya akan saya singkat dengan KBJ#3) bahwa acara akan dibuka pada siang harinya pukul 12:30. Demi menghemat biaya perjalanan saya tidak naik kereta, melainkan bus legendaris Sugeng Rahayu (diam-diam saya sudah jadi penggemar bus ini). Cukup dengan Rp 29.000 saja saya bisa mendarat di Terminal Giwangan, Yogyakarta.
Jam sudah menunjukkan pukul 12:00 saat saya sampai di Yogyakarta. Sebenarnya homestay yang sudah saya pesan tak jauh dari Giwangan, berada di daerah Wirosaban. Tetapi saya memutuskan untuk langsung ke TKP Kampung Buku Jogja dikarenakan waktu sudah mepet dari jadwal dan saya berpikir lebih baik tahu tempatnya dulu agar lebih enak jika ingin kembali ke sana nanti. Toh, saya terlanjur bilang pada pihak homestay bahwa saya akan check in sekitar pukul 3 sore.
Ini pertama kalinya saya sendirian ke Jogja, pertama kalinya naik bus ke Jogja (biasanya naik kereta), pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Terminal Giwangan. Nekat. Iya, nekat, demi cinta (halah). Yang terpikirkan begitu sampai Giwangan adalah nyari shelter TransJogja. Di keterangan iklannya, KBJ #3 diadakan di Foodpark Taman Kearifan-Kawasan Lembah UGM. Di mana itu? Embuh ora eruh, yang jelas di UGM. Hahahahaha… Orang saya juga belum pernah ke yu-ji-em sebelumnya. Saya lihat di google map memang ada yang namanya lembah UGM, tapi nggak ada yang namanya Foodpark Taman Kearifan. Pikir saya mbuhlah yg penting nyampe yu-ji-em dulu. Setelah bertanya ke petugas TransJog bus mana yang harus saya naiki agar sampai UGM, meluncurlah saya ke sana. Ndilalah eladhalah, lha kok diturunkan di daerah Jakal, di depan sekolah vokasinya UGM. Saya lihat di google map, wah masih jauh sama yang namanya Lembah UGM. Matih kowe! Pupus sudah niat muliamu menghemat akomodasi agar bisa beli buku lebih banyak. Pikir saya naik TransJog Rp 3500 sudah bisa sampai daerah deket-deket lembah gitu, jalan dikit nggak apa-apa demi berhemat supaya bisa beli lebih banyak buku. Mau nggak mau saya pesen Gojek. Nah, kebingungan kedua adalah menentukan alamat tujuan. Jadi yang namanya Lembah UGM ini dikelilingi beberapa jalan yaitu, Jalan Olahraga, Jalan Fauna, dan Jalan Lembah UGM. Pertanyaannya: di manakah saya harus turun?? Sementara yang namanya Foodpark Taman Kearifan nggak ada di google map, jadi ya sudah harus gambling, saya putuskan turun di Jalan Lembah UGM karena katanya kan di kawasan Lembah UGM, ye nggak, ye nggak? Bismillah…budhal dibonceng abang Gojek.
Masuk kawasan UGM mendekati titik akhir pengantaran, saya mulai panik. Nggak ada banner atau apalah-apalah yang menunjukkan lagi ada acara anu di inu. Sebelumnya sih sepertinya melihat Mas Irwan Bajang di depan warung gudegnya Yu Djum, pingin tanya sama bareng ke TKP kalau boleh. Tapi karena belum pernah ketemu langsung, cuma tahu dari foto, ragu juga itu Mas Irwan apa bukan. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti di jajaran warung-warung di pinggir Jalan Lembah UGM karena saya pikir itu foodpark dan nggak enak juga sama abang Gojek karena uda lewat titik pengantaran di map. Errr..tapi kok warung-warungnya pada tutup ya? Saya lihat sekeliling, nggak ada mahasiswa yang jalan kaki lewat situ. Maksudnya kalau ada mau nanya gitu. Akhirnya saya putuskan saja buat jalan kaki sampai menemukan lelaki berseragam yang bisa ditanyai.
Saya belum makan sejak pagi dan harus jalan panas-panasan bawa satu ransel barang bawaan saya. Untung saya sangu air minum di botol taperwer. Long story short, setelah jalan kaki sekitar 15 menit mengitari separuh lembah UGM dan bertanya dua kali pada bapak satpam baik hati yang saya temui, akhirnya saya sampai di TKP Kampung Buku Jogja #3. Saya masuk ke dalam lokasi, di dalam banyak sekali orang. Saya berkeliling dan bersyukur melihat stan penjual makanan. Acara talkshow dengan bintang tamu Seno Gumira Ajidarma sudah mulai, sayang seribu sayang, sound system-nya mengalami gangguan. Orang-orang berjejal, saya tidak menemukan tempat yang layak untuk istirahat. Karena capek, kelaparan, dan kepanasan, saya memilih duduk di stan makanan, menikmati seporsi lotek dan segelas es jeruk sambil mendengarkan suara SGA yang timbul tenggelam dan kadang-kadang seperti tercekik. Sedih kenapa panitia tidak mempunyai plan B untuk mengantisipasi hal seperti ini.

Tiba pada saat sesi tanya jawab, saya sebenarnya pingin bertanya. Tetapi dikarenakan saya datang terlambat dan suara SGA yang timbul tenggelam, saya ndak tahu apa yang beliau bicarakan tadi, jadi bingung mau tanya apa. Hehehehehe… Judulnya sih “Sastra dan Jurnalisme” tapi menurut saya yang bertanya malah pada OOT, bertanya tentang buku-buku SGA. Kalau sesuai judul kan mustinya pertanyaannya kan tentang sastra dan kaitannya dengan jurnalisme. Apakah tadi topik yang dibicarakan sudah ganti atau karena sound system yang payah makanya pada paham-nggak paham dan yang penting bertanya walau nggak sesuai tema. Wallahu’alam.
Saya memutuskan ngider sebentar, melihat tempat buku-buku dipamerkan. Jadi yang buat pameran buku itu tempatnya semi indoor, aslinya 2 lantai tapi lantai dua sedang direnovasi sehingga tidak bisa dipakai (di atas ada tukang-tukang). Tepat sebelum masuk area pameran buku, ada stan rokok kretek yang memajang tulisan “boleh ngrokok di sini”, saya sesali kenapa stannya ditaruh situ, kok ndak di pojokan dekat musholla atau di mana gitu. Di dalam area pameran panas sekali, tidak disediakan kipas angin, dan sempit. Nggak bisa nyaman milih-milih buku karena bersenggolan dengan pengunjung lain yang berpapasan. Bisa dibayangkan kalau dalam kondisi seperti itu ada yang merokok? Saya langsung teringat beberapa baju saya yang bolong karena tersundut rokoknya orang saat di keramaian. Saya hanya berkeliling sebentar untuk melihat buku apa saja di dalam, nggak usah tanya, banyak buku yang pasti bagus-bagus dan mengancam dompet. Hari itu saya belum beli buku karena uang tunai yang saya bawa ngepres, belum ke ATM dan harus dipakai untuk membayar homestay (booking dulu, pay later).
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 14:30, saya harus ke homestay. Karena lokasinya di antah berantah dan nggak ada kendaraan umum plus capeeeek, saya balik naik Gojek. Pas keluar dari lokasi saya baru ngeh bahwa foodpark ini berada di depan fakultas hukum, sebelahnya lagi fakultas psikologi. Coba gitu ya pas iklan dikasih tahu lokasinya di depan fakultas hukum, mungkin saya tidak akan seterlunta-lunta ini. Halah. Dari lokasi KBJ #3 ke homestay saya naik Gojek habis Rp 17.000. Dalam hati saya menangys, kalau misal tiap hari saya PP homestay-KBJ habis berapa itu? Kan lumayan sekali PP bisa buat beli satu buku. Hiks… coba aksesnya mudah dan terjangkau TransJogja kan lumayan kalau PP cuma habis Rp 7.000. Akibatnya, saya jadi males mau balik lagi ke KBJ.
ingin kumenyapa Bang Saut, tetapi aku malu

Saya baru balik ke KBJ besok lusanya, tanggal 6 Oktober 2017 dikarenakan ada orasi-nya Bang Saut dan bincang bukunya Umar Kayam. Hari itu tetap ramai, tapi tidak seramai hari pertama. Saya sudah mengambil fresh money di ATM dan membeli beberapa buku. Selesai acara bincang bukunya Umar Kayam, karena nggak ada tempat istirahat, saya ndeprok saja di bawah pohon yang tumbuh di pedestrian di depan lokasi Kampung Buku Jogja sambil menikmati musikalisasi puisinya Bang Saut oleh Han Farhani. Setelah itu saya pulang ke homestay, nggak balik lagi ke KBJ sampai acara selesai pada tanggal 8 Oktober mengingat biaya PP ke KBJ yang lumayan dan sejujurnya saya tidak merasa nyaman di sana.

Malang Sejuta Buku “Ketemu Buku #2”

Sehabis dari Jogja, saya cuss ke Malang. Kota di mana udara serasa mampat oleh kenangan (eaaaaa….). Lha gimana nggak je, 6 tahun saya tinggal di kota ini. Kota yang berhasil membuat saya jatuh cinta, nggak terganti sampai sekarang. Oke, cukup. Acara Malang Sejuta Buku (selanjutnya saya singkat MSB) ini diadakan di Taman Krida Budaya di Jalan Soekarno-Hatta. Karena saya pernah tinggal di sini, tidak ada kesulitan berarti dalam hal menemukan lokasi. Taman Krida Budaya ini biasanya digunakan sebagai tempat perhelatan ludruk. Saya kurang tahu apa sebelumnya MSB diadakan di sini, tapi biasanya pameran buku di Malang diadakan di perpustakaan kota, atau di gedung skodam, dan pernah sekali di daerah dekat MOG. Taman Krida Budaya ini dapat dicapai dengan mudah, bisa dijangkau dengan naik angkot dan dekat ke mana-mana.
Saya datang ke MSB pas hari pertama pada tanggal 19 Oktober 2017, sekitar pukul 10 atau 11. Sengaja, karena pasti stoknya masih lengkap dan banyak. Pas saya datang suasana masih belum ramai. Begitu masuk, di halaman venue terdapat tempat khusus untuk acara-acara yang akan digelar: ada panggung, kursi untuk duduk, dan tak lupa terob untuk melindungi dari panas dan hujan. Pengunjung bisa menggunakan tempat ini untuk beristirahat setelah capek muter-muter mencari buku. Atau mungkin pengunjung yang datang dari luar kota dan langsung ke lokasi bisa leyeh-leyeh dulu di sini. Lalu juga terdapat jajaran stan penjual makanan, snack, dan minuman. Jadi di dalam Taman Krida (seperti rumah joglo besar) dikhususkan hanya untuk tempat pameran buku. Stan panitia dan tempat workshop diletakkan tepat sebelum pintu masuk, jadi memudahkan pengunjung yang mungkin butuh informasi.

Kalau saya amati, panitia sengaja mendesain beberapa sudut di MSB ini agar intagrammable untuk mengakomodasi hasrat jeprat-jepret people zaman now. Jadi setelah gerbang masuk ada lukisan besar gitu, bisa buat foto-foto. Di atas pintu masuk menuju area pameran buku juga digantung kursi plastik yang dihias sedemikian rupa dan ada tulisannya, sedang di atas panggung dihias memakai beberapa kursi kayu yang digantung dan ada tulisannya juga. Hmmm..saya sempat mbatin, kenapa pakai kursi. Coba pakai lampion, atau tulisannya dari cat fosfor, jadi artistik juga kan kalau malam. Tapi saya nggak foto-foto sih.
Saya langsung menuju stan Penerbit Basabasi, mencari Mas Reza Nufa dan Mas Wawan Esideika. Setelah membeli beberapa buku, lalu saya muter-muter ke stan lain. Karena tempatnya luas, nyaman nggak kayak pasar senggol pas milih-milih buku. Puas muter-muter dan uang sudah habis, saya baru sadar di depan stan Basabasi adalah stan Yayasan Obor Indonesia, dan yang jaga adalah Mas Joko. Sekitar 5 atau 6 tahun lalu adalah perkenalan saya dengan Mas Joko, di pameran buku juga. Lama nggak ketemu, eh, ternyata orangnya masih ingat sama saya. Akhirnya saya ngetem di stan YOI seharian, nemenin Mas Joko yang jaga stan sendirian. Uprus ngalor ngidul sama Mas Joko, sedikit nggosip juga. Hahahahaha…
bantuin Mas Joko jaga stan

