Salah satu cita-cita mulia saya adalah
jadi orkay(orang kaya). Nah, sampai sini pasti saya dicap matre. Hahahaha… Ojok suudhzon sik, saya pingin jadi
orang kaya, terus kekayaan saya akan saya gunakan untuk menyokong kegiatan
sastra dan literasi. Ngunu lho rek… Saya
selalu berandai-andai adakah orang yang seperti itu? Akhirnya saya bertemu langsung
dengan orang yang seperti itu, orang itu bernama Mas Edi Mulyono alias Edi AH
Iyubenu alias Edi Akhiles. Pasti sudah ngerti kan siapa beliau, yep-yep, beliau
pemilik DivaPress dan Penerbit Basabasi.
Jadi ceritanya, setelah saya mendarat di
Jogja pada tanggal 4 Oktober, saya baru tahu akan ada acara Gebyar Festival Sastra
2017 di Kafe Basabasi. Acara ini diadakan sekaligus soft opening-nya Kafe
Basabasi. Kafe Basabasi sendiri terletak di dekat Blandongan, salah satu tempat warung kopi yang legendaris. Nah, pemilik Kafe Basabasi ini ya Mas Edi. Gebyar Festival Sastra
2017digelar selama dua hari, hari Sabtu-Minggu
tanggal 7 dan 8 Oktober 2017. Pada hari Sabtu pukul 19:30 digelar acara Bincang
Buku Puisi Kasmaran, Perkabungan untuk Cinta, dan TahiLalat. Sebagai jomblo
abal-abal, tentu saya tidak akan melewatkan acara malam mingguan berkualitas
seperti ituh. Sedang pada hari Minggu diadakan Workshop Menulis Cerpen
Kontemporer.
Bincang Buku Puisi
Kasmaran, Perkabungan untuk Cinta, dan Tahilalat
Sudah pada tahu dong, buku yang
dibincangkan tersebut karangan siapa? Kasmaran karya Usman Arrumy, Perkabungan
untuk Cinta karya Faisal Oddang, dan Tahilalat karya Joko Pinurbo. Eits, bukan
itu saja, selain itu juga ada diskusi sastra bersama Sapardi Djoko Damono! Keren?
Belum. Kerennya lagi acara ini GRATIS. Yang lebih keren lagi, dapat teh/kopi/air
mineral, plus snack, ditambah sego kucing dan tempe mendoan. Belum, itu belum
semuanya. Bagi yang datang dari luar kota disediakan tempat menginap. GRATIS! Kurang keren piye jal? Mas Edi
kurang apikan piye jal? Orang kaya mah bebas.. *kibas rambut
Saya
berangkat ke Kafe Basabasi pukul 19:00. Sengaja, biar dapet tempat duduk paling
depan. Menurut saya Kafe Basabasi ini walaupun belum 100% jadi, terlihat dirancang
benar-benar: tempatnya luas dengan sirkulasi udara yang baik, ada dapur, beberapa
kamar mandi(bersih) serta tempat sholat yang luas. Benar saja, acara malam itu
pengunjungnya benar-benar membludak. Tercatat sekitar 700-an orang yang datang,
sampai ada yang tidak bisa masuk dan rela berdiri selama acara, ada juga yang
melihat dari jendela Kafe Basabasi. Seumur-umur baru kali ini saya lihat acara sastra semembludak ini. Saya aman, dapet tempat duduk di depan,
menghadap kipas angin yang disediakan panitia. Hehehehe…
Acara dibuka dengan sambutan dari Mas
Edi, lalu pembacaan puisi oleh Mas Usman, Mas Faisal, dan JokPin. Kemudian
dilanjutkan dengan pembacaan penggalan novel Sunan Ngeloco oleh Joni Ariadinata.
Novel Sunan Ngeloco adalah karya Mas Edi yang terbit bulan November ini, ceritanya
lucu dan Abah Joni membacakannya dengan sangat menarik sehingga para penonton sukses
terpingkal-pingkal. Selanjutnya ada penampilan Tari Sufi. Ini pertama kalinya
saya melihat tarian ini secara langsung, dan saya masih saja terpesona, kok
penarinya nggak pada pusing ya muter-muter gitu? Setelah itu Mas Tia Setiadi
selaku moderator acara masuk panggung beserta para narasumber.
![]() |
| Joni Ariadinata membacakan penggalan novel Sunan Ngeloco |
![]() |
| Tari Sufi. Kok nggak pusing ya? |
![]() |
| ki-ka: Tia Setiadi, Joko Pinurbo, Faisal Oddang, Sapardi Djoko Damono, dan Usman Arrumy. |
Para narasumber pun menceritakan proses
kreatifnya masing-masing. Yang paling unik menurut saya adalah proses kreatif Mas
Usman Arrumy. Jadi ceritanya saat ditelepon oleh penerbit, dia belum punya
karya, tapi diminta untuk membuat karya dan akan diterbitkan. Setahu saya sih
memang Mas Edi punya sepasukan khusus yang mencari dan mengamati bakat-bakat
yang ada di luar sana. Akhirnya setelah dua bulan Mas Usman berhasil membuat
dan setelah melewati proses penyuntingan akhirnya bukunya terbit. Kata JokPin,”Biasanya
itu penulis yang ngirim ke penerbit, tapi Usman ini beda malah diminta oleh
penerbit.” Mas Usman ini orangnya lucu, nggak banyak bicara tapi sekalinya
bicara bikin orang ketawa, dan wajahnya itu lho lugu dan innocent banget. Menurut pengakuannya dia harus menunda
keberangkatannya ke Kairo untuk melanjutkan studinya demi bisa hadir ke acara,
ah, jadi terharu saya.
Pada saat sesi tanya jawab, banyak
sekali yang antusias untuk bertanya. Namun karena waktu yang terbatas akhirnya jumlah
penanya pun dibatasi. Di penghujung acara ada bagi doorprize berupa buku-buku terbitan DivaPress dan Basabasi. Tapi
saya nggak dapet. Hah hah. Acara kemudian ditutup and that moment comes: momen foto-foto dan minta tanda tangan. Saya
nggak ketinggalan dong buat foto-foto.
Pinginnya sih minta tanda tangannya
JokPin, tapi saya nggak bawa bukunya karena baru tahu ada acaranya pas sudah di
Jogja, bukunya ya di rumah. Mau beli saya pikir-pikir lebih baik beli buku baru
lain yang belum punya. Jadinya ya foto doang sama beliau. Ketika acara berakhir
dan JokPin sudah pulang, di meja tempat tadi JokPin memberi tanda tangan saya
lihat ada pulpen. Kalau nggak salah, pulpen itu yang dipakai JokPin untuk
menandatangani buku-buku. Kemudian saya ambil pulpen itu, buat kenang-kenangan.
Hal yang paling saya ingat adalah
perkataan JokPin saat menanggapi pertanyaan dari beberapa peserta acara yang
menanyakan makna, maksud, arti, tafsir dari puisi-puisi Sapardi. Kira-kira
seperti ini, “Kalian itu jangan pernah nanya ke penulis tentang maksud atau
arti tulisannya. Penulis itu pembohong. Pas acara ini, ada yang nanya dijawab
begini. Di lain acara ada yang nanya lagi, sama, dijawab lain lagi. Apalagi
tulisan yang ditanyakan yang lama-lama, jawabnya ya seingatnya, sekenanya. Saya
yakin Pak Sapardi nggak bakal jawab pertanyaan kamu.” Memang benar, Sapardi
nggak jawab dan idem sama tanggapan JokPin. Wkwwkwkwk…
Workshop Menulis Cerpen
Kontemporer
Workshop menulis cerpen kontemporer
diadakan esok harinya pada pukul 09:30. Narasumbernya yaitu, Mas Faisal Oddang dan Mas Gunawan Tri
Atmodjo. Awalnya acara akan dimoderatori oleh Mas Eko Triono, tapi karena Mas Eko
masih otewe, akhirnya digantikan oleh Mas Reza Nufa. Tapi kemudian pada saat
Mas Eko datang, ikut maju ke depan juga. Menurut saya malah lebih cocok seperti
itu, Mas Reza jadi moderator dan Mas Eko jadi narsum juga. Sebenarnya daripada
workshop, acara ini lebih cocok disebut sarasehan.
![]() |
| ki-ka: Faisal Oddang, Reza Nufa, Gunawan Tri Atmodjo, dan Eko Triono |
Ada beberapa hal yang saya catat, dan
mungkin jadi pertanyaan juga bagi yang lain. Apa sih yang dimaksud dengan cerpen
kontemporer? Cerpen kontemporer itu yang seperti apa, yang bagaimana? Dari sepenangkapan
saya, ketiga narsum sepakat bahwa cerpen kontemporer adalah cerpen yang
kekinian, merujuk dari makna kata “kontemporer” yang berarti “saat ini”. Aktual,
mengandung kebaruan. Nah, lalu bentuknya yang seperti apa? Untuk masalah
bentuk, Mas Eko membebaskan untuk mengeksplorasi dan bereksperimen. Kekontemporeran
itu bisa dari gagasan, bahasa, maupun dari bentuk fisik. Di sinilah tabungan
pengetahuan sangat berperan penting. Kata Mas Faisal tabungan pengetahuan
didapat tidak hanya dari bersosialisasi, tapi juga bisa dari membaca. Jadi sangat
dianjurkan tidak membatasi bacaan kita hanya pada satu genre, atau satu bidang
saja.
Menurut Mas Gunawan, jika diamati cerpen
kontemporer yang ditulis oleh para penulis muda saat ini terbagi menjadi dua, yaitu
yang mempertahankan lokalitas seperti cerpen-cerpen Faisal Oddang dan yang
berbau “luar” seperti karya Dea Anugrah dan Norman Erikson Pasaribu. Memang masing-masing
punya kekhasan sendiri. Mas Gunawan juga memberikan tips bahwa salah satu cara
untuk menjaga energi dalam menulis cerita adalah dengan mematahkan kerangka. Tips
yang sangat berharga untuk saya yang sering “kelelahan” saat menulis cerita.
Acara kembali diakhiri dengan bagi-bagi doorprize berupa buku, dan saya nggak
dapet lagi. Huhuhuhu… kemudian dilanjutkan acara foto-foto dan minta tanda
tangan. Untungnya saya sudah mencuri start, minta foto duluan sama Mas Faisal
dan minta tanda tangan duluan ke Mas Gunawan Tri Atmodjo. Tapi saya lupa nggak
minta foto sama Mas Eko -_-
***
Satu-satunya kritik saya untuk acara ini
adalah: nggak ada tempat sampah. Tapi ya susah juga sih karena pas malem Minggu
itu ramai banget, tempat sampahnya mau ditaruh mana coba? Duduk aja
empet-empetan. Jadi pas selesai acara banyak sampah berserakan. Karena sudah
dijamu dengan baik, sebagai rasa terima kasih sesudah acara saya bantu
bersih-bersih Kafe Basabasi dari sampah bersama anak-anak asuhan Mas Edi. Dapet
kenalan teman baru deh.
Selain itu ada masukan juga yang saya
berikan berdasarkan pertanyaan mbak-mbak pengunjung acara (saya sempat mulek di
stan penjualan buku di lokasi, ngobrol-ngobrol). Mbaknya tanya apakah ada kaos
yang berlengan panjang, kebetulan mbaknya berhijab. Jadi mungkin nanti bisa
dibikinkan kaos merchandise versi lengan panjang untuk mbak-mbak yang berhijab,
karena sesungguhnya kalau berhijab itu memang agak males kalau disuruh pakai
dekker atau kaos dalaman lagi, mending langsung pakai kaos lengan panjang saja
daripada pakai baju dobel-dobel. Saya sendiri sebenarnya pingin punya kaos Pelisaurus,
harganya Rp 90.000. Sedangkan level kaos yang biasa saya pakai adalah kaos
kiwir-kiwir seharga duapuluh ribuan. Jadi saya nggak jadi beli, eman-eman
mending uangnya buat beli buku. Untuk mengobati ketidakmampuan saya, saya beli
tote bag-nya saja yang lebih murah, harganya Rp 35.000.
![]() |
| keren kan tote bag-nya? |
Terakhir, setengah bercanda saya bilang
ke Mas Imam “Mas, sering-sering ya adakan acara kayak gini di Jogja. Sebulan
sekali lah, biar aku ada alibi buat sekalian piknik tipis-tipis ke Jogja.” Mas
Imam menjawab,”Wah, yo kesel Mbak kalau tiap bulan.” Tenang Mas, saya bersedia
sumbang tenaga buat bantu-bantu jika dibutuhkan (*wink).
*foto dari dokumentasi pribadi






Tidak ada komentar:
Posting Komentar