Kamis, 14 Desember 2017

Resensi Buku : Tanjung Kemarau

pose with boneka Garfield kesayangan

Judul                   : Tanjung Kemarau
Penulis                : Royyan Julian
Penerbit              : Grasindo (PT Gramedia Widiasarana Indonesia)
Tahun                  : 2017
Tebal                   : 254 halaman

Izinkan saya merekomendasikan sebuah buku kepada kamyu, kamyu, dan kamyu. Yak, inilah dia ‘Tanjung Kemarau” karya Royyan Julian. Ini pertama kalinya saya membaca karya Royyan, dan saya jatuh cinta. Sebabnya adalah Royyan mempunyai kemampuan bercerita yang luar biasa, seperti Syahrazad, sudah level dewa lah. Setelah saya membaca 10 halaman pertama, saya kesulitan untuk tidak melanjutkan membaca dan menuntaskan cerita. Jadi di sela kesibukan yang ada, saya tetap sempatkan untuk membacanya beberapa halaman tiap mau tidur demi memenuhi rasa penasaran saya. Biar berasa didongengi Syahrazad juga.

Kisah dalam novel ini bermula saat Walid(tokoh utama) memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Madura dikarenakan patah hati, hubungannya dengan Risti kekasihnya menjadi sedingin es. Di dusun yang senantiasa dihunjam kemarau, ia terjerumus ke dalam perbuatan serong dengan Ria, mantan biduan dangdut yang merupakan istri bekas seorang bajing. Ia juga terperosok ke dalam pusaran politik desa yang melibatkan Ra Amir (putra kiai yang berambisi pada kekuasaan), Nyai Rasera (perempuan sakti berusia ratusan tahun yang tinggal di hutan bakau), dan Maulana Bulan Purnama(pemimpin Tarekat Nabi Kesturi) akibat keresahannya pada masalah ekologi di lingkungannya. Konflik pribadi yang dialami Walid kemudian bertalian dengan konflik politik yang memanas dan menyudutkan Walid.

Cerita dalam novel ini tidak klise samasekali, dari bagian ke bagian saya gagal menebak jalan ceritanya. It is a good work. I mean, ada beberapa cerita yang bahkan saat saya membaca judulnya, saya sudah bisa menebak jalan ceritanya dengan tepat. Tidak demikian dengan Tanjung Kemarau ini, tidak tertebak dan berhasil mempertahankan suspens di sepanjang cerita. Novel ini memuat berbagai konflik (ada percintaan, ekologi, sosbud) yang diracik dengan ciamik soro. Konfliknya tampak dibangun dengan tidak sembarangan, bukan hanya angan-angan, tapi melalui pengamatan dan riset. Yang menarik bagi saya adalah selain percintaannya dengan perempuan-perempuan (Risti, Ria, Ulfa) ada juga kisah teman tapi mesra Walid dengan Kholidi, sahabat(tapi cinta pada Walid) sejak kecil. Dalam novel ini pun persahabatan dan hubungan mereka teruji, serta sedikit banyak menguak kehidupan LGBTIQA. Selain nama-nama yang sudah saya sebutkan, terdapat banyak tokoh lain dalam novel ini. Banyaknya tokoh dalam novel setebal 254 halaman ini awalnya sempat membuat saya was-was ceritanya bakal mbleber ke mana-mana dan menjadi seperti sinetron Tersanjung. Tapi ternyata tidak, semua tetap dalam jalinan. Cerita bergulir dari satu tokoh ke tokoh lain(mengingatkan saya pada alur novel Dadaisme), namun tetap berkaitan dalam satu benang merah. Harmonis, formulasinya pas.

Sebagai liyan yang tinggal di tanah Madura, saya juga merasakan keresahan (terkait masalah ekologi) yang dirasakan Walid. Sampah di laut(it’s terrible)…hutan bakau yg berkurang, bibir pantai yang ditimbun untuk bangunan(saya selalu bertanya-tanya, itu tanahnya siapa? Ada izinnya nggak sih? Amdalnya gimana?)… Saya melihatnya, dan buku ini membawa saya melihat lebih jauh apa-apa yang ada di balik itu semua. Selain itu selama tinggal di Madura saya juga mendengar cerita-cerita tentang begal, bajing, juga bajak laut (iya, bajak laut!). Selama ini saya beranggapan bahwa kisah-kisah itu adalah dongeng belaka(dalam artian zaman sekarang mungkin sudah tidak ada), tapi novel ini membuatnya susah dipisahkan dari kenyataan. Melalui novel ini, kita akan dibawa Royyan menjelajahi eksotisme dan lokalitas Madura bersama seluruh masalah yang ada di dalamnya.

Ada sedikit hal yang mengganggu saya ketika membaca novel ini, yaitu dengan sejarah masa SMA yang demikian, bagaiaman orang tua Risti mengizinkannya mengambil kuliah jurusan Teologi dan samasekali tidak pernah menjenguk Risti selama kuliah? Juga menurut saya akan lebih oke jika bagian “Perempuan yang Menyusui Kelelawar” ditukar dengan bagian “Kesaktian Ikan-Ikan”, maka akan lebih runtut, tidak loncat-loncat. Selain itu saya berharap keresahan terkait masalah ekologi yang dialami Walid tidak berhenti sebatas keresahan, tetapi melalui buku ini bisa melahirkan kesadaran bagi pembacanya(yang tinggal di Madura khususnya) yang kemudian berujung pada suatu gerakan perubahan bagi tanah yang untuk sementara saya tinggali ini.


Terlepas dari catatan saya, Royyan sudah berhasil mencuri hati saya dengan ceritanya. Persis seperti Walid mencuri hati Ria dengan cerita-ceritanya. Eaaaa… Buku novel ini sangat layak dibaca dan dimiliki karena menurut saya ini adalah novel yang “kaya”. Saya sudah resmi jadi penggemar cerita Royyan sekarang. Saya yakin, suatu hari nanti dia akan sefemes Eka Kurniawan. Nanti kalau ketemu, jangan lupa tanda tangani bukumu milikku ya, Roy. Belum lengkap seorang penggemar kalau belum minta tanda tangan junjungannya. Kamyu, kamyu, kamyu, kalau penasaran segera cuss juga gih buat baca novelnya, dijamin puas-puas-puas…

Kamis, 07 Desember 2017

Koloman Budaya Sivitas Kotheka: Tubuh Sosial Manusia Madura


Pada awalnya, Medusa adalah seorang perempuan yang sangat cantik, tercantik di Yunani. Kecantikannya tak tertandingi dan mengalahkan kecantikan Dewi Athena. Medusa menjadi incaran banyak lelaki karena kecantikannya, tak terkecuali Poseidon yang berusaha memperkosanya di kuil Athena. Hal ini membuat Dewi Athena murka, menyalahkan medusa untuk tindakan asusila tersebut, dan menghukumnya dengan mengutuknya menjadi perempuan paling jelek sedunia. Medusa pun berubah menjadi manusia bertubuh setengah ular dan rambutnya pun berubah menjadi ular, siapapun yang melihatnya akan berubah menjadi batu. Di zaman sekarang, Medusa dipakai sebagai lambang sebuah kafe kopi terkenal, yang secangkir kopinya berharga mahal. Orang-orang datang berduyun-duyun datang dan membeli kopi di kafe tersebut, tanpa tahu bahwa kopi yang mereka beli merupakan lambang penaklukan tubuh perempuan. Mereka tidak tahu bahwa sedang merayakan penaklukan atas tubuh Medusa.
Acara koloman budaya yang rutin diadakan oleh Sivitas Kotheka pada tanggal 25 November 2017 malam itu dibuka oleh Mas Ardhie Raditya(sosiolog dari Unesa) selaku pembahas pada acara bertajuk “Tubuh Sosial Manusia Madura” dengan sekelumit cerita tentang Medusa. Tanpa saya sebutkan, Anda pasti tahu kafe kopi terkenal yang dimaksud di atas. Lambangnya yang didominasi warna hijau itu memang ikonik sekali, sampai dibuat kaos dan berbagai merchandise lain. Acara yang diadakan di pendopo wakil bupati Pamekasan itu dimulai sekitar pukul setengah delapan malam, dan dipandu oleh Bara’ Nur (anggota Sivitas Kotheka).

Pengunjung yang datang malam itu cukup ramai, memenuhi karpet yang disediakan sebagai alas duduk di pendopo, terdiri dari mahasiswa dan berbagai komunitas yang ada di Pamekasan dan Madura. Saya? Single fighter dong…kan saya alien di kota ini. Hahahaha… Seperti biasa ada lapak penjual buku, snack, teh/kopi, dan air mineral gratis. Sebelum acara mulai saya menyempatkan membeli buku dulu di lapak, saya membeli novel Tanjung Kemarau karya teman saya Royyan Julian, salah satu dedengkot Sivitas Kotheka yang sayangnya pada acara kali ini absen karena harus ke Jogja. Padahal saya mau minta tanda tangan, lho…
stan buku

Dalam sarasehan tersebut, secara garis besar Mas Ardhie menyatakan bahwa tubuh sosial adalah tubuh manusia sebagai objek dalam hubungannya dengan masyarakat. Tentu saja tubuh tersebut masih bisa memilih, masih mempunyai pilihan, namun pilihannya terbatas. Di zaman sekarang, tubuh modern telah dikuasai oleh teknologi. Salah satunya terbukti dengan semakin lekatnya manusia dengan smartphone, juga berbagai teknologi yang berhasil “melipat jarak”. Identitas, representasi tubuh, hari ini dibentuk oleh pemilik modal, bukan diri kita. Tubuh sosial masyarakat Madura pun tak luput dari modernisme ini, mengalami pergeseran dalam berbagai aspek.

Sebenarnya saya berangkat ke acara ini karena ketertarikan pada topik yang diangkat. Bagi saya pribadi, orang Madura itu sangat menarik, begitu khas. Bahkan walaupun merantau sejauh apa pun, kekhasan ini tetap nampak. Misalnya saja solidaritas orang Madura yang luar biasa. Sayangnya, menurut saya Mas Ardhie masih terlalu umum dalam membahas “tubuh sosial” dalam acara kali ini, masih kurang intens dalam membahas “manusia Madura” itu sendiri. Setelah pembahasan, pemandu acara membuka kesempatan bertanya. Awalnya diberi kuota lima penanya, namun karena waktu sudah semakin malam akhirnya dibatasi tiga penanya saja.
 
nampang selesai acara :p
Di acara ini saya mendapat seorang kenalan, teman baru. Namanya Mbak Engga, dari Komunitas OMK (Organisasi Mahasiswa Katolik). Mbak Engga ini menarik, karena orang tuanya dua-duanya orang Jawa, tapi Mbak Engga lahir di Madura. Saya pun bertanya pada Mbak Engga, soal apa yang ia rasakan tentang identitas tubuhnya berkaitan dengan latar belakang asal-usulnya. Mbak Engga menjawab bahwa dia merasa separuh Jawa-separuh Madura, tapi juga merasa tidak keduanya karena tidak menguasai bahasa Jawa dan bahasa Madura. Barangkali demikianlah tubuh-tubuh zaman sekarang yang digempur modernisme: gamang akan identitasnya.

*foto dokumentasi Sivitas Kotheka

Rabu, 01 November 2017

Gebyar Festival Sastra 2017 di Kafe Basabasi, Yogyakarta


Salah satu cita-cita mulia saya adalah jadi orkay(orang kaya). Nah, sampai sini pasti saya dicap matre. Hahahaha… Ojok suudhzon sik, saya pingin jadi orang kaya, terus kekayaan saya akan saya gunakan untuk menyokong kegiatan sastra dan literasi. Ngunu lho rek… Saya selalu berandai-andai adakah orang yang seperti itu? Akhirnya saya bertemu langsung dengan orang yang seperti itu, orang itu bernama Mas Edi Mulyono alias Edi AH Iyubenu alias Edi Akhiles. Pasti sudah ngerti kan siapa beliau, yep-yep, beliau pemilik DivaPress dan Penerbit Basabasi.
Jadi ceritanya, setelah saya mendarat di Jogja pada tanggal 4 Oktober, saya baru tahu akan ada acara Gebyar Festival Sastra 2017 di Kafe Basabasi. Acara ini diadakan sekaligus soft opening-nya Kafe Basabasi. Kafe Basabasi sendiri terletak di dekat Blandongan, salah satu tempat warung kopi yang legendaris. Nah, pemilik Kafe Basabasi ini ya Mas Edi. Gebyar Festival Sastra 2017digelar selama dua hari, hari Sabtu-Minggu tanggal 7 dan 8 Oktober 2017. Pada hari Sabtu pukul 19:30 digelar acara Bincang Buku Puisi Kasmaran, Perkabungan untuk Cinta, dan TahiLalat. Sebagai jomblo abal-abal, tentu saya tidak akan melewatkan acara malam mingguan berkualitas seperti ituh. Sedang pada hari Minggu diadakan Workshop Menulis Cerpen Kontemporer.


Bincang Buku Puisi Kasmaran, Perkabungan untuk Cinta, dan Tahilalat
Sudah pada tahu dong, buku yang dibincangkan tersebut karangan siapa? Kasmaran karya Usman Arrumy, Perkabungan untuk Cinta karya Faisal Oddang, dan Tahilalat karya Joko Pinurbo. Eits, bukan itu saja, selain itu juga ada diskusi sastra bersama Sapardi Djoko Damono! Keren? Belum. Kerennya lagi acara ini GRATIS. Yang lebih keren lagi, dapat teh/kopi/air mineral, plus snack, ditambah sego kucing dan tempe mendoan. Belum, itu belum semuanya. Bagi yang datang dari luar kota disediakan tempat menginap. GRATIS! Kurang keren piye jal? Mas Edi kurang apikan piye jal? Orang kaya mah bebas.. *kibas rambut
 Saya berangkat ke Kafe Basabasi pukul 19:00. Sengaja, biar dapet tempat duduk paling depan. Menurut saya Kafe Basabasi ini walaupun belum 100% jadi, terlihat dirancang benar-benar: tempatnya luas dengan sirkulasi udara yang baik, ada dapur, beberapa kamar mandi(bersih) serta tempat sholat yang luas. Benar saja, acara malam itu pengunjungnya benar-benar membludak. Tercatat sekitar 700-an orang yang datang, sampai ada yang tidak bisa masuk dan rela berdiri selama acara, ada juga yang melihat dari jendela Kafe Basabasi. Seumur-umur baru kali ini saya lihat acara sastra semembludak ini. Saya aman, dapet tempat duduk di depan, menghadap kipas angin yang disediakan panitia. Hehehehe…
Acara dibuka dengan sambutan dari Mas Edi, lalu pembacaan puisi oleh Mas Usman, Mas Faisal, dan JokPin. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan penggalan novel Sunan Ngeloco oleh Joni Ariadinata. Novel Sunan Ngeloco adalah karya Mas Edi yang terbit bulan November ini, ceritanya lucu dan Abah Joni membacakannya dengan sangat menarik sehingga para penonton sukses terpingkal-pingkal. Selanjutnya ada penampilan Tari Sufi. Ini pertama kalinya saya melihat tarian ini secara langsung, dan saya masih saja terpesona, kok penarinya nggak pada pusing ya muter-muter gitu? Setelah itu Mas Tia Setiadi selaku moderator acara masuk panggung beserta para narasumber.
Joni Ariadinata membacakan penggalan novel Sunan Ngeloco
Tari Sufi. Kok nggak pusing ya?
ki-ka: Tia Setiadi, Joko Pinurbo, Faisal Oddang, Sapardi Djoko Damono, dan Usman Arrumy.

