Sore kemarin adalah sore yang tak biasa. Tak biasa,
karena saya mendapat ajakan menghadiri diskusi sebuah esai Yb. Mangunwijaya
dalam buku “Impian dari Yogyakarta”
yang berjudul “Sekunang Kenangan Krocuk
Krupuk ’45 untuk Rekan ‘74”. Pikir saya, aneh sekali judulnya. Maka saya
meng-iya-kan ajakan tersebut dengan ekspetasi positif bahwa saya akan
mendapatkan sesuatu dari diskusi tersebut. Saya pun berangkat dengan kepala kosong.
Bondo nekat. Bukankah cangkir yang
kosong bisa menampung lebih banyak isi? Batin saya.
Jadi, untuk mempersingkat cerita, Sodara, intinya esai
tersebut berisi pemikiran Romo Mangun mengenai krisis intelektual muda pada
saat ini. Beda sekