Kamis, 14 Desember 2017

Resensi Buku : Tanjung Kemarau

pose with boneka Garfield kesayangan

Judul                   : Tanjung Kemarau
Penulis                : Royyan Julian
Penerbit              : Grasindo (PT Gramedia Widiasarana Indonesia)
Tahun                  : 2017
Tebal                   : 254 halaman

Izinkan saya merekomendasikan sebuah buku kepada kamyu, kamyu, dan kamyu. Yak, inilah dia ‘Tanjung Kemarau” karya Royyan Julian. Ini pertama kalinya saya membaca karya Royyan, dan saya jatuh cinta. Sebabnya adalah Royyan mempunyai kemampuan bercerita yang luar biasa, seperti Syahrazad, sudah level dewa lah. Setelah saya membaca 10 halaman pertama, saya kesulitan untuk tidak melanjutkan membaca dan menuntaskan cerita. Jadi di sela kesibukan yang ada, saya tetap sempatkan untuk membacanya beberapa halaman tiap mau tidur demi memenuhi rasa penasaran saya. Biar berasa didongengi Syahrazad juga.

Kisah dalam novel ini bermula saat Walid(tokoh utama) memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Madura dikarenakan patah hati, hubungannya dengan Risti kekasihnya menjadi sedingin es. Di dusun yang senantiasa dihunjam kemarau, ia terjerumus ke dalam perbuatan serong dengan Ria, mantan biduan dangdut yang merupakan istri bekas seorang bajing. Ia juga terperosok ke dalam pusaran politik desa yang melibatkan Ra Amir (putra kiai yang berambisi pada kekuasaan), Nyai Rasera (perempuan sakti berusia ratusan tahun yang tinggal di hutan bakau), dan Maulana Bulan Purnama(pemimpin Tarekat Nabi Kesturi) akibat keresahannya pada masalah ekologi di lingkungannya. Konflik pribadi yang dialami Walid kemudian bertalian dengan konflik politik yang memanas dan menyudutkan Walid.

Cerita dalam novel ini tidak klise samasekali, dari bagian ke bagian saya gagal menebak jalan ceritanya. It is a good work. I mean, ada beberapa cerita yang bahkan saat saya membaca judulnya, saya sudah bisa menebak jalan ceritanya dengan tepat. Tidak demikian dengan Tanjung Kemarau ini, tidak tertebak dan berhasil mempertahankan suspens di sepanjang cerita. Novel ini memuat berbagai konflik (ada percintaan, ekologi, sosbud) yang diracik dengan ciamik soro. Konfliknya tampak dibangun dengan tidak sembarangan, bukan hanya angan-angan, tapi melalui pengamatan dan riset. Yang menarik bagi saya adalah selain percintaannya dengan perempuan-perempuan (Risti, Ria, Ulfa) ada juga kisah teman tapi mesra Walid dengan Kholidi, sahabat(tapi cinta pada Walid) sejak kecil. Dalam novel ini pun persahabatan dan hubungan mereka teruji, serta sedikit banyak menguak kehidupan LGBTIQA. Selain nama-nama yang sudah saya sebutkan, terdapat banyak tokoh lain dalam novel ini. Banyaknya tokoh dalam novel setebal 254 halaman ini awalnya sempat membuat saya was-was ceritanya bakal mbleber ke mana-mana dan menjadi seperti sinetron Tersanjung. Tapi ternyata tidak, semua tetap dalam jalinan. Cerita bergulir dari satu tokoh ke tokoh lain(mengingatkan saya pada alur novel Dadaisme), namun tetap berkaitan dalam satu benang merah. Harmonis, formulasinya pas.

Sebagai liyan yang tinggal di tanah Madura, saya juga merasakan keresahan (terkait masalah ekologi) yang dirasakan Walid. Sampah di laut(it’s terrible)…hutan bakau yg berkurang, bibir pantai yang ditimbun untuk bangunan(saya selalu bertanya-tanya, itu tanahnya siapa? Ada izinnya nggak sih? Amdalnya gimana?)… Saya melihatnya, dan buku ini membawa saya melihat lebih jauh apa-apa yang ada di balik itu semua. Selain itu selama tinggal di Madura saya juga mendengar cerita-cerita tentang begal, bajing, juga bajak laut (iya, bajak laut!). Selama ini saya beranggapan bahwa kisah-kisah itu adalah dongeng belaka(dalam artian zaman sekarang mungkin sudah tidak ada), tapi novel ini membuatnya susah dipisahkan dari kenyataan. Melalui novel ini, kita akan dibawa Royyan menjelajahi eksotisme dan lokalitas Madura bersama seluruh masalah yang ada di dalamnya.

Ada sedikit hal yang mengganggu saya ketika membaca novel ini, yaitu dengan sejarah masa SMA yang demikian, bagaiaman orang tua Risti mengizinkannya mengambil kuliah jurusan Teologi dan samasekali tidak pernah menjenguk Risti selama kuliah? Juga menurut saya akan lebih oke jika bagian “Perempuan yang Menyusui Kelelawar” ditukar dengan bagian “Kesaktian Ikan-Ikan”, maka akan lebih runtut, tidak loncat-loncat. Selain itu saya berharap keresahan terkait masalah ekologi yang dialami Walid tidak berhenti sebatas keresahan, tetapi melalui buku ini bisa melahirkan kesadaran bagi pembacanya(yang tinggal di Madura khususnya) yang kemudian berujung pada suatu gerakan perubahan bagi tanah yang untuk sementara saya tinggali ini.


Terlepas dari catatan saya, Royyan sudah berhasil mencuri hati saya dengan ceritanya. Persis seperti Walid mencuri hati Ria dengan cerita-ceritanya. Eaaaa… Buku novel ini sangat layak dibaca dan dimiliki karena menurut saya ini adalah novel yang “kaya”. Saya sudah resmi jadi penggemar cerita Royyan sekarang. Saya yakin, suatu hari nanti dia akan sefemes Eka Kurniawan. Nanti kalau ketemu, jangan lupa tanda tangani bukumu milikku ya, Roy. Belum lengkap seorang penggemar kalau belum minta tanda tangan junjungannya. Kamyu, kamyu, kamyu, kalau penasaran segera cuss juga gih buat baca novelnya, dijamin puas-puas-puas…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar