Aku
ingin bisa merasakan kebahagiaan, walau hanya dalam mimpi atau khayalan semata.
Aku kembali teringat kata-kata yang pernah kau
ucapkan itu. Aku tak menyangka, akhirnya akan jadi begini.
***
Aku menyodorkan selembar kertas kumal kepadamu.
“Apa ini?” kamu memandangnya sambil mengernyit
sebentar, kemudian paham dan menerimanya.
Selembar kertas kumal itu berisi tulisanku,
ceritaku. Kau selalu bilang bahwa pemulung (terlebih tidak berpendidikan tinggi)
sepertiku tidak pantas sok jadi penulis. Tapi apa mau dikata, sejak kecil aku
sudah gemar membaca, dan dari situlah aku terdorong untuk belajar menjadi
penulis. Meskipun kau selalu mencemoohku, tapi kau selalu tak berkeberatan
menjadi pembaca pertama tulisanku yang memang hanya kutunjukkan padamu.
“Bagaimana?” tanyaku tak sabar.
“Sebentar…aku belum selesai baca.”
Aku menunggu.
“Ah…, kenapa kamu selalu membuat cerita yang
berakhir sedih sih?” tanyamu begitu selesai membaca.
“Aku kurang suka akhir bahagia, happy ending. Bukankah hidup kita juga susah, begini-begini saja?”
jawabku.
“Justru itu. Karena hidup kita susah makanya buatlah
cerita yang…apa katamu tadi? Hepi ending?”
Aku mengangguk.
“Ya, itu. Buatlah cerita yang hepi ending itu, yang
berakhir bahagia. Paling tidak kita bisa ikut merasa bahagia saat membacanya.
Apa kau tak ingin bahagia?” kamu meneruskan ucapanmu.
Aku masih diam. Berpikir. Mencerna kalimatnya dan
bertanya pada diriku sendiri.
“Aku ingin bisa merasakan kebahagiaan, walau hanya
dalam mimpi atau khayalan semata.” katamu lirih.
Aku memandang wajahmu. Sendu. Matamu menerawang.
“Masak kau tak pernah merasa bahagia?” tanyaku
sedikit heran.
“Entahlah, mungkin dulu pernah, ketika aku belum
mampu mengingat. Kau tahu sendirilah bagaimana hidupku…” jawabmu sedih.
Ya, kalau dipikir-pikir walau sama-sama miskin, tapi
hidupku sedikit lebih beruntung daripada hidupmu. Aku masih punya orang tua
yang menyayangiku dan seorang adik. Aku masih punya keluarga. Aku punya rumah
untuk pulang (sebenarnya lebih pantas disebut gubug reot daripada rumah). Sedangkan
kau? Kau selalu bilang sebatang kara walau sebenarnya kau juga masih punya
orang tua. Kau kabur dari rumah, meninggalkan mereka ketika usiamu delapan
tahun karena mereka memaksamu untuk mengemis dan sering memukulimu, menyiksamu
tanpa alasan yang jelas. Kamu memilih menganggap mereka tak ada, membunuh
mereka dari ingatanmu. Menghapus mereka dari hidupmu. Lalu kamu memutuskan jadi
pemulung untuk bertahan hidup, kemudian kita bertemu dan bersahabat hingga saat
ini. Dulu kamu tidur di mana saja, di emperan toko, halte bus, terminal,
stasiun. Sampai akhirnya kau membangun rumah kardus mungil di tepi rel kereta
untuk tempat tinggalmu.
“Sabarlah, kawan.” aku mengusap punggungmu.
Kamu tersenyum.
“Kau tahu? Aku tak pernah mimpi indah. Kau pernah?
Bagaimana rasanya?” katamu tiba-tiba.
“Ah, mana mungkin kau tak pernah mimpi indah?” aku
terkejut.
“Ya, belum pernah mimpi indah. Aku selalu bermimpi
buruk.”
“Kau serius?”
