Pada bulan Oktober 2017 ini saya
berkesempatan datang (sendirian) ke dua acara pameran buku. Yang pertama
Kampung Buku Jogja #3 dan yang kedua Malang Sejuta Buku “Ketemu Buku #2”. Kampung
Buku Jogja #3 digelar mulai tanggal 4-8 Oktober 2017, sedangkan Malang Sejuta
Buku “Ketemu Buku #2” diselenggarakan tanggal 19-25 Oktober 2017. Sebagai
pecinta buku yang sudah pasti akan kalap jika berada di pameran buku, dan
mengingat biaya akomodasi ke Yogyakarta dan Malang yang tidak sedikit, saya
berhemat sejak jauh-jauh hari demi bisa datang ke kedua acara tersebut. Sungguh
pengorbanan yang berat, karena di bulan September banyak sekali acara yang
terpaksa saya lewatkan untuk berhemat. Sebagai pecinta buku, kurang militan
gimana coba pengorbanan saya? Cinta memang butuh pengorbanan.
Kampung Buku Jogja #3
Saya berangkat jam 7 pagi dari Maospati ke
Yogyakarta tanggal 4 Oktober pagi, karena tertulis di jadwal Kampung Buku Jogja
#3 (selanjutnya akan saya singkat dengan KBJ#3) bahwa acara akan dibuka pada
siang harinya pukul 12:30. Demi menghemat biaya perjalanan saya tidak naik
kereta, melainkan bus legendaris Sugeng Rahayu (diam-diam saya sudah jadi
penggemar bus ini). Cukup dengan Rp 29.000 saja saya bisa mendarat di Terminal
Giwangan, Yogyakarta.
Jam sudah menunjukkan pukul 12:00 saat
saya sampai di Yogyakarta. Sebenarnya homestay yang sudah saya pesan tak jauh
dari Giwangan, berada di daerah Wirosaban. Tetapi saya memutuskan untuk
langsung ke TKP Kampung Buku Jogja dikarenakan waktu sudah mepet dari jadwal
dan saya berpikir lebih baik tahu tempatnya dulu agar lebih enak jika ingin
kembali ke sana nanti. Toh, saya terlanjur bilang pada pihak homestay bahwa
saya akan check in sekitar pukul 3 sore.
Ini pertama kalinya saya sendirian ke
Jogja, pertama kalinya naik bus ke Jogja (biasanya naik kereta), pertama
kalinya saya menginjakkan kaki di Terminal Giwangan. Nekat. Iya, nekat, demi
cinta (halah). Yang terpikirkan begitu sampai Giwangan adalah nyari shelter
TransJogja. Di keterangan iklannya, KBJ #3 diadakan di Foodpark Taman
Kearifan-Kawasan Lembah UGM. Di mana itu? Embuh
ora eruh, yang jelas di UGM. Hahahahaha… Orang saya juga belum pernah ke
yu-ji-em sebelumnya. Saya lihat di google map memang ada yang namanya lembah
UGM, tapi nggak ada yang namanya Foodpark Taman Kearifan. Pikir saya mbuhlah yg penting nyampe yu-ji-em dulu.
Setelah bertanya ke petugas TransJog bus mana yang harus saya naiki agar sampai
UGM, meluncurlah saya ke sana. Ndilalah
eladhalah, lha kok diturunkan di daerah Jakal, di depan sekolah vokasinya
UGM. Saya lihat di google map, wah masih jauh sama yang namanya Lembah UGM. Matih kowe! Pupus sudah niat muliamu
menghemat akomodasi agar bisa beli buku lebih banyak. Pikir saya naik TransJog
Rp 3500 sudah bisa sampai daerah deket-deket lembah gitu, jalan dikit nggak
apa-apa demi berhemat supaya bisa beli lebih banyak buku. Mau nggak mau saya
pesen Gojek. Nah, kebingungan kedua adalah menentukan alamat tujuan. Jadi yang
namanya Lembah UGM ini dikelilingi beberapa jalan yaitu, Jalan Olahraga, Jalan
Fauna, dan Jalan Lembah UGM. Pertanyaannya: di manakah saya harus turun??
Sementara yang namanya Foodpark Taman Kearifan nggak ada di google map, jadi ya
sudah harus gambling, saya putuskan
turun di Jalan Lembah UGM karena katanya kan di kawasan Lembah UGM, ye nggak,
ye nggak? Bismillah…budhal dibonceng
abang Gojek.
Masuk kawasan UGM mendekati titik akhir
pengantaran, saya mulai panik. Nggak ada banner atau apalah-apalah yang
menunjukkan lagi ada acara anu di inu. Sebelumnya sih sepertinya melihat Mas
Irwan Bajang di depan warung gudegnya Yu Djum, pingin tanya sama bareng ke TKP
kalau boleh. Tapi karena belum pernah ketemu langsung, cuma tahu dari foto,
ragu juga itu Mas Irwan apa bukan. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti di
jajaran warung-warung di pinggir Jalan Lembah UGM karena saya pikir itu
foodpark dan nggak enak juga sama abang Gojek karena uda lewat titik
pengantaran di map. Errr..tapi kok warung-warungnya pada tutup ya? Saya lihat
sekeliling, nggak ada mahasiswa yang jalan kaki lewat situ. Maksudnya kalau ada
mau nanya gitu. Akhirnya saya putuskan saja buat jalan kaki sampai menemukan
lelaki berseragam yang bisa ditanyai.
Saya belum makan sejak pagi dan harus
jalan panas-panasan bawa satu ransel barang bawaan saya. Untung saya sangu air minum di botol taperwer. Long story short, setelah jalan kaki
sekitar 15 menit mengitari separuh lembah UGM dan bertanya dua kali pada bapak
satpam baik hati yang saya temui, akhirnya saya sampai di TKP Kampung Buku
Jogja #3. Saya masuk ke dalam lokasi, di dalam banyak sekali orang. Saya
berkeliling dan bersyukur melihat stan penjual makanan. Acara talkshow dengan
bintang tamu Seno Gumira Ajidarma sudah mulai, sayang seribu sayang, sound system-nya mengalami gangguan.
Orang-orang berjejal, saya tidak menemukan tempat yang layak untuk istirahat.
Karena capek, kelaparan, dan kepanasan, saya memilih duduk di stan makanan,
menikmati seporsi lotek dan segelas es jeruk sambil mendengarkan suara SGA yang
timbul tenggelam dan kadang-kadang seperti tercekik. Sedih kenapa panitia tidak
mempunyai plan B untuk mengantisipasi hal seperti ini.
Tiba pada saat sesi tanya jawab, saya
sebenarnya pingin bertanya. Tetapi dikarenakan saya datang terlambat dan suara
SGA yang timbul tenggelam, saya ndak
tahu apa yang beliau bicarakan tadi, jadi bingung mau tanya apa. Hehehehehe…
Judulnya sih “Sastra dan Jurnalisme” tapi menurut saya yang bertanya malah pada
OOT, bertanya tentang buku-buku SGA. Kalau sesuai judul kan mustinya
pertanyaannya kan tentang sastra dan kaitannya dengan jurnalisme. Apakah tadi topik
yang dibicarakan sudah ganti atau karena sound
system yang payah makanya pada paham-nggak paham dan yang penting bertanya
walau nggak sesuai tema. Wallahu’alam.
Saya memutuskan ngider sebentar, melihat
tempat buku-buku dipamerkan. Jadi yang buat pameran buku itu tempatnya semi
indoor, aslinya 2 lantai tapi lantai dua sedang direnovasi sehingga tidak bisa
dipakai (di atas ada tukang-tukang). Tepat sebelum masuk area pameran buku, ada
stan rokok kretek yang memajang tulisan “boleh ngrokok di sini”, saya sesali
kenapa stannya ditaruh situ, kok ndak di pojokan dekat musholla atau di mana
gitu. Di dalam area pameran panas sekali, tidak disediakan kipas angin, dan
sempit. Nggak bisa nyaman milih-milih buku karena bersenggolan dengan
pengunjung lain yang berpapasan. Bisa dibayangkan kalau dalam kondisi seperti
itu ada yang merokok? Saya langsung teringat beberapa baju saya yang bolong
karena tersundut rokoknya orang saat di keramaian. Saya hanya berkeliling
sebentar untuk melihat buku apa saja di dalam, nggak usah tanya, banyak buku yang
pasti bagus-bagus dan mengancam dompet. Hari itu saya belum beli buku karena
uang tunai yang saya bawa ngepres, belum ke ATM dan harus dipakai untuk
membayar homestay (booking dulu, pay later).
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul
14:30, saya harus ke homestay. Karena lokasinya di antah berantah dan nggak ada
kendaraan umum plus capeeeek, saya balik naik Gojek. Pas keluar dari lokasi
saya baru ngeh bahwa foodpark ini berada di depan fakultas hukum, sebelahnya
lagi fakultas psikologi. Coba gitu ya pas iklan dikasih tahu lokasinya di depan
fakultas hukum, mungkin saya tidak akan seterlunta-lunta ini. Halah. Dari
lokasi KBJ #3 ke homestay saya naik Gojek habis Rp 17.000. Dalam hati saya
menangys, kalau misal tiap hari saya PP homestay-KBJ habis berapa itu? Kan
lumayan sekali PP bisa buat beli satu buku. Hiks… coba aksesnya mudah dan
terjangkau TransJogja kan lumayan kalau PP cuma habis Rp 7.000. Akibatnya, saya
jadi males mau balik lagi ke KBJ.
![]() |
| ingin kumenyapa Bang Saut, tetapi aku malu |
Saya baru balik ke KBJ besok lusanya,
tanggal 6 Oktober 2017 dikarenakan ada orasi-nya Bang Saut dan bincang bukunya
Umar Kayam. Hari itu tetap ramai, tapi tidak seramai hari pertama. Saya sudah
mengambil fresh money di ATM dan
membeli beberapa buku. Selesai acara bincang bukunya Umar Kayam, karena nggak
ada tempat istirahat, saya ndeprok
saja di bawah pohon yang tumbuh di pedestrian di depan lokasi Kampung Buku
Jogja sambil menikmati musikalisasi puisinya Bang Saut oleh Han Farhani.
Setelah itu saya pulang ke homestay, nggak balik lagi ke KBJ sampai acara
selesai pada tanggal 8 Oktober mengingat biaya PP ke KBJ yang lumayan dan
sejujurnya saya tidak merasa nyaman di sana.
Malang Sejuta Buku
“Ketemu Buku #2”
Sehabis dari Jogja, saya cuss ke Malang.
Kota di mana udara serasa mampat oleh kenangan (eaaaaa….). Lha gimana nggak je,
6 tahun saya tinggal di kota ini. Kota yang berhasil membuat saya jatuh cinta, nggak
terganti sampai sekarang. Oke, cukup. Acara Malang Sejuta Buku (selanjutnya
saya singkat MSB) ini diadakan di Taman Krida Budaya di Jalan Soekarno-Hatta.
Karena saya pernah tinggal di sini, tidak ada kesulitan berarti dalam hal
menemukan lokasi. Taman Krida Budaya ini biasanya digunakan sebagai tempat
perhelatan ludruk. Saya kurang tahu apa sebelumnya MSB diadakan di sini, tapi
biasanya pameran buku di Malang diadakan di perpustakaan kota, atau di gedung
skodam, dan pernah sekali di daerah dekat MOG. Taman Krida Budaya ini dapat
dicapai dengan mudah, bisa dijangkau dengan naik angkot dan dekat ke mana-mana.
Saya datang ke MSB pas hari pertama pada
tanggal 19 Oktober 2017, sekitar pukul 10 atau 11. Sengaja, karena pasti
stoknya masih lengkap dan banyak. Pas saya datang suasana masih belum ramai. Begitu
masuk, di halaman venue terdapat tempat khusus untuk acara-acara yang akan
digelar: ada panggung, kursi untuk duduk, dan tak lupa terob untuk melindungi
dari panas dan hujan. Pengunjung bisa menggunakan tempat ini untuk beristirahat
setelah capek muter-muter mencari buku. Atau mungkin pengunjung yang datang
dari luar kota dan langsung ke lokasi bisa leyeh-leyeh
dulu di sini. Lalu juga terdapat jajaran stan penjual makanan, snack, dan
minuman. Jadi di dalam Taman Krida (seperti rumah joglo besar) dikhususkan
hanya untuk tempat pameran buku. Stan panitia dan tempat workshop diletakkan
tepat sebelum pintu masuk, jadi memudahkan pengunjung yang mungkin butuh
informasi.
Kalau saya amati, panitia sengaja
mendesain beberapa sudut di MSB ini agar intagrammable
untuk mengakomodasi hasrat jeprat-jepret people zaman now. Jadi setelah gerbang
masuk ada lukisan besar gitu, bisa buat foto-foto. Di atas pintu masuk menuju
area pameran buku juga digantung kursi plastik yang dihias sedemikian rupa dan
ada tulisannya, sedang di atas panggung dihias memakai beberapa kursi kayu yang
digantung dan ada tulisannya juga. Hmmm..saya sempat mbatin, kenapa pakai kursi. Coba pakai lampion, atau tulisannya
dari cat fosfor, jadi artistik juga kan kalau malam. Tapi saya nggak foto-foto sih.
Saya langsung menuju stan Penerbit Basabasi,
mencari Mas Reza Nufa dan Mas Wawan Esideika. Setelah membeli beberapa buku,
lalu saya muter-muter ke stan lain. Karena tempatnya luas, nyaman nggak kayak
pasar senggol pas milih-milih buku. Puas muter-muter dan uang sudah habis, saya
baru sadar di depan stan Basabasi adalah stan Yayasan Obor Indonesia, dan yang
jaga adalah Mas Joko. Sekitar 5 atau 6 tahun lalu adalah perkenalan saya dengan
Mas Joko, di pameran buku juga. Lama nggak ketemu, eh, ternyata orangnya masih
ingat sama saya. Akhirnya saya ngetem di stan YOI seharian, nemenin Mas Joko
yang jaga stan sendirian. Uprus ngalor
ngidul sama Mas Joko, sedikit nggosip juga. Hahahahaha…
![]() |
| bantuin Mas Joko jaga stan |
![]() |
| bincang buku Nai Kai & Rumah Tusuk Sate di Amsterdam |
Pada sore hari sekitar pukul 16:00
(molor dari jadwal) ada bincang bukunya Mas Joss Wibisono yang berjudul “Nai
Kai” dan “Rumah Tusuk Sate di Amsterdam”. Kedua novel tersebut berkisah tentang
kehidupan minoritas di negara barat. Kebetulan yang jadi pembahasnya Pak Yusri
Fajar, sekalian dong saya minta tanda tangan buat buku esainya beliau yang saya
beli. Saya diketawain Mas Wawan yang tahu kalau saya cukup sering bertemu Pak
Yusri tapi masih minta tanda tangan juga. Saya bilang ini bukan masalah sering
ketemu atau nggak, tapi sebuah buku kalau ada tanda tangan penulisnya itu
rasanya beda, B-E-D-A. Ye nggak? Oh ya, saya juga sempat bertemu Mas Eka Pocer
yang jadi ketua panitia (kalau nggak salah ya?) Saya nggak menyangka Mas Eka inget
saya, padahal sebelumnya belum pernah ketemu di dunia nyata. Pingin ngobrol
agak banyak sih, tapi sepertinya orangnya sibuk, dan pas acara bincang buku mau
mulai.
Selesai acara balik ngetem lagi di stan
YOI, semakin sore semakin malam dan semakin banyak pengunjung, tahu-tahu sudah
pukul 8 malam. Saya harus balik penginapan. Mas Joko menyuruh saya mampir lagi
besok, kalau bisa, biar deseu ada temennya. Tapi besoknya ternyata kondisi saya
ngedrop, kepala saya pusing, badan demam, tenggorokan seperti terbakar. Saya
terpaksa pulang daripada nanti merepotkan orang.
***
Jadi, jika nanti Kampung Buku Jogja dan
Malang Sejuta Buku diadakan lagi saya akan datang lagi? Untuk Kampung Buku
Jogja, bergantung. Apakah ada perbaikan apa nggak. Kalau nggak dan lokasinya
tetep di antah berantah yang nggak kejangkau Transjog ya…sepertinya nggak.
Menurut saya kemarin seharusnya stan penjual makanan diletakkan di luar saja,
di sepanjang pinggir jalan masuk, terus diberi tempat lesehan biar pembelinya
nggak bingung nyari tempat duduk untuk makan. Stan-stan lain selain stan buku
juga baiknya ditaruh sebelum pintu masuk, jadi di dalam ada tempat cukup lega
untuk “bernapas” dan istirahat. Di area yang semi indoor baiknya juga dikasih
kipas angin untuk membantu sirkulasi udara biar nggak engeb, biar nyaman juga
milih-milih bukunya nggak berasa kayak dioven.
Kalau untuk Malang Sejuta Buku sudah oke
sih, jadi insyaallah bakal datang lagi. Kekurangannya cuma satu: toiletnya jauh
dan kotor. Kalau mau ke toilet musti keluar terus jalan muter ke belakang.
Harusnya di dalam area pameran di bagian belakang yang lurus dengan toilet di
buka sedikit untuk jalan ke toilet, jadi biar nggak jauh-jauh amat. Dua hari
sebelum acara mungkin bisa kali ya toiletnya dibersihkan gitu, jadi nggak
nemen-nemen banget kotor dan aromanya.
Menurut saya sih, acara pameran buku
kayak gini harus lebih sering diadakan, jangan cuma setahun sekali, paling
nggak setahun dua kali lah. Karena sesungguhnya manusia tak hanya butuh piknik
rekreasi, tapi juga piknik literasi.
*foto diambil dari ig griyabukupelangi, ig Ragil Cahya Maulana, dan dokumentasi pribadi








eh, baru tahu kalau mbak dian ngeblog.
BalasHapussudah lama vakum, pak. ini bangkit dari mati suri. hehe
Hapus