Rabu, 01 November 2017

Gebyar Festival Sastra 2017 di Kafe Basabasi, Yogyakarta


Salah satu cita-cita mulia saya adalah jadi orkay(orang kaya). Nah, sampai sini pasti saya dicap matre. Hahahaha… Ojok suudhzon sik, saya pingin jadi orang kaya, terus kekayaan saya akan saya gunakan untuk menyokong kegiatan sastra dan literasi. Ngunu lho rek… Saya selalu berandai-andai adakah orang yang seperti itu? Akhirnya saya bertemu langsung dengan orang yang seperti itu, orang itu bernama Mas Edi Mulyono alias Edi AH Iyubenu alias Edi Akhiles. Pasti sudah ngerti kan siapa beliau, yep-yep, beliau pemilik DivaPress dan Penerbit Basabasi.
Jadi ceritanya, setelah saya mendarat di Jogja pada tanggal 4 Oktober, saya baru tahu akan ada acara Gebyar Festival Sastra 2017 di Kafe Basabasi. Acara ini diadakan sekaligus soft opening-nya Kafe Basabasi. Kafe Basabasi sendiri terletak di dekat Blandongan, salah satu tempat warung kopi yang legendaris. Nah, pemilik Kafe Basabasi ini ya Mas Edi. Gebyar Festival Sastra 2017digelar selama dua hari, hari Sabtu-Minggu tanggal 7 dan 8 Oktober 2017. Pada hari Sabtu pukul 19:30 digelar acara Bincang Buku Puisi Kasmaran, Perkabungan untuk Cinta, dan TahiLalat. Sebagai jomblo abal-abal, tentu saya tidak akan melewatkan acara malam mingguan berkualitas seperti ituh. Sedang pada hari Minggu diadakan Workshop Menulis Cerpen Kontemporer.


Bincang Buku Puisi Kasmaran, Perkabungan untuk Cinta, dan Tahilalat
Sudah pada tahu dong, buku yang dibincangkan tersebut karangan siapa? Kasmaran karya Usman Arrumy, Perkabungan untuk Cinta karya Faisal Oddang, dan Tahilalat karya Joko Pinurbo. Eits, bukan itu saja, selain itu juga ada diskusi sastra bersama Sapardi Djoko Damono! Keren? Belum. Kerennya lagi acara ini GRATIS. Yang lebih keren lagi, dapat teh/kopi/air mineral, plus snack, ditambah sego kucing dan tempe mendoan. Belum, itu belum semuanya. Bagi yang datang dari luar kota disediakan tempat menginap. GRATIS! Kurang keren piye jal? Mas Edi kurang apikan piye jal? Orang kaya mah bebas.. *kibas rambut
 Saya berangkat ke Kafe Basabasi pukul 19:00. Sengaja, biar dapet tempat duduk paling depan. Menurut saya Kafe Basabasi ini walaupun belum 100% jadi, terlihat dirancang benar-benar: tempatnya luas dengan sirkulasi udara yang baik, ada dapur, beberapa kamar mandi(bersih) serta tempat sholat yang luas. Benar saja, acara malam itu pengunjungnya benar-benar membludak. Tercatat sekitar 700-an orang yang datang, sampai ada yang tidak bisa masuk dan rela berdiri selama acara, ada juga yang melihat dari jendela Kafe Basabasi. Seumur-umur baru kali ini saya lihat acara sastra semembludak ini. Saya aman, dapet tempat duduk di depan, menghadap kipas angin yang disediakan panitia. Hehehehe…
Acara dibuka dengan sambutan dari Mas Edi, lalu pembacaan puisi oleh Mas Usman, Mas Faisal, dan JokPin. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan penggalan novel Sunan Ngeloco oleh Joni Ariadinata. Novel Sunan Ngeloco adalah karya Mas Edi yang terbit bulan November ini, ceritanya lucu dan Abah Joni membacakannya dengan sangat menarik sehingga para penonton sukses terpingkal-pingkal. Selanjutnya ada penampilan Tari Sufi. Ini pertama kalinya saya melihat tarian ini secara langsung, dan saya masih saja terpesona, kok penarinya nggak pada pusing ya muter-muter gitu? Setelah itu Mas Tia Setiadi selaku moderator acara masuk panggung beserta para narasumber.
Joni Ariadinata membacakan penggalan novel Sunan Ngeloco
Tari Sufi. Kok nggak pusing ya?
ki-ka: Tia Setiadi, Joko Pinurbo, Faisal Oddang, Sapardi Djoko Damono, dan Usman Arrumy.

Para narasumber pun menceritakan proses kreatifnya masing-masing. Yang paling unik menurut saya adalah proses kreatif Mas Usman Arrumy. Jadi ceritanya saat ditelepon oleh penerbit, dia belum punya karya, tapi diminta untuk membuat karya dan akan diterbitkan. Setahu saya sih memang Mas Edi punya sepasukan khusus yang mencari dan mengamati bakat-bakat yang ada di luar sana. Akhirnya setelah dua bulan Mas Usman berhasil membuat dan setelah melewati proses penyuntingan akhirnya bukunya terbit. Kata JokPin,”Biasanya itu penulis yang ngirim ke penerbit, tapi Usman ini beda malah diminta oleh penerbit.” Mas Usman ini orangnya lucu, nggak banyak bicara tapi sekalinya bicara bikin orang ketawa, dan wajahnya itu lho lugu dan innocent banget. Menurut pengakuannya dia harus menunda keberangkatannya ke Kairo untuk melanjutkan studinya demi bisa hadir ke acara, ah, jadi terharu saya.
Pada saat sesi tanya jawab, banyak sekali yang antusias untuk bertanya. Namun karena waktu yang terbatas akhirnya jumlah penanya pun dibatasi. Di penghujung acara ada bagi doorprize berupa buku-buku terbitan DivaPress dan Basabasi. Tapi saya nggak dapet. Hah hah. Acara kemudian ditutup and that moment comes: momen foto-foto dan minta tanda tangan. Saya nggak ketinggalan dong buat foto-foto.
Pinginnya sih minta tanda tangannya JokPin, tapi saya nggak bawa bukunya karena baru tahu ada acaranya pas sudah di Jogja, bukunya ya di rumah. Mau beli saya pikir-pikir lebih baik beli buku baru lain yang belum punya. Jadinya ya foto doang sama beliau. Ketika acara berakhir dan JokPin sudah pulang, di meja tempat tadi JokPin memberi tanda tangan saya lihat ada pulpen. Kalau nggak salah, pulpen itu yang dipakai JokPin untuk menandatangani buku-buku. Kemudian saya ambil pulpen itu, buat kenang-kenangan.
Hal yang paling saya ingat adalah perkataan JokPin saat menanggapi pertanyaan dari beberapa peserta acara yang menanyakan makna, maksud, arti, tafsir dari puisi-puisi Sapardi. Kira-kira seperti ini, “Kalian itu jangan pernah nanya ke penulis tentang maksud atau arti tulisannya. Penulis itu pembohong. Pas acara ini, ada yang nanya dijawab begini. Di lain acara ada yang nanya lagi, sama, dijawab lain lagi. Apalagi tulisan yang ditanyakan yang lama-lama, jawabnya ya seingatnya, sekenanya. Saya yakin Pak Sapardi nggak bakal jawab pertanyaan kamu.” Memang benar, Sapardi nggak jawab dan idem sama tanggapan JokPin. Wkwwkwkwk…

Workshop Menulis Cerpen Kontemporer
Workshop menulis cerpen kontemporer diadakan esok harinya pada pukul 09:30. Narasumbernya yaitu,  Mas Faisal Oddang dan Mas Gunawan Tri Atmodjo. Awalnya acara akan dimoderatori oleh Mas Eko Triono, tapi karena Mas Eko masih otewe, akhirnya digantikan oleh Mas Reza Nufa. Tapi kemudian pada saat Mas Eko datang, ikut maju ke depan juga. Menurut saya malah lebih cocok seperti itu, Mas Reza jadi moderator dan Mas Eko jadi narsum juga. Sebenarnya daripada workshop, acara ini lebih cocok disebut sarasehan.
ki-ka: Faisal Oddang, Reza Nufa, Gunawan Tri Atmodjo, dan Eko Triono

Ada beberapa hal yang saya catat, dan mungkin jadi pertanyaan juga bagi yang lain. Apa sih yang dimaksud dengan cerpen kontemporer? Cerpen kontemporer itu yang seperti apa, yang bagaimana? Dari sepenangkapan saya, ketiga narsum sepakat bahwa cerpen kontemporer adalah cerpen yang kekinian, merujuk dari makna kata “kontemporer” yang berarti “saat ini”. Aktual, mengandung kebaruan. Nah, lalu bentuknya yang seperti apa? Untuk masalah bentuk, Mas Eko membebaskan untuk mengeksplorasi dan bereksperimen. Kekontemporeran itu bisa dari gagasan, bahasa, maupun dari bentuk fisik. Di sinilah tabungan pengetahuan sangat berperan penting. Kata Mas Faisal tabungan pengetahuan didapat tidak hanya dari bersosialisasi, tapi juga bisa dari membaca. Jadi sangat dianjurkan tidak membatasi bacaan kita hanya pada satu genre, atau satu bidang saja.
Menurut Mas Gunawan, jika diamati cerpen kontemporer yang ditulis oleh para penulis muda saat ini terbagi menjadi dua, yaitu yang mempertahankan lokalitas seperti cerpen-cerpen Faisal Oddang dan yang berbau “luar” seperti karya Dea Anugrah dan Norman Erikson Pasaribu. Memang masing-masing punya kekhasan sendiri. Mas Gunawan juga memberikan tips bahwa salah satu cara untuk menjaga energi dalam menulis cerita adalah dengan mematahkan kerangka. Tips yang sangat berharga untuk saya yang sering “kelelahan” saat menulis cerita.
Acara kembali diakhiri dengan bagi-bagi doorprize berupa buku, dan saya nggak dapet lagi. Huhuhuhu… kemudian dilanjutkan acara foto-foto dan minta tanda tangan. Untungnya saya sudah mencuri start, minta foto duluan sama Mas Faisal dan minta tanda tangan duluan ke Mas Gunawan Tri Atmodjo. Tapi saya lupa nggak minta foto sama Mas Eko -_-
***
Satu-satunya kritik saya untuk acara ini adalah: nggak ada tempat sampah. Tapi ya susah juga sih karena pas malem Minggu itu ramai banget, tempat sampahnya mau ditaruh mana coba? Duduk aja empet-empetan. Jadi pas selesai acara banyak sampah berserakan. Karena sudah dijamu dengan baik, sebagai rasa terima kasih sesudah acara saya bantu bersih-bersih Kafe Basabasi dari sampah bersama anak-anak asuhan Mas Edi. Dapet kenalan teman baru deh.
Selain itu ada masukan juga yang saya berikan berdasarkan pertanyaan mbak-mbak pengunjung acara (saya sempat mulek di stan penjualan buku di lokasi, ngobrol-ngobrol). Mbaknya tanya apakah ada kaos yang berlengan panjang, kebetulan mbaknya berhijab. Jadi mungkin nanti bisa dibikinkan kaos merchandise versi lengan panjang untuk mbak-mbak yang berhijab, karena sesungguhnya kalau berhijab itu memang agak males kalau disuruh pakai dekker atau kaos dalaman lagi, mending langsung pakai kaos lengan panjang saja daripada pakai baju dobel-dobel. Saya sendiri sebenarnya pingin punya kaos Pelisaurus, harganya Rp 90.000. Sedangkan level kaos yang biasa saya pakai adalah kaos kiwir-kiwir seharga duapuluh ribuan. Jadi saya nggak jadi beli, eman-eman mending uangnya buat beli buku. Untuk mengobati ketidakmampuan saya, saya beli tote bag-nya saja yang lebih murah, harganya Rp 35.000.
keren kan tote bag-nya?


Terakhir, setengah bercanda saya bilang ke Mas Imam “Mas, sering-sering ya adakan acara kayak gini di Jogja. Sebulan sekali lah, biar aku ada alibi buat sekalian piknik tipis-tipis ke Jogja.” Mas Imam menjawab,”Wah, yo kesel Mbak kalau tiap bulan.” Tenang Mas, saya bersedia sumbang tenaga buat bantu-bantu jika dibutuhkan (*wink).


*foto dari dokumentasi pribadi