Minggu, 01 November 2015

JAM TANGAN RANI HILANG (drama anak-anak)



Rani adalah anak yang manja dan pemalas. Segala keinginannya harus segera dipenuhi saat itu juga. Jika keinginannya tidak terpenuhi, maka ia akan ngambek. Ia adalah putri tunggal pasangan Bapak dan Ibu Rahmat. Pada suatu sore, terdengar ketukan di kamar Rani.

Rani                 : (sedang membaca komik sambil tengkurap di atas kasur) “Siapa?”
Bu Rahmat      : (membuka pintu) “Kamu nggak belajar, Ran?”
Rani                 : “Oh, Mama. Males, Ma. Masak belajar terus, kapan seneng-senengnya.”
Rani                 : “Eh, Ma, belikan Rani jam tangan dong!” (meletakkan komiknya, merajuk)
Bu Rahmat        : (duduk di pinggir ranjang) “Lho, bukannya bulan kemarin kamu baru Mama belikan jam baru? Lagipula jam tangan kamu kan sudah banyak, mau diapakan?”
Rani                  : “Pokoknya Rani mau yang baru! Yang lama buang saja! Rani sudah bosan dengan jam tangan yang lama, Ma. Kan sebentar lagi Rani ulang tahun.”
Bu Rahmat        : “Rani, kebutuhan kamu masih banyak. Kamu harus belajar berhemat. Jam tangan kan harganya juga nggak murah, Sayang!”
Rani                  : “Ah, Mama, pelit ah. Pokoknya Rani minta jam tangan baru!” (keluar kamar dan membanting pintu kamarnya)
Bu Rahmat        : (menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sifat Rani yang belum juga berubah)
Bu Rahmat mengeluarkan handphone kemudian menelepon Pak Rahmat.
Bu Rahmat        : “Halo, Papa? Papa sedang sibuk nggak, Pa?”
Pak Rahmat(suara): “Nggak, ini Papa baru aja selesai meeting kok. Ada apa, Ma?”
Bu Rahmat        : “Ini lho, Pa, Rani… Dia minta jam tangan baru lagi. Katanya sebagai hadiah ulang tahun. Hhh… Mama bingung, Rani belum berubah juga, malas, manja. Kamarnya aja super kotor dan berantakan, Pa. Nggak mau memebersihkan lagi.”
Pak Rahmat(suara): “Ya, sudahlah, Ma. Namanya juga anak satu-satunya. Sabar, Ma. Nanti kita belikan saja jam tangannya, kan sebentar lagi Rani ulang tahun.”
Bu Rahmat        : “Iya, tapi jam tangan Rani itu sudah banyak, Pa. kebutuhan Rani yang lain, yang lebih penting, juga masih banyak, Pa. Rani itu kapan bisa mengerti ya… padahal sudah beranjak ABG… “
Pak Rahmat(suara): “Oke. Nanti biar papa pulang cepet, urusan di kantor sudah selesai kok. Nanti Rani ada les piano kan? Nah, nanti papa jemput mama waktu Rani les aja, biar nanti jadi surprise buat Rani.”
Bu Rahmat        : “Mama tunggu lho, Pa.” (menghela nafas)
***
Hari ulang tahun Rani. Sore. Sepulang Rani les piano. Terdengar ketukan di kamar Rani.

Bu Rahmat dan Pak Rahmat: “Selamat ulang tahun, Sayang.”
Rani                 : “ Mama… Papa…” (terkejut)
Pak Rahmat      : “ Yes! Lihat, Ma, kejutan kita berhasil. Ayo Ran, tiup lilinnya.” (menyodorkan kue tart dengan lilin angka 12)
Rani                  : (meniup lilin)
Pak Rahmat      : “Nah, ini kado untuk Rani. Sesuai permintaan Rani. Mana, Ma, kadonya?”
Bu Rahmat        : (memberikan bungkusan kado)
Rani                  : (membuka kado dengan gembira, ternyata isinya jam tangan model terbaru dari merk ternama. Jam tangan itu berwarna merah muda dan bergambar Mini Mouse, tokoh kartun kesukaannya) “Waaaaaahhhh… Makasih, Pa, Ma!” (berbinar-binar)
Pak Rahmat      : “Rani suka?”
Rani                  : (mengangguk kuat-kuat sambil tersenyum)
Pak Rahmat      : “Syukurlah kalau begitu.”
Bu Rahmat        : “Ya sudah. Ayo, Pa. Kuenya mama bawa ke ruang makan ya. Kalau dimakan di sini nanti bikin semut-semut berdatangan. Rani, mama tunggu di ruang makan ya.”

Pak Rahmat dan Bu Rahmat keluar dari kamar Rani.

Rani                 : (memakai jam tangannya) “Besok aku pamerin ke anak-anak di sekolah deh, pasti mereka pada iri dengan jam tangan baruku ini.”
Rani pun menyanyi.

Lihatlah jam tangan baruku
Jam model terbaru
Ada Minnie mouse dan warnanya pink lucu
Lihatlah jam tangan baruku
Ini merk terkenal dan harganya mahal

***
Dua minggu kemudian. Pulang sekolah, Rani melepas jam tangannya dan meletakkannya begitu saja di meja belajarnya bercampur dengan tumpukan komik. Tiba-tiba Rani mendengar pintu kamarnya diketuk, kemudian Mama masuk ke kamarnya.

Bu Rahmat        : “Rani, ayo makan siang dulu.” (perhatian Mama beralih pada keadaan kamar Rani)
Kamar Rani sangat kotor dan berantakan. Sepatunya diletakkan begitu saja di bawah meja. Bajunya juga ditaruh sembarangan di kursi. Di lantai berserakan majalah dan bekas pembungkus makanan ringan.

Bu Rahmat        : “Ya ampun Rani, kamar kamu berantakan banget! Lihat, bahkan kamu tidak menyimpan dengan baik jam tangan baru kamu. Bukankah Mama sudah menyediakan kotak khusus untuk menyimpan jam tangan kamu?”
Rani                  : “Ah, males Ma, biar di situ saja deh. Kan jadi lebih enak mengambilnya.”
Bu Rahmat        : “Ayo, setelah makan siang rapikan kamarmu!”
Rani                  : “Rani malas, Ma. Nanti biar dibereskan Bi Inah aja! Bi Inah kan pembantu di rumah kita.”
Bu Rahmat        :“Masak kamu nunggu Bi Inah yang merapikan? Bi Nah kan lagi mudik selama seminggu! Rani, ini kan kamar kamu dan kamu sudah besar. Kamu harus bertanggung jawab dengan kerapian kamarmu sendiri.” (mengelus bahu Rani)
Rani                  : “Pokoknya nanti biar dibereskan Bi Inah aja kalau sudah balik ke sini! Kan Bi Inah digaji buat itu juga kan.” (keluar kamar menuju ruang makan)
Bu Rahmat        : (menggeleng-gelengkan kepala melihat ulah Rani sambil mengikuti Rani ke ruang makan).
***
Besoknya ketika akan berangkat sekolah, Rani kebingungan mencari jam tangan barunya.

Rani                 : “Ma, lihat jam tangan baru Rani nggak?”(Rani berteriak dari kamar)
Bu Rahmat        : “Lho, bukannya kemarin Mama lihat kamu menaruhnya di meja?” (datang ke kamar Rani)
Rani                  : “Nggak ada Ma. Rani juga ingat kemarin Rani taruh di atas meja, tapi sekarang nggak ada.”(putus asa)
Bu Rahmat        : “Sudah, cepat berangkat sekolah sana. sudah ditunggu Papa dari tadi tuh! Sudah siang. Nanti kamu terlambat ke sekolah!” (melihat jam dinding)
Rani                  : “Tapi Ma...”
Bu Rahmat        : “Makanya rapikan kamarmu. Sekarang salah siapa juga kalau jam tangan kamu hilang.”

Akhirnya Rani berangkat sekolah dengan cemberut.
***
Malam harinya, saat makan malam, Mama menanyai Rani.

Bu Rahmat      : “Sudah ketemu jam tangannya?”
Rani                 : (menggeleng)
Bu Rahmat      : “Kamarmu sudah kamu rapikan?”
Rani                 : (menggeleng lagi)
Bu Rahmat      : (diam saja mengetahui jawaban Rani, meneruskan makan)
***
Setelah selesai makan malam, bukannya belajar atau merapikan kamarnya, Rani malah langsung bersiap tidur. Ia masih kesal karena jam tangannya hilang. Ia juga kesal karena Bi Inah belum kembali juga sehingga ia diomeli Mama karena kamarnya berantakan.

Rani                  : “Mama itu, sudah tahu jam tanganku hilang bukannya bantuin nyari malah ngomel aja. Bi Inah juga, mudik nggak balik-balik, aku jadi dimarahin Mama kan. Dasar pembantu nggak berguna!”(tidur dengan perasaan kesal)

Tengah malam Rani terbangun karena mendengar suara berisik di kamarnya. Rani mengucek-ngucek matanya. Alangkah terkejutnya Rani karena ia melihat benda-benda miliknya hidup. Benda-benda itu memandang Rani dan mereka tampak marah.

Rani                 : “Apa-apaan ini? Kenapa kalian bisa hidup?” (terkejut campur takut)
Jam Weker        :“Rani! Beberapa hari ini kamu sudah menelantarkan kami! Kamu tidak merawat kami dengan baik dan menaruh kami sembarangan! Lihat, sampai baju si Komik kucel seperti itu!”
Rani                  : (memandang ngeri sambil memeluk bantal)
Jam Tangan      : “Kamu juga tidak merawatku Rani!”
Rani                  : “Jam tanganku, kamu kemana saja? Aku mencari-carimu.”
Jam Tangan      : “Kamu menelantarkanku di atas meja hingga aku terjatuh dan tertimbun buku-buku dan majalah!” (marah)
Benda-benda(bersamaan) :“Sekarang kamu harus menerima balasan dari kami!” (berjalan mengelilingi Rani)
Rani                  : (sangat ketakutan)“Maafkan aku, aku janji akan merawat kalian baik-baik.” (mengiba)

Benda-benda mulai menyanyi, mengeliligi Rani yang ketakutan.

Si Rani anak nakal
Pemalas dan sangat manja
Ayo lekas diserbu
Jangan diberi ampun

Benda-benda    :“Dasar anak pemalas!” (tidak menghiraukan kata-kata Rani) “Terimalah balasan dari kami!” (bersama-sama menerjang ke tubuh Rani)
Rani                 : “Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkk....!!!” (berteriak ketakutan)
Bu Rahmat      : “Rani! Rani! Ada apa Ran?” (memanggil-manggil Rani)
Rani membuka matanya. Benda-benda miliknya yang semula hidup menghilang. Mama ada di depan Rani, memandangnya dengan tatapan khawatir.

Bu Rahmat      : “Kamu mimpi buruk, Sayang?”
Rani                 : “Rani mimpi, Ma?” (bingung)
Bu Rahmat      : “Iya, Mama dengar kamu teriak-teriak, Rani.”

Rani teringat jam tangan barunya. Dia langsung memeriksa di bawah meja belajrnya. Benar,  jam tangan barunya ada di sana, tertimbun tumpukan buku-buku. Rani mengambilnya dan langsung menyimpannya di kotak yang khusus menyimpan jam tangannya.

Rani                  : “Maafkan Rani, Ma. Rani janji besok Rani akan membersihkan kamar Rani.” ( memeluk Mama. Rani menangis)
Bu Rahmat        : “Iya. Nah, begitu dong. Itu baru anak Mama yang cantik dan rajin.” (membelai rambut Rani)

Sejak saat itu Rani menjadi anak yang baik dan rajin.

***TAMAT***

4 komentar:

  1. jadi inget cerita2 di majalah Bobo. sederhana tapi sarat makna :)

    BalasHapus
  2. Bagus buat materi dongeng sebelum bobok.. lanjutkan

    BalasHapus
  3. Bagus buat materi dongeng sebelum bobok.. lanjutkan

    BalasHapus