Para narasumber pun menceritakan proses kreatifnya masing-masing. Yang paling unik menurut saya adalah proses kreatif Mas Usman Arrumy. Jadi ceritanya saat ditelepon oleh penerbit, dia belum punya karya, tapi diminta untuk membuat karya dan akan diterbitkan. Setahu saya sih memang Mas Edi punya sepasukan khusus yang mencari dan mengamati bakat-bakat yang ada di luar sana. Akhirnya setelah dua bulan Mas Usman berhasil membuat dan setelah melewati proses penyuntingan akhirnya bukunya terbit. Kata JokPin,”Biasanya itu penulis yang ngirim ke penerbit, tapi Usman ini beda malah diminta oleh penerbit.” Mas Usman ini orangnya lucu, nggak banyak bicara tapi sekalinya bicara bikin orang ketawa, dan wajahnya itu lho lugu dan innocent banget. Menurut pengakuannya dia harus menunda keberangkatannya ke Kairo untuk melanjutkan studinya demi bisa hadir ke acara, ah, jadi terharu saya.
Pada saat sesi tanya jawab, banyak sekali yang antusias untuk bertanya. Namun karena waktu yang terbatas akhirnya jumlah penanya pun dibatasi. Di penghujung acara ada bagi doorprize berupa buku-buku terbitan DivaPress dan Basabasi. Tapi saya nggak dapet. Hah hah. Acara kemudian ditutup and that moment comes: momen foto-foto dan minta tanda tangan. Saya nggak ketinggalan dong buat foto-foto.
Pinginnya sih minta tanda tangannya JokPin, tapi saya nggak bawa bukunya karena baru tahu ada acaranya pas sudah di Jogja, bukunya ya di rumah. Mau beli saya pikir-pikir lebih baik beli buku baru lain yang belum punya. Jadinya ya foto doang sama beliau. Ketika acara berakhir dan JokPin sudah pulang, di meja tempat tadi JokPin memberi tanda tangan saya lihat ada pulpen. Kalau nggak salah, pulpen itu yang dipakai JokPin untuk menandatangani buku-buku. Kemudian saya ambil pulpen itu, buat kenang-kenangan.
Hal yang paling saya ingat adalah perkataan JokPin saat menanggapi pertanyaan dari beberapa peserta acara yang menanyakan makna, maksud, arti, tafsir dari puisi-puisi Sapardi. Kira-kira seperti ini, “Kalian itu jangan pernah nanya ke penulis tentang maksud atau arti tulisannya. Penulis itu pembohong. Pas acara ini, ada yang nanya dijawab begini. Di lain acara ada yang nanya lagi, sama, dijawab lain lagi. Apalagi tulisan yang ditanyakan yang lama-lama, jawabnya ya seingatnya, sekenanya. Saya yakin Pak Sapardi nggak bakal jawab pertanyaan kamu.” Memang benar, Sapardi nggak jawab dan idem sama tanggapan JokPin. Wkwwkwkwk…

Workshop Menulis Cerpen Kontemporer
Workshop menulis cerpen kontemporer diadakan esok harinya pada pukul 09:30. Narasumbernya yaitu,  Mas Faisal Oddang dan Mas Gunawan Tri Atmodjo. Awalnya acara akan dimoderatori oleh Mas Eko Triono, tapi karena Mas Eko masih otewe, akhirnya digantikan oleh Mas Reza Nufa. Tapi kemudian pada saat Mas Eko datang, ikut maju ke depan juga. Menurut saya malah lebih cocok seperti itu, Mas Reza jadi moderator dan Mas Eko jadi narsum juga. Sebenarnya daripada workshop, acara ini lebih cocok disebut sarasehan.
ki-ka: Faisal Oddang, Reza Nufa, Gunawan Tri Atmodjo, dan Eko Triono

Ada beberapa hal yang saya catat, dan mungkin jadi pertanyaan juga bagi yang lain. Apa sih yang dimaksud dengan cerpen kontemporer? Cerpen kontemporer itu yang seperti apa, yang bagaimana? Dari sepenangkapan saya, ketiga narsum sepakat bahwa cerpen kontemporer adalah cerpen yang kekinian, merujuk dari makna kata “kontemporer” yang berarti “saat ini”. Aktual, mengandung kebaruan. Nah, lalu bentuknya yang seperti apa? Untuk masalah bentuk, Mas Eko membebaskan untuk mengeksplorasi dan bereksperimen. Kekontemporeran itu bisa dari gagasan, bahasa, maupun dari bentuk fisik. Di sinilah tabungan pengetahuan sangat berperan penting. Kata Mas Faisal tabungan pengetahuan didapat tidak hanya dari bersosialisasi, tapi juga bisa dari membaca. Jadi sangat dianjurkan tidak membatasi bacaan kita hanya pada satu genre, atau satu bidang saja.
Menurut Mas Gunawan, jika diamati cerpen kontemporer yang ditulis oleh para penulis muda saat ini terbagi menjadi dua, yaitu yang mempertahankan lokalitas seperti cerpen-cerpen Faisal Oddang dan yang berbau “luar” seperti karya Dea Anugrah dan Norman Erikson Pasaribu. Memang masing-masing punya kekhasan sendiri. Mas Gunawan juga memberikan tips bahwa salah satu cara untuk menjaga energi dalam menulis cerita adalah dengan mematahkan kerangka. Tips yang sangat berharga untuk saya yang sering “kelelahan” saat menulis cerita.
Acara kembali diakhiri dengan bagi-bagi doorprize berupa buku, dan saya nggak dapet lagi. Huhuhuhu… kemudian dilanjutkan acara foto-foto dan minta tanda tangan. Untungnya saya sudah mencuri start, minta foto duluan sama Mas Faisal dan minta tanda tangan duluan ke Mas Gunawan Tri Atmodjo. Tapi saya lupa nggak minta foto sama Mas Eko -_-
***
Satu-satunya kritik saya untuk acara ini adalah: nggak ada tempat sampah. Tapi ya susah juga sih karena pas malem Minggu itu ramai banget, tempat sampahnya mau ditaruh mana coba? Duduk aja empet-empetan. Jadi pas selesai acara banyak sampah berserakan. Karena sudah dijamu dengan baik, sebagai rasa terima kasih sesudah acara saya bantu bersih-bersih Kafe Basabasi dari sampah bersama anak-anak asuhan Mas Edi. Dapet kenalan teman baru deh.
Selain itu ada masukan juga yang saya berikan berdasarkan pertanyaan mbak-mbak pengunjung acara (saya sempat mulek di stan penjualan buku di lokasi, ngobrol-ngobrol). Mbaknya tanya apakah ada kaos yang berlengan panjang, kebetulan mbaknya berhijab. Jadi mungkin nanti bisa dibikinkan kaos merchandise versi lengan panjang untuk mbak-mbak yang berhijab, karena sesungguhnya kalau berhijab itu memang agak males kalau disuruh pakai dekker atau kaos dalaman lagi, mending langsung pakai kaos lengan panjang saja daripada pakai baju dobel-dobel. Saya sendiri sebenarnya pingin punya kaos Pelisaurus, harganya Rp 90.000. Sedangkan level kaos yang biasa saya pakai adalah kaos kiwir-kiwir seharga duapuluh ribuan. Jadi saya nggak jadi beli, eman-eman mending uangnya buat beli buku. Untuk mengobati ketidakmampuan saya, saya beli tote bag-nya saja yang lebih murah, harganya Rp 35.000.
keren kan tote bag-nya?


Terakhir, setengah bercanda saya bilang ke Mas Imam “Mas, sering-sering ya adakan acara kayak gini di Jogja. Sebulan sekali lah, biar aku ada alibi buat sekalian piknik tipis-tipis ke Jogja.” Mas Imam menjawab,”Wah, yo kesel Mbak kalau tiap bulan.” Tenang Mas, saya bersedia sumbang tenaga buat bantu-bantu jika dibutuhkan (*wink).


*foto dari dokumentasi pribadi

Selasa, 31 Oktober 2017

Sebuah Catatan: Kampung Buku Jogja #3 dan Malang Sejuta Buku “Ketemu Buku #2”


Pada bulan Oktober 2017 ini saya berkesempatan datang (sendirian) ke dua acara pameran buku. Yang pertama Kampung Buku Jogja #3 dan yang kedua Malang Sejuta Buku “Ketemu Buku #2”. Kampung Buku Jogja #3 digelar mulai tanggal 4-8 Oktober 2017, sedangkan Malang Sejuta Buku “Ketemu Buku #2” diselenggarakan tanggal 19-25 Oktober 2017. Sebagai pecinta buku yang sudah pasti akan kalap jika berada di pameran buku, dan mengingat biaya akomodasi ke Yogyakarta dan Malang yang tidak sedikit, saya berhemat sejak jauh-jauh hari demi bisa datang ke kedua acara tersebut. Sungguh pengorbanan yang berat, karena di bulan September banyak sekali acara yang terpaksa saya lewatkan untuk berhemat. Sebagai pecinta buku, kurang militan gimana coba pengorbanan saya? Cinta memang butuh pengorbanan.

Kampung Buku Jogja #3

Saya berangkat jam 7 pagi dari Maospati ke Yogyakarta tanggal 4 Oktober pagi, karena tertulis di jadwal Kampung Buku Jogja #3 (selanjutnya akan saya singkat dengan KBJ#3) bahwa acara akan dibuka pada siang harinya pukul 12:30. Demi menghemat biaya perjalanan saya tidak naik kereta, melainkan bus legendaris Sugeng Rahayu (diam-diam saya sudah jadi penggemar bus ini). Cukup dengan Rp 29.000 saja saya bisa mendarat di Terminal Giwangan, Yogyakarta.
Jam sudah menunjukkan pukul 12:00 saat saya sampai di Yogyakarta. Sebenarnya homestay yang sudah saya pesan tak jauh dari Giwangan, berada di daerah Wirosaban. Tetapi saya memutuskan untuk langsung ke TKP Kampung Buku Jogja dikarenakan waktu sudah mepet dari jadwal dan saya berpikir lebih baik tahu tempatnya dulu agar lebih enak jika ingin kembali ke sana nanti. Toh, saya terlanjur bilang pada pihak homestay bahwa saya akan check in sekitar pukul 3 sore.
Ini pertama kalinya saya sendirian ke Jogja, pertama kalinya naik bus ke Jogja (biasanya naik kereta), pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Terminal Giwangan. Nekat. Iya, nekat, demi cinta (halah). Yang terpikirkan begitu sampai Giwangan adalah nyari shelter TransJogja. Di keterangan iklannya, KBJ #3 diadakan di Foodpark Taman Kearifan-Kawasan Lembah UGM. Di mana itu? Embuh ora eruh, yang jelas di UGM. Hahahahaha… Orang saya juga belum pernah ke yu-ji-em sebelumnya. Saya lihat di google map memang ada yang namanya lembah UGM, tapi nggak ada yang namanya Foodpark Taman Kearifan. Pikir saya mbuhlah yg penting nyampe yu-ji-em dulu. Setelah bertanya ke petugas TransJog bus mana yang harus saya naiki agar sampai UGM, meluncurlah saya ke sana. Ndilalah eladhalah, lha kok diturunkan di daerah Jakal, di depan sekolah vokasinya UGM. Saya lihat di google map, wah masih jauh sama yang namanya Lembah UGM. Matih kowe! Pupus sudah niat muliamu menghemat akomodasi agar bisa beli buku lebih banyak. Pikir saya naik TransJog Rp 3500 sudah bisa sampai daerah deket-deket lembah gitu, jalan dikit nggak apa-apa demi berhemat supaya bisa beli lebih banyak buku. Mau nggak mau saya pesen Gojek. Nah, kebingungan kedua adalah menentukan alamat tujuan. Jadi yang namanya Lembah UGM ini dikelilingi beberapa jalan yaitu, Jalan Olahraga, Jalan Fauna, dan Jalan Lembah UGM. Pertanyaannya: di manakah saya harus turun?? Sementara yang namanya Foodpark Taman Kearifan nggak ada di google map, jadi ya sudah harus gambling, saya putuskan turun di Jalan Lembah UGM karena katanya kan di kawasan Lembah UGM, ye nggak, ye nggak? Bismillah…budhal dibonceng abang Gojek.
Masuk kawasan UGM mendekati titik akhir pengantaran, saya mulai panik. Nggak ada banner atau apalah-apalah yang menunjukkan lagi ada acara anu di inu. Sebelumnya sih sepertinya melihat Mas Irwan Bajang di depan warung gudegnya Yu Djum, pingin tanya sama bareng ke TKP kalau boleh. Tapi karena belum pernah ketemu langsung, cuma tahu dari foto, ragu juga itu Mas Irwan apa bukan. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti di jajaran warung-warung di pinggir Jalan Lembah UGM karena saya pikir itu foodpark dan nggak enak juga sama abang Gojek karena uda lewat titik pengantaran di map. Errr..tapi kok warung-warungnya pada tutup ya? Saya lihat sekeliling, nggak ada mahasiswa yang jalan kaki lewat situ. Maksudnya kalau ada mau nanya gitu. Akhirnya saya putuskan saja buat jalan kaki sampai menemukan lelaki berseragam yang bisa ditanyai.
Saya belum makan sejak pagi dan harus jalan panas-panasan bawa satu ransel barang bawaan saya. Untung saya sangu air minum di botol taperwer. Long story short, setelah jalan kaki sekitar 15 menit mengitari separuh lembah UGM dan bertanya dua kali pada bapak satpam baik hati yang saya temui, akhirnya saya sampai di TKP Kampung Buku Jogja #3. Saya masuk ke dalam lokasi, di dalam banyak sekali orang. Saya berkeliling dan bersyukur melihat stan penjual makanan. Acara talkshow dengan bintang tamu Seno Gumira Ajidarma sudah mulai, sayang seribu sayang, sound system-nya mengalami gangguan. Orang-orang berjejal, saya tidak menemukan tempat yang layak untuk istirahat. Karena capek, kelaparan, dan kepanasan, saya memilih duduk di stan makanan, menikmati seporsi lotek dan segelas es jeruk sambil mendengarkan suara SGA yang timbul tenggelam dan kadang-kadang seperti tercekik. Sedih kenapa panitia tidak mempunyai plan B untuk mengantisipasi hal seperti ini.

Tiba pada saat sesi tanya jawab, saya sebenarnya pingin bertanya. Tetapi dikarenakan saya datang terlambat dan suara SGA yang timbul tenggelam, saya ndak tahu apa yang beliau bicarakan tadi, jadi bingung mau tanya apa. Hehehehehe… Judulnya sih “Sastra dan Jurnalisme” tapi menurut saya yang bertanya malah pada OOT, bertanya tentang buku-buku SGA. Kalau sesuai judul kan mustinya pertanyaannya kan tentang sastra dan kaitannya dengan jurnalisme. Apakah tadi topik yang dibicarakan sudah ganti atau karena sound system yang payah makanya pada paham-nggak paham dan yang penting bertanya walau nggak sesuai tema. Wallahu’alam.
Saya memutuskan ngider sebentar, melihat tempat buku-buku dipamerkan. Jadi yang buat pameran buku itu tempatnya semi indoor, aslinya 2 lantai tapi lantai dua sedang direnovasi sehingga tidak bisa dipakai (di atas ada tukang-tukang). Tepat sebelum masuk area pameran buku, ada stan rokok kretek yang memajang tulisan “boleh ngrokok di sini”, saya sesali kenapa stannya ditaruh situ, kok ndak di pojokan dekat musholla atau di mana gitu. Di dalam area pameran panas sekali, tidak disediakan kipas angin, dan sempit. Nggak bisa nyaman milih-milih buku karena bersenggolan dengan pengunjung lain yang berpapasan. Bisa dibayangkan kalau dalam kondisi seperti itu ada yang merokok? Saya langsung teringat beberapa baju saya yang bolong karena tersundut rokoknya orang saat di keramaian. Saya hanya berkeliling sebentar untuk melihat buku apa saja di dalam, nggak usah tanya, banyak buku yang pasti bagus-bagus dan mengancam dompet. Hari itu saya belum beli buku karena uang tunai yang saya bawa ngepres, belum ke ATM dan harus dipakai untuk membayar homestay (booking dulu, pay later).
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 14:30, saya harus ke homestay. Karena lokasinya di antah berantah dan nggak ada kendaraan umum plus capeeeek, saya balik naik Gojek. Pas keluar dari lokasi saya baru ngeh bahwa foodpark ini berada di depan fakultas hukum, sebelahnya lagi fakultas psikologi. Coba gitu ya pas iklan dikasih tahu lokasinya di depan fakultas hukum, mungkin saya tidak akan seterlunta-lunta ini. Halah. Dari lokasi KBJ #3 ke homestay saya naik Gojek habis Rp 17.000. Dalam hati saya menangys, kalau misal tiap hari saya PP homestay-KBJ habis berapa itu? Kan lumayan sekali PP bisa buat beli satu buku. Hiks… coba aksesnya mudah dan terjangkau TransJogja kan lumayan kalau PP cuma habis Rp 7.000. Akibatnya, saya jadi males mau balik lagi ke KBJ.
ingin kumenyapa Bang Saut, tetapi aku malu

Saya baru balik ke KBJ besok lusanya, tanggal 6 Oktober 2017 dikarenakan ada orasi-nya Bang Saut dan bincang bukunya Umar Kayam. Hari itu tetap ramai, tapi tidak seramai hari pertama. Saya sudah mengambil fresh money di ATM dan membeli beberapa buku. Selesai acara bincang bukunya Umar Kayam, karena nggak ada tempat istirahat, saya ndeprok saja di bawah pohon yang tumbuh di pedestrian di depan lokasi Kampung Buku Jogja sambil menikmati musikalisasi puisinya Bang Saut oleh Han Farhani. Setelah itu saya pulang ke homestay, nggak balik lagi ke KBJ sampai acara selesai pada tanggal 8 Oktober mengingat biaya PP ke KBJ yang lumayan dan sejujurnya saya tidak merasa nyaman di sana.

Malang Sejuta Buku “Ketemu Buku #2”

Sehabis dari Jogja, saya cuss ke Malang. Kota di mana udara serasa mampat oleh kenangan (eaaaaa….). Lha gimana nggak je, 6 tahun saya tinggal di kota ini. Kota yang berhasil membuat saya jatuh cinta, nggak terganti sampai sekarang. Oke, cukup. Acara Malang Sejuta Buku (selanjutnya saya singkat MSB) ini diadakan di Taman Krida Budaya di Jalan Soekarno-Hatta. Karena saya pernah tinggal di sini, tidak ada kesulitan berarti dalam hal menemukan lokasi. Taman Krida Budaya ini biasanya digunakan sebagai tempat perhelatan ludruk. Saya kurang tahu apa sebelumnya MSB diadakan di sini, tapi biasanya pameran buku di Malang diadakan di perpustakaan kota, atau di gedung skodam, dan pernah sekali di daerah dekat MOG. Taman Krida Budaya ini dapat dicapai dengan mudah, bisa dijangkau dengan naik angkot dan dekat ke mana-mana.
Saya datang ke MSB pas hari pertama pada tanggal 19 Oktober 2017, sekitar pukul 10 atau 11. Sengaja, karena pasti stoknya masih lengkap dan banyak. Pas saya datang suasana masih belum ramai. Begitu masuk, di halaman venue terdapat tempat khusus untuk acara-acara yang akan digelar: ada panggung, kursi untuk duduk, dan tak lupa terob untuk melindungi dari panas dan hujan. Pengunjung bisa menggunakan tempat ini untuk beristirahat setelah capek muter-muter mencari buku. Atau mungkin pengunjung yang datang dari luar kota dan langsung ke lokasi bisa leyeh-leyeh dulu di sini. Lalu juga terdapat jajaran stan penjual makanan, snack, dan minuman. Jadi di dalam Taman Krida (seperti rumah joglo besar) dikhususkan hanya untuk tempat pameran buku. Stan panitia dan tempat workshop diletakkan tepat sebelum pintu masuk, jadi memudahkan pengunjung yang mungkin butuh informasi.

Kalau saya amati, panitia sengaja mendesain beberapa sudut di MSB ini agar intagrammable untuk mengakomodasi hasrat jeprat-jepret people zaman now. Jadi setelah gerbang masuk ada lukisan besar gitu, bisa buat foto-foto. Di atas pintu masuk menuju area pameran buku juga digantung kursi plastik yang dihias sedemikian rupa dan ada tulisannya, sedang di atas panggung dihias memakai beberapa kursi kayu yang digantung dan ada tulisannya juga. Hmmm..saya sempat mbatin, kenapa pakai kursi. Coba pakai lampion, atau tulisannya dari cat fosfor, jadi artistik juga kan kalau malam. Tapi saya nggak foto-foto sih.
Saya langsung menuju stan Penerbit Basabasi, mencari Mas Reza Nufa dan Mas Wawan Esideika. Setelah membeli beberapa buku, lalu saya muter-muter ke stan lain. Karena tempatnya luas, nyaman nggak kayak pasar senggol pas milih-milih buku. Puas muter-muter dan uang sudah habis, saya baru sadar di depan stan Basabasi adalah stan Yayasan Obor Indonesia, dan yang jaga adalah Mas Joko. Sekitar 5 atau 6 tahun lalu adalah perkenalan saya dengan Mas Joko, di pameran buku juga. Lama nggak ketemu, eh, ternyata orangnya masih ingat sama saya. Akhirnya saya ngetem di stan YOI seharian, nemenin Mas Joko yang jaga stan sendirian. Uprus ngalor ngidul sama Mas Joko, sedikit nggosip juga. Hahahahaha…
bantuin Mas Joko jaga stan

bincang buku Nai Kai & Rumah Tusuk Sate di Amsterdam

Pada sore hari sekitar pukul 16:00 (molor dari jadwal) ada bincang bukunya Mas Joss Wibisono yang berjudul “Nai Kai” dan “Rumah Tusuk Sate di Amsterdam”. Kedua novel tersebut berkisah tentang kehidupan minoritas di negara barat. Kebetulan yang jadi pembahasnya Pak Yusri Fajar, sekalian dong saya minta tanda tangan buat buku esainya beliau yang saya beli. Saya diketawain Mas Wawan yang tahu kalau saya cukup sering bertemu Pak Yusri tapi masih minta tanda tangan juga. Saya bilang ini bukan masalah sering ketemu atau nggak, tapi sebuah buku kalau ada tanda tangan penulisnya itu rasanya beda, B-E-D-A. Ye nggak? Oh ya, saya juga sempat bertemu Mas Eka Pocer yang jadi ketua panitia (kalau nggak salah ya?) Saya nggak menyangka Mas Eka inget saya, padahal sebelumnya belum pernah ketemu di dunia nyata. Pingin ngobrol agak banyak sih, tapi sepertinya orangnya sibuk, dan pas acara bincang buku mau mulai.
Selesai acara balik ngetem lagi di stan YOI, semakin sore semakin malam dan semakin banyak pengunjung, tahu-tahu sudah pukul 8 malam. Saya harus balik penginapan. Mas Joko menyuruh saya mampir lagi besok, kalau bisa, biar deseu ada temennya. Tapi besoknya ternyata kondisi saya ngedrop, kepala saya pusing, badan demam, tenggorokan seperti terbakar. Saya terpaksa pulang daripada nanti merepotkan orang.
***
Jadi, jika nanti Kampung Buku Jogja dan Malang Sejuta Buku diadakan lagi saya akan datang lagi? Untuk Kampung Buku Jogja, bergantung. Apakah ada perbaikan apa nggak. Kalau nggak dan lokasinya tetep di antah berantah yang nggak kejangkau Transjog ya…sepertinya nggak. Menurut saya kemarin seharusnya stan penjual makanan diletakkan di luar saja, di sepanjang pinggir jalan masuk, terus diberi tempat lesehan biar pembelinya nggak bingung nyari tempat duduk untuk makan. Stan-stan lain selain stan buku juga baiknya ditaruh sebelum pintu masuk, jadi di dalam ada tempat cukup lega untuk “bernapas” dan istirahat. Di area yang semi indoor baiknya juga dikasih kipas angin untuk membantu sirkulasi udara biar nggak engeb, biar nyaman juga milih-milih bukunya nggak berasa kayak dioven.
Kalau untuk Malang Sejuta Buku sudah oke sih, jadi insyaallah bakal datang lagi. Kekurangannya cuma satu: toiletnya jauh dan kotor. Kalau mau ke toilet musti keluar terus jalan muter ke belakang. Harusnya di dalam area pameran di bagian belakang yang lurus dengan toilet di buka sedikit untuk jalan ke toilet, jadi biar nggak jauh-jauh amat. Dua hari sebelum acara mungkin bisa kali ya toiletnya dibersihkan gitu, jadi nggak nemen-nemen banget kotor dan aromanya.

Menurut saya sih, acara pameran buku kayak gini harus lebih sering diadakan, jangan cuma setahun sekali, paling nggak setahun dua kali lah. Karena sesungguhnya manusia tak hanya butuh piknik rekreasi, tapi juga piknik literasi.

*foto diambil dari ig griyabukupelangi, ig Ragil Cahya Maulana, dan dokumentasi pribadi