Minggu, 01 November 2015

Mimpi yang Sempurna


 
Aku ingin bisa merasakan kebahagiaan, walau hanya dalam mimpi atau khayalan semata.
Aku kembali teringat kata-kata yang pernah kau ucapkan itu. Aku tak menyangka, akhirnya akan jadi begini.
***
Aku menyodorkan selembar kertas kumal kepadamu.
“Apa ini?” kamu memandangnya sambil mengernyit sebentar, kemudian paham dan menerimanya.
Selembar kertas kumal itu berisi tulisanku, ceritaku. Kau selalu bilang bahwa pemulung (terlebih tidak berpendidikan tinggi) sepertiku tidak pantas sok jadi penulis. Tapi apa mau dikata, sejak kecil aku sudah gemar membaca, dan dari situlah aku terdorong untuk belajar menjadi penulis. Meskipun kau selalu mencemoohku, tapi kau selalu tak berkeberatan menjadi pembaca pertama tulisanku yang memang hanya kutunjukkan padamu.
“Bagaimana?” tanyaku tak sabar.
“Sebentar…aku belum selesai baca.”
Aku menunggu.
“Ah…, kenapa kamu selalu membuat cerita yang berakhir sedih sih?” tanyamu begitu selesai membaca.
“Aku kurang suka akhir bahagia, happy ending. Bukankah hidup kita juga susah, begini-begini saja?” jawabku.
“Justru itu. Karena hidup kita susah makanya buatlah cerita yang…apa katamu tadi? Hepi ending?”
Aku mengangguk.
“Ya, itu. Buatlah cerita yang hepi ending itu, yang berakhir bahagia. Paling tidak kita bisa ikut merasa bahagia saat membacanya. Apa kau tak ingin bahagia?” kamu meneruskan ucapanmu.
Aku masih diam. Berpikir. Mencerna kalimatnya dan bertanya pada diriku sendiri.
“Aku ingin bisa merasakan kebahagiaan, walau hanya dalam mimpi atau khayalan semata.” katamu lirih.
Aku memandang wajahmu. Sendu. Matamu menerawang.
“Masak kau tak pernah merasa bahagia?” tanyaku sedikit heran.
“Entahlah, mungkin dulu pernah, ketika aku belum mampu mengingat. Kau tahu sendirilah bagaimana hidupku…” jawabmu sedih.
Ya, kalau dipikir-pikir walau sama-sama miskin, tapi hidupku sedikit lebih beruntung daripada hidupmu. Aku masih punya orang tua yang menyayangiku dan seorang adik. Aku masih punya keluarga. Aku punya rumah untuk pulang (sebenarnya lebih pantas disebut gubug reot daripada rumah). Sedangkan kau? Kau selalu bilang sebatang kara walau sebenarnya kau juga masih punya orang tua. Kau kabur dari rumah, meninggalkan mereka ketika usiamu delapan tahun karena mereka memaksamu untuk mengemis dan sering memukulimu, menyiksamu tanpa alasan yang jelas. Kamu memilih menganggap mereka tak ada, membunuh mereka dari ingatanmu. Menghapus mereka dari hidupmu. Lalu kamu memutuskan jadi pemulung untuk bertahan hidup, kemudian kita bertemu dan bersahabat hingga saat ini. Dulu kamu tidur di mana saja, di emperan toko, halte bus, terminal, stasiun. Sampai akhirnya kau membangun rumah kardus mungil di tepi rel kereta untuk tempat tinggalmu.
“Sabarlah, kawan.” aku mengusap punggungmu.
Kamu tersenyum.
“Kau tahu? Aku tak pernah mimpi indah. Kau pernah? Bagaimana rasanya?” katamu tiba-tiba.
“Ah, mana mungkin kau tak pernah mimpi indah?” aku terkejut.
“Ya, belum pernah mimpi indah. Aku selalu bermimpi buruk.”
“Kau serius?”
“Ya. Makanya aku ingin merasakan bagimana mimpi indah itu. Mimpi yang bisa membuatku merasa senang, bahagia. Mimpi yang sempurna.”
Kita tenggelam dalam pikiran kita masing-masing. Aku tak bisa membayangkan bagaimana orang yang selalu bermimpi buruk, tak pernah bermimpi indah.
***
Pengakuanmu membuatku berpikir. Sungguh, seandainya bisa, aku ingin mewujudkan keinginanmu itu. Apalagi sebentar lagi hari ulang tahunmu yang ke-tujuh belas. Sebuah mimpi indah akan menjadi kado yang sempurna di hari ulang tahunmu. Tapi, bagaimana caranya? Bukankah mimpi itu bunga tidur? Apakah kita bisa mengendalikannya?
Aku mendapat sedikit pencerahan ketika secara tak sengaja aku membaca yang kau alami sehingga kau tak pernah mengalami mimpi indah? Sekarang aku harus mulai mencari cara agar kau bisa mendapat mimpi indah. sebuah artikel di sebuah majalah bekas yang kupulung. Artikel itu membahas mengenai mekanisme mimpi. Memang benar, mimpi adalah perwujudan pikiran alam bawah sadar kita.  Sesuatu yang kita pikirkan terus menerus bisa menjelma menjadi mimpi. Ah, kawan, sebegitu dalamkah trauma
“Apa yang membuatmu merasa senang?” tanyaku padamu keesokan harinya, ketika kita beristirahat bersama di bawah pohon randu tak jauh dari TPA. Kamu mengipas-ngipaskan topi kumalmu. Bukan untuk mengusir bau tak sedap tumpukan sampah yang sudah sedemikian akrab, namun untuk mengusir peluh yang meleleh akibat sengatan matahari yang saat itu tepat di atas ubun-ubun kita.
“Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?” kamu merasa sedikit aneh.
“Dengar, kawan, kemarin aku membaca artikel mengenai mekanisme mimpi. Berdasarkan artikel tersebut menurutku kau harus merasa senang, agar rasa senangmu itu mengendap di bawah sadarmu kemudian menjelma menjadi mimpi indah,” jelasku padamu.
Kamu diam, aku menjadi sedikit takut jika ternyata kamu sudah kehilangan keinginanmu itu.
“Kamu masih ingin merasakan mimpi indah kan?” tanyaku takut-takut. “Aku ingin memberikan sebuah mimpi indah untuk hadiah ulang tahunmu … “ sambungku lirih.
“Ya!” kamu menjawab. “Aku ingin mimpi indah. Tolong bantu aku mewujudkannya. Apa kau mau?”
Aku mengangguk cepat dengan mata berbinar.
“Kita mulai dari mana?” tanyamu.
“Apa yang membuatmu senang?”
“Hmmm…baiklah. Kalau begitu kita akan mandi di sungai, membeli gulali, makan es krim coklat, memandangi bintang, dan berlarian di padang bunga,” katamu.
“Baiklah. Ayo kita lakukan!” aku bersemangat. Aku tak menyangka, hal-hal sederhana sudah bisa membuatmu senang.
Sesorean itu kita bersenang-senang. Aku senang melihatmu tertawa lepas saat kita berlarian di padang bunga.
“Kau senang?” tanyaku. Kita sedang berbaring-baring  di padang bunga. Bulan sudah menggusur matahari sejak satu jam lalu, dan kini langit tampak semarak dihiasi gemintang. Venus sang Dewi Cinta tampak begitu genit mengedip-ngedipkan matanya menggoda sang rembulan.
“Ya.”
“Semoga nanti kamu sudah bisa mimpi indah….“
“Semoga….”
***
“Bagaimana? Apa kau mimpi indah semalam?” Sejak saat itu selalu pertanyaan itu yang pertama kau lontarkan padaku setiap kita bertemu, dan dengan berat hati aku menggeleng.
Sungguh, kawan, aku tak sampai hati melihat kesedihan merundung wajahmu ketika aku belum juga bermimpi indah. Aku didera rasa bersalah. Kau mati-matian berusaha membuatku bermimpi indah, namun aku tak kunjung bermimpi indah. Sudah dua minggu ini kita melakukan hal-hal yang menyenangkan, yang membuatku senang.
“Baiklah, kalau begitu besok kita coba lagi, ya?” kamu selalu menguatkanku. Tak lupa sebuah senyum menghiasi bibirmu. Entah dari mana kamu mendapat energi sebesar itu. Terkadang aku iri padamu, kamu adalah orang yang bersemangat dan mampu menularkan semangat itu padaku. Meskipun aku sering mengolok-ngolokmu, mengolok-ngolok kegemaran menulismu. Tapi kamu selalu baik padaku, tetap baik padaku. Kau tahu? Aku bahagia mempunyai sahabat seperti dirimu. Sahabat sebaik kamu.
Malam ini aku merasa sedikit lelah setelah seharian melakukan hal-hal yang menyenangkan. Dadaku terasa agak nyeri dan sesak. Mungkin karena aku kelelahan. Aku sudah beberapa kali mengalami hal seperti ini. Biasanya rasa sesak dan nyeri ini akan hilang sendiri setelah aku beristirahat. Maka aku meneguk segelas air putih kemudian segera berbaring di kardus yang kujadikan alas tidur. Menarik sarung kumal satu-satunya milikku menutupi tubuhku yang sedikit menggigil digigit dinginnya udara malam. Besok adalah hari ulang tahunku. Aku berdoa agar malam ini aku bermimpi indah. Aku mengingat-ingat hal menyenangkan yang kita lakukan hari ini. Ada rasa senang menyelinap dalam dadaku, terlebih ketika kita tertawa bersama-sama. Pelan-pelan mataku pun terpejam.
Aku merasa ada sinar yang terang menerangi rumah kardusku. Apa itu? Aku membuka mata pelan-pelan. Mulanya sinar itu menyilaukan, tapi lama-lama aku bisa melihat sesuatu yang memancarkan sinar itu. Seekor kuda, tepat di depan rumah kardusku. Tapi bukan kuda biasa. Kuda itu berwarna putih bersih, bersayap, dan mempunyai sebuah tanduk di kepalanya. Bulunya tampak begitu halus dan memendarkan cahaya putih lembut. Sangat indah. Aku ternganga. Itu makhluk yang pernah kulihat dalam buku dongeng bekas, milikmu. Aku begitu terpesona saat itu. Unicorn. Ya, aku ingat, katamu nama kuda itu unicorn. Aku pernah berkata padamu bahwa jika unicorn benar-benar ada aku ingin keliling dunia naik unicorn dan kamu menertawakanku karena keinginanku terdengar konyol. Kau bilang kalau unicorn hanya ada dalam dongeng.
Tapi sekarang kuda itu benar-benar ada. Di depanku. Di depan mata  kepalaku sendiri. Aku mengucek-ngucek mata, tak percaya. Barangkali ini cuma mimpi. Mimpi indah, tentunya. Tapi unicorn itu nyata. Unicorn itu tampak jinak. Akupun bangun dan mendekatinya, mengelusnya, membelai surainya yang berkilau keperakan. Unicorn itu merendahkan tubuhnya, sepertinya ia ingin aku naik ke punggungnya. Ragu, aku menaiki punggungnya. Seketika unicorn itu berdiri, merentangkan sayapnya, kemudian menjejakkan kakinya sebelum melesat terbang ke angkasa. Aku yang kaget memejamkan mata seraya memeluk erat-erat lehernya. Udara semilir terasa menerpa rambutku, pelan-pelan akupun membuka mataku.
Wow! Aku terbang! Naik unicorn! Persis seperti keinginanku dulu. Si unicorn terbang dengan tenang. Bintang-bintang dan bulan tampak lebih dekat, seolah aku bisa meraihnya dengan tanganku. Di bawah sana, lampu-lampu kota tampak begitu indah. Aku tertegun, menikmati semua keindahan ini. Lalu aku pun teringat padamu, aku ingin menunjukkan unicorn ini padamu. Kau juga pasti akan sama denganku, terkagum-kagum. Aku tak tahu apakah unicorn bisa mengerti bahasa manusia, tapi pikirku tak ada salahnya dicoba.
“Hei….”aku menepuk lembut punggungnya. “Kau tahu rumah Re? Dia sahabat terbaikku. Apa kau bisa mengantarkanku ke sana, ke rumahnya?” tanyaku.
Tampaknya unicorn ini mengerti perkataanku karena serta merta ia mengurangi ketinggian terbangnya, menukik lembut ke sebuah arah, ke sebuah titik: rumahmu. Aku tidak tahu, tapi malam ini rumahmu berubah transparan. Aku bisa melihatmu tidur sangat lelap, berdesakan dengan bapak-ibumu dan adikmu di atas kasur butut yang terhampar di lantai. Kamu tampak lelah. Aku jadi tak tega membangunkanmu, dan memutuskan mengurungkan niatku.
“Ayo kita pergi. Kau akan mengajakku ke mana lagi?” tanyaku pada si unicorn.
Sekali lagi si unicorn menjejakkan kakinya dan melesat terbang ke arah rembulan. Tiba-tiba ada sebuah cahaya kuning hangat menyilaukan, dan setelah kami(aku dan unicorn) melewati cahaya tersebut, aku sampai di sebuah tempat yang sangat indah. Tempat terindah yang pernah ada, bahkan kekata tak kan mampu untuk menggambarkannya.
“Di mana ini? Tempat apa ini?”
Aku tahu pertanyaanku tak butuh jawaban. Aku pun tahu aku tak ingin ingin pergi dari tempat ini, tak ingin kembali.
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, tapi aku belum juga melihatmu. Di mana kamu, Go? Hari ini ulang tahunmu yang ke-tujuh belas. Aku penasaran apakah kau sudah bermimpi indah atau belum karena aku tak bisa memberikan apa-apa lagi sebagai kado untukmu. Perasaanku tidak enak, semalam sepertinya aku bermimpi kau mendatangiku. Entahlah, aku sudah tak begitu ingat. Akhirnya kuputuskan untuk mendatangi rumahmu.
Sesampai di rumahmu, tampak banyak orang yang berkerumun. Firasatku tak enak. Aku segera berlari menuju kerumunan orang di rumahmu.
“Ada apa, Pak?” tanyaku pada seorang bapak berbaju kumal warna kuning. Ada sebuah peluit yang menggantung di lehernya. Tampaknya ia bekerja sebagai tukang parkir.
“Ada orang meninggal. Sepertinya sudah sejak semalam, tapi baru diketahui tadi pagi,” jelas bapak tersebut.
Aku menyeruak kerumunan, dan seketika jantungku terasa hampir copot dari tempatnya semula. Aku melihat tubuhmu sudah terbujur kaku. Susah bagiku untuk mempercayai bahwa itu kamu. Bukankah kemarin kita masih memulung bersama, membeli semangkuk mi ayam yang kita makan berdua, dan berbaring-baring di padang bunga? Tapi memang benar itu kamu. Kamu telah pergi, tak akan kembali.
Aku ingin bisa merasakan kebahagiaan, walau hanya dalam mimpi atau khayalan semata.
Aku kembali teringat kata-kata yang pernah kau ucapkan itu. Aku tak menyangka, akhirnya akan jadi begini. Tapi kulihat ada segaris senyum menghias bibirmu, menyiratkan kedamaian, kebahagiaan, di tubuh pucatmu yang mulai membiru. Apakah kau sudah mendapatkan mimpi indah itu, sebuah mimpi yang sempurna?
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar