![]() |
| pose with boneka Garfield kesayangan |
Judul : Tanjung Kemarau
Penulis : Royyan Julian
Penerbit : Grasindo
(PT Gramedia Widiasarana Indonesia)
Tahun : 2017
Tebal : 254 halaman
Izinkan saya merekomendasikan
sebuah buku kepada kamyu, kamyu, dan kamyu. Yak, inilah dia ‘Tanjung Kemarau”
karya Royyan Julian. Ini pertama kalinya saya membaca karya Royyan, dan saya
jatuh cinta. Sebabnya adalah Royyan mempunyai kemampuan bercerita yang luar
biasa, seperti Syahrazad, sudah level dewa lah. Setelah saya membaca 10 halaman
pertama, saya kesulitan untuk tidak melanjutkan membaca dan menuntaskan cerita.
Jadi di sela kesibukan yang ada, saya tetap sempatkan untuk membacanya beberapa
halaman tiap mau tidur demi memenuhi rasa penasaran saya. Biar berasa
didongengi Syahrazad juga.
Kisah dalam novel ini bermula
saat Walid(tokoh utama) memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Madura
dikarenakan patah hati, hubungannya dengan Risti kekasihnya menjadi sedingin
es. Di dusun yang senantiasa dihunjam kemarau, ia terjerumus ke dalam perbuatan
serong dengan Ria, mantan biduan dangdut yang merupakan istri bekas seorang bajing. Ia juga terperosok ke dalam
pusaran politik desa yang melibatkan Ra Amir (putra kiai yang berambisi pada
kekuasaan), Nyai Rasera (perempuan sakti berusia ratusan tahun yang tinggal di
hutan bakau), dan Maulana Bulan Purnama(pemimpin Tarekat Nabi Kesturi) akibat
keresahannya pada masalah ekologi di lingkungannya. Konflik pribadi yang
dialami Walid kemudian bertalian dengan konflik politik yang memanas dan
menyudutkan Walid.
Cerita dalam novel ini tidak
klise samasekali, dari bagian ke bagian saya gagal menebak jalan ceritanya. It is a good work. I mean, ada beberapa
cerita yang bahkan saat saya membaca judulnya, saya sudah bisa menebak jalan
ceritanya dengan tepat. Tidak demikian dengan Tanjung Kemarau ini, tidak
tertebak dan berhasil mempertahankan suspens di sepanjang cerita. Novel ini
memuat berbagai konflik (ada percintaan, ekologi, sosbud) yang diracik dengan
ciamik soro. Konfliknya tampak dibangun dengan tidak sembarangan, bukan hanya
angan-angan, tapi melalui pengamatan dan riset. Yang menarik bagi saya adalah
selain percintaannya dengan perempuan-perempuan (Risti, Ria, Ulfa) ada juga
kisah teman tapi mesra Walid dengan Kholidi, sahabat(tapi cinta pada Walid)
sejak kecil. Dalam novel ini pun persahabatan dan hubungan mereka teruji, serta
sedikit banyak menguak kehidupan LGBTIQA. Selain nama-nama yang sudah saya sebutkan, terdapat
banyak tokoh lain dalam novel ini. Banyaknya tokoh dalam novel setebal 254
halaman ini awalnya sempat membuat saya was-was ceritanya bakal mbleber ke mana-mana dan menjadi seperti
sinetron Tersanjung. Tapi ternyata tidak, semua tetap dalam jalinan. Cerita bergulir
dari satu tokoh ke tokoh lain(mengingatkan saya pada alur novel Dadaisme),
namun tetap berkaitan dalam satu benang merah. Harmonis, formulasinya pas.
Sebagai liyan yang tinggal di
tanah Madura, saya juga merasakan keresahan (terkait masalah ekologi) yang
dirasakan Walid. Sampah di laut(it’s
terrible)…hutan bakau yg berkurang, bibir pantai yang ditimbun untuk
bangunan(saya selalu bertanya-tanya, itu tanahnya siapa? Ada izinnya nggak sih?
Amdalnya gimana?)… Saya melihatnya, dan buku ini membawa saya melihat lebih
jauh apa-apa yang ada di balik itu semua. Selain itu selama tinggal di Madura
saya juga mendengar cerita-cerita tentang begal, bajing, juga bajak laut (iya, bajak laut!). Selama ini saya
beranggapan bahwa kisah-kisah itu adalah dongeng belaka(dalam artian zaman
sekarang mungkin sudah tidak ada), tapi novel ini membuatnya susah dipisahkan dari kenyataan. Melalui novel ini, kita akan dibawa Royyan menjelajahi eksotisme dan
lokalitas Madura bersama seluruh masalah yang ada di dalamnya.
Ada sedikit hal yang mengganggu
saya ketika membaca novel ini, yaitu dengan sejarah masa SMA yang demikian,
bagaiaman orang tua Risti mengizinkannya mengambil kuliah jurusan Teologi dan
samasekali tidak pernah menjenguk Risti selama kuliah? Juga menurut saya akan
lebih oke jika bagian “Perempuan yang Menyusui Kelelawar” ditukar dengan bagian
“Kesaktian Ikan-Ikan”, maka akan lebih runtut, tidak loncat-loncat. Selain itu
saya berharap keresahan terkait masalah ekologi yang dialami Walid tidak
berhenti sebatas keresahan, tetapi melalui buku ini bisa melahirkan kesadaran
bagi pembacanya(yang tinggal di Madura khususnya) yang kemudian berujung pada
suatu gerakan perubahan bagi tanah yang untuk sementara saya tinggali ini.
Terlepas dari catatan saya,
Royyan sudah berhasil mencuri hati saya dengan ceritanya. Persis seperti Walid
mencuri hati Ria dengan cerita-ceritanya. Eaaaa… Buku novel ini sangat layak
dibaca dan dimiliki karena menurut saya ini adalah novel yang “kaya”. Saya
sudah resmi jadi penggemar cerita Royyan sekarang. Saya yakin, suatu hari nanti
dia akan sefemes Eka Kurniawan. Nanti kalau ketemu, jangan lupa tanda tangani
bukumu milikku ya, Roy. Belum lengkap seorang penggemar kalau belum minta tanda
tangan junjungannya. Kamyu, kamyu, kamyu, kalau penasaran segera cuss juga gih
buat baca novelnya, dijamin puas-puas-puas…