bincang buku Nai Kai & Rumah Tusuk Sate di Amsterdam

Pada sore hari sekitar pukul 16:00 (molor dari jadwal) ada bincang bukunya Mas Joss Wibisono yang berjudul “Nai Kai” dan “Rumah Tusuk Sate di Amsterdam”. Kedua novel tersebut berkisah tentang kehidupan minoritas di negara barat. Kebetulan yang jadi pembahasnya Pak Yusri Fajar, sekalian dong saya minta tanda tangan buat buku esainya beliau yang saya beli. Saya diketawain Mas Wawan yang tahu kalau saya cukup sering bertemu Pak Yusri tapi masih minta tanda tangan juga. Saya bilang ini bukan masalah sering ketemu atau nggak, tapi sebuah buku kalau ada tanda tangan penulisnya itu rasanya beda, B-E-D-A. Ye nggak? Oh ya, saya juga sempat bertemu Mas Eka Pocer yang jadi ketua panitia (kalau nggak salah ya?) Saya nggak menyangka Mas Eka inget saya, padahal sebelumnya belum pernah ketemu di dunia nyata. Pingin ngobrol agak banyak sih, tapi sepertinya orangnya sibuk, dan pas acara bincang buku mau mulai.
Selesai acara balik ngetem lagi di stan YOI, semakin sore semakin malam dan semakin banyak pengunjung, tahu-tahu sudah pukul 8 malam. Saya harus balik penginapan. Mas Joko menyuruh saya mampir lagi besok, kalau bisa, biar deseu ada temennya. Tapi besoknya ternyata kondisi saya ngedrop, kepala saya pusing, badan demam, tenggorokan seperti terbakar. Saya terpaksa pulang daripada nanti merepotkan orang.
***
Jadi, jika nanti Kampung Buku Jogja dan Malang Sejuta Buku diadakan lagi saya akan datang lagi? Untuk Kampung Buku Jogja, bergantung. Apakah ada perbaikan apa nggak. Kalau nggak dan lokasinya tetep di antah berantah yang nggak kejangkau Transjog ya…sepertinya nggak. Menurut saya kemarin seharusnya stan penjual makanan diletakkan di luar saja, di sepanjang pinggir jalan masuk, terus diberi tempat lesehan biar pembelinya nggak bingung nyari tempat duduk untuk makan. Stan-stan lain selain stan buku juga baiknya ditaruh sebelum pintu masuk, jadi di dalam ada tempat cukup lega untuk “bernapas” dan istirahat. Di area yang semi indoor baiknya juga dikasih kipas angin untuk membantu sirkulasi udara biar nggak engeb, biar nyaman juga milih-milih bukunya nggak berasa kayak dioven.
Kalau untuk Malang Sejuta Buku sudah oke sih, jadi insyaallah bakal datang lagi. Kekurangannya cuma satu: toiletnya jauh dan kotor. Kalau mau ke toilet musti keluar terus jalan muter ke belakang. Harusnya di dalam area pameran di bagian belakang yang lurus dengan toilet di buka sedikit untuk jalan ke toilet, jadi biar nggak jauh-jauh amat. Dua hari sebelum acara mungkin bisa kali ya toiletnya dibersihkan gitu, jadi nggak nemen-nemen banget kotor dan aromanya.

Menurut saya sih, acara pameran buku kayak gini harus lebih sering diadakan, jangan cuma setahun sekali, paling nggak setahun dua kali lah. Karena sesungguhnya manusia tak hanya butuh piknik rekreasi, tapi juga piknik literasi.

*foto diambil dari ig griyabukupelangi, ig Ragil Cahya Maulana, dan dokumentasi pribadi