“Ya. Makanya aku ingin merasakan bagimana mimpi
indah itu. Mimpi yang bisa membuatku merasa senang, bahagia. Mimpi yang
sempurna.”
Kita tenggelam dalam pikiran kita masing-masing. Aku
tak bisa membayangkan bagaimana orang yang selalu bermimpi buruk, tak pernah
bermimpi indah.
***
Pengakuanmu membuatku berpikir. Sungguh, seandainya
bisa, aku ingin mewujudkan keinginanmu itu. Apalagi sebentar lagi hari ulang
tahunmu yang ke-tujuh belas. Sebuah mimpi indah akan menjadi kado yang sempurna
di hari ulang tahunmu. Tapi, bagaimana caranya? Bukankah mimpi itu bunga tidur?
Apakah kita bisa mengendalikannya?
Aku mendapat sedikit pencerahan ketika secara tak
sengaja aku membaca yang kau alami sehingga kau tak pernah mengalami mimpi
indah? Sekarang aku harus mulai mencari cara agar kau bisa mendapat mimpi indah.
sebuah artikel di sebuah majalah bekas yang kupulung. Artikel itu membahas
mengenai mekanisme mimpi. Memang benar, mimpi adalah perwujudan pikiran alam
bawah sadar kita. Sesuatu yang kita
pikirkan terus menerus bisa menjelma menjadi mimpi. Ah, kawan, sebegitu
dalamkah trauma
“Apa yang membuatmu merasa senang?” tanyaku padamu keesokan
harinya, ketika kita beristirahat bersama di bawah pohon randu tak jauh dari
TPA. Kamu mengipas-ngipaskan topi kumalmu. Bukan untuk mengusir bau tak sedap tumpukan
sampah yang sudah sedemikian akrab, namun untuk mengusir peluh yang meleleh
akibat sengatan matahari yang saat itu tepat di atas ubun-ubun kita.
“Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?” kamu
merasa sedikit aneh.
“Dengar, kawan, kemarin aku membaca artikel mengenai
mekanisme mimpi. Berdasarkan artikel tersebut menurutku kau harus merasa
senang, agar rasa senangmu itu mengendap di bawah sadarmu kemudian menjelma
menjadi mimpi indah,” jelasku padamu.
Kamu diam, aku menjadi sedikit takut jika ternyata
kamu sudah kehilangan keinginanmu itu.
“Kamu masih ingin merasakan mimpi indah kan?”
tanyaku takut-takut. “Aku ingin memberikan sebuah mimpi indah untuk hadiah
ulang tahunmu … “ sambungku lirih.
“Ya!” kamu menjawab. “Aku ingin mimpi indah. Tolong
bantu aku mewujudkannya. Apa kau mau?”
Aku mengangguk cepat dengan mata berbinar.
“Kita mulai dari mana?” tanyamu.
“Apa yang membuatmu senang?”
“Hmmm…baiklah. Kalau begitu kita akan mandi di
sungai, membeli gulali, makan es krim coklat, memandangi bintang, dan berlarian
di padang bunga,” katamu.
“Baiklah. Ayo kita lakukan!” aku bersemangat. Aku
tak menyangka, hal-hal sederhana sudah bisa membuatmu senang.
Sesorean itu kita bersenang-senang. Aku senang
melihatmu tertawa lepas saat kita berlarian di padang bunga.
“Kau senang?” tanyaku. Kita sedang
berbaring-baring di padang bunga. Bulan
sudah menggusur matahari sejak satu jam lalu, dan kini langit tampak semarak
dihiasi gemintang. Venus sang Dewi Cinta tampak begitu genit mengedip-ngedipkan
matanya menggoda sang rembulan.
“Ya.”
“Semoga nanti kamu sudah bisa mimpi indah….“
“Semoga….”
***
“Bagaimana? Apa kau mimpi indah semalam?” Sejak saat
itu selalu pertanyaan itu yang pertama kau lontarkan padaku setiap kita
bertemu, dan dengan berat hati aku menggeleng.
Sungguh, kawan, aku tak sampai hati melihat
kesedihan merundung wajahmu ketika aku belum juga bermimpi indah. Aku didera
rasa bersalah. Kau mati-matian berusaha membuatku bermimpi indah, namun aku tak
kunjung bermimpi indah. Sudah dua minggu ini kita melakukan hal-hal yang menyenangkan,
yang membuatku senang.
“Baiklah, kalau begitu besok kita coba lagi, ya?”
kamu selalu menguatkanku. Tak lupa sebuah senyum menghiasi bibirmu. Entah dari
mana kamu mendapat energi sebesar itu. Terkadang aku iri padamu, kamu adalah
orang yang bersemangat dan mampu menularkan semangat itu padaku. Meskipun aku
sering mengolok-ngolokmu, mengolok-ngolok kegemaran menulismu. Tapi kamu selalu
baik padaku, tetap baik padaku. Kau tahu? Aku bahagia mempunyai sahabat seperti
dirimu. Sahabat sebaik kamu.
Malam ini aku merasa sedikit lelah setelah seharian
melakukan hal-hal yang menyenangkan. Dadaku terasa agak nyeri dan sesak.
Mungkin karena aku kelelahan. Aku sudah beberapa kali mengalami hal seperti
ini. Biasanya rasa sesak dan nyeri ini akan hilang sendiri setelah aku
beristirahat. Maka aku meneguk segelas air putih kemudian segera berbaring di
kardus yang kujadikan alas tidur. Menarik sarung kumal satu-satunya milikku
menutupi tubuhku yang sedikit menggigil digigit dinginnya udara malam. Besok
adalah hari ulang tahunku. Aku berdoa agar malam ini aku bermimpi indah. Aku mengingat-ingat
hal menyenangkan yang kita lakukan hari ini. Ada rasa senang menyelinap dalam dadaku,
terlebih ketika kita tertawa bersama-sama. Pelan-pelan mataku pun terpejam.
Aku merasa ada sinar yang terang menerangi rumah
kardusku. Apa itu? Aku membuka mata pelan-pelan. Mulanya sinar itu menyilaukan,
tapi lama-lama aku bisa melihat sesuatu yang memancarkan sinar itu. Seekor kuda,
tepat di depan rumah kardusku. Tapi bukan kuda biasa. Kuda itu berwarna putih
bersih, bersayap, dan mempunyai sebuah tanduk di kepalanya. Bulunya tampak
begitu halus dan memendarkan cahaya putih lembut. Sangat indah. Aku ternganga.
Itu makhluk yang pernah kulihat dalam buku dongeng bekas, milikmu. Aku begitu terpesona
saat itu. Unicorn. Ya, aku ingat, katamu nama kuda itu unicorn. Aku pernah
berkata padamu bahwa jika unicorn benar-benar ada aku ingin keliling dunia naik
unicorn dan kamu menertawakanku karena keinginanku terdengar konyol. Kau bilang
kalau unicorn hanya ada dalam dongeng.
Tapi sekarang kuda itu benar-benar ada. Di depanku.
Di depan mata kepalaku sendiri. Aku
mengucek-ngucek mata, tak percaya. Barangkali ini cuma mimpi. Mimpi indah,
tentunya. Tapi unicorn itu nyata. Unicorn itu tampak jinak. Akupun bangun dan
mendekatinya, mengelusnya, membelai surainya yang berkilau keperakan. Unicorn
itu merendahkan tubuhnya, sepertinya ia ingin aku naik ke punggungnya. Ragu,
aku menaiki punggungnya. Seketika unicorn itu berdiri, merentangkan sayapnya,
kemudian menjejakkan kakinya sebelum melesat terbang ke angkasa. Aku yang kaget
memejamkan mata seraya memeluk erat-erat lehernya. Udara semilir terasa menerpa
rambutku, pelan-pelan akupun membuka mataku.
Wow! Aku terbang! Naik unicorn! Persis seperti
keinginanku dulu. Si unicorn terbang dengan tenang. Bintang-bintang dan bulan
tampak lebih dekat, seolah aku bisa meraihnya dengan tanganku. Di bawah sana,
lampu-lampu kota tampak begitu indah. Aku tertegun, menikmati semua keindahan
ini. Lalu aku pun teringat padamu, aku ingin menunjukkan unicorn ini padamu.
Kau juga pasti akan sama denganku, terkagum-kagum. Aku tak tahu apakah unicorn
bisa mengerti bahasa manusia, tapi pikirku tak ada salahnya dicoba.
“Hei….”aku menepuk lembut punggungnya. “Kau tahu
rumah Re? Dia sahabat terbaikku. Apa kau bisa mengantarkanku ke sana, ke
rumahnya?” tanyaku.
Tampaknya unicorn ini mengerti perkataanku karena
serta merta ia mengurangi ketinggian terbangnya, menukik lembut ke sebuah arah,
ke sebuah titik: rumahmu. Aku tidak tahu, tapi malam ini rumahmu berubah
transparan. Aku bisa melihatmu tidur sangat lelap, berdesakan dengan
bapak-ibumu dan adikmu di atas kasur butut yang terhampar di lantai. Kamu
tampak lelah. Aku jadi tak tega membangunkanmu, dan memutuskan mengurungkan
niatku.
“Ayo kita pergi. Kau akan mengajakku ke mana lagi?”
tanyaku pada si unicorn.
Sekali lagi si unicorn menjejakkan kakinya dan
melesat terbang ke arah rembulan. Tiba-tiba ada sebuah cahaya kuning hangat
menyilaukan, dan setelah kami(aku dan unicorn) melewati cahaya tersebut, aku
sampai di sebuah tempat yang sangat indah. Tempat terindah yang pernah ada,
bahkan kekata tak kan mampu untuk menggambarkannya.
“Di mana ini? Tempat apa ini?”
Aku tahu pertanyaanku tak butuh jawaban. Aku pun
tahu aku tak ingin ingin pergi dari tempat ini, tak ingin kembali.
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, tapi aku
belum juga melihatmu. Di mana kamu, Go? Hari ini ulang tahunmu yang ke-tujuh
belas. Aku penasaran apakah kau sudah bermimpi indah atau belum karena aku tak
bisa memberikan apa-apa lagi sebagai kado untukmu. Perasaanku tidak enak,
semalam sepertinya aku bermimpi kau mendatangiku. Entahlah, aku sudah tak
begitu ingat. Akhirnya kuputuskan untuk mendatangi rumahmu.
Sesampai di rumahmu, tampak banyak orang yang
berkerumun. Firasatku tak enak. Aku segera berlari menuju kerumunan orang di
rumahmu.
“Ada apa, Pak?” tanyaku pada seorang bapak berbaju
kumal warna kuning. Ada sebuah peluit yang menggantung di lehernya. Tampaknya
ia bekerja sebagai tukang parkir.
“Ada orang meninggal. Sepertinya sudah sejak
semalam, tapi baru diketahui tadi pagi,” jelas bapak tersebut.
Aku menyeruak kerumunan, dan seketika jantungku
terasa hampir copot dari tempatnya semula. Aku melihat tubuhmu sudah terbujur
kaku. Susah bagiku untuk mempercayai bahwa itu kamu. Bukankah kemarin kita
masih memulung bersama, membeli semangkuk mi ayam yang kita makan berdua, dan
berbaring-baring di padang bunga? Tapi memang benar itu kamu. Kamu telah pergi,
tak akan kembali.
Aku
ingin bisa merasakan kebahagiaan, walau hanya dalam mimpi atau khayalan semata.
Aku kembali teringat kata-kata yang pernah kau
ucapkan itu. Aku tak menyangka, akhirnya akan jadi begini. Tapi kulihat ada
segaris senyum menghias bibirmu, menyiratkan kedamaian, kebahagiaan, di tubuh
pucatmu yang mulai membiru. Apakah kau sudah mendapatkan mimpi indah itu,
sebuah mimpi yang sempurna?
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar