Kamis, 07 Desember 2017

Koloman Budaya Sivitas Kotheka: Tubuh Sosial Manusia Madura


Pada awalnya, Medusa adalah seorang perempuan yang sangat cantik, tercantik di Yunani. Kecantikannya tak tertandingi dan mengalahkan kecantikan Dewi Athena. Medusa menjadi incaran banyak lelaki karena kecantikannya, tak terkecuali Poseidon yang berusaha memperkosanya di kuil Athena. Hal ini membuat Dewi Athena murka, menyalahkan medusa untuk tindakan asusila tersebut, dan menghukumnya dengan mengutuknya menjadi perempuan paling jelek sedunia. Medusa pun berubah menjadi manusia bertubuh setengah ular dan rambutnya pun berubah menjadi ular, siapapun yang melihatnya akan berubah menjadi batu. Di zaman sekarang, Medusa dipakai sebagai lambang sebuah kafe kopi terkenal, yang secangkir kopinya berharga mahal. Orang-orang datang berduyun-duyun datang dan membeli kopi di kafe tersebut, tanpa tahu bahwa kopi yang mereka beli merupakan lambang penaklukan tubuh perempuan. Mereka tidak tahu bahwa sedang merayakan penaklukan atas tubuh Medusa.
Acara koloman budaya yang rutin diadakan oleh Sivitas Kotheka pada tanggal 25 November 2017 malam itu dibuka oleh Mas Ardhie Raditya(sosiolog dari Unesa) selaku pembahas pada acara bertajuk “Tubuh Sosial Manusia Madura” dengan sekelumit cerita tentang Medusa. Tanpa saya sebutkan, Anda pasti tahu kafe kopi terkenal yang dimaksud di atas. Lambangnya yang didominasi warna hijau itu memang ikonik sekali, sampai dibuat kaos dan berbagai merchandise lain. Acara yang diadakan di pendopo wakil bupati Pamekasan itu dimulai sekitar pukul setengah delapan malam, dan dipandu oleh Bara’ Nur (anggota Sivitas Kotheka).

Pengunjung yang datang malam itu cukup ramai, memenuhi karpet yang disediakan sebagai alas duduk di pendopo, terdiri dari mahasiswa dan berbagai komunitas yang ada di Pamekasan dan Madura. Saya? Single fighter dong…kan saya alien di kota ini. Hahahaha… Seperti biasa ada lapak penjual buku, snack, teh/kopi, dan air mineral gratis. Sebelum acara mulai saya menyempatkan membeli buku dulu di lapak, saya membeli novel Tanjung Kemarau karya teman saya Royyan Julian, salah satu dedengkot Sivitas Kotheka yang sayangnya pada acara kali ini absen karena harus ke Jogja. Padahal saya mau minta tanda tangan, lho…
stan buku

Dalam sarasehan tersebut, secara garis besar Mas Ardhie menyatakan bahwa tubuh sosial adalah tubuh manusia sebagai objek dalam hubungannya dengan masyarakat. Tentu saja tubuh tersebut masih bisa memilih, masih mempunyai pilihan, namun pilihannya terbatas. Di zaman sekarang, tubuh modern telah dikuasai oleh teknologi. Salah satunya terbukti dengan semakin lekatnya manusia dengan smartphone, juga berbagai teknologi yang berhasil “melipat jarak”. Identitas, representasi tubuh, hari ini dibentuk oleh pemilik modal, bukan diri kita. Tubuh sosial masyarakat Madura pun tak luput dari modernisme ini, mengalami pergeseran dalam berbagai aspek.

Sebenarnya saya berangkat ke acara ini karena ketertarikan pada topik yang diangkat. Bagi saya pribadi, orang Madura itu sangat menarik, begitu khas. Bahkan walaupun merantau sejauh apa pun, kekhasan ini tetap nampak. Misalnya saja solidaritas orang Madura yang luar biasa. Sayangnya, menurut saya Mas Ardhie masih terlalu umum dalam membahas “tubuh sosial” dalam acara kali ini, masih kurang intens dalam membahas “manusia Madura” itu sendiri. Setelah pembahasan, pemandu acara membuka kesempatan bertanya. Awalnya diberi kuota lima penanya, namun karena waktu sudah semakin malam akhirnya dibatasi tiga penanya saja.
 
nampang selesai acara :p
Di acara ini saya mendapat seorang kenalan, teman baru. Namanya Mbak Engga, dari Komunitas OMK (Organisasi Mahasiswa Katolik). Mbak Engga ini menarik, karena orang tuanya dua-duanya orang Jawa, tapi Mbak Engga lahir di Madura. Saya pun bertanya pada Mbak Engga, soal apa yang ia rasakan tentang identitas tubuhnya berkaitan dengan latar belakang asal-usulnya. Mbak Engga menjawab bahwa dia merasa separuh Jawa-separuh Madura, tapi juga merasa tidak keduanya karena tidak menguasai bahasa Jawa dan bahasa Madura. Barangkali demikianlah tubuh-tubuh zaman sekarang yang digempur modernisme: gamang akan identitasnya.

*foto dokumentasi Sivitas Kotheka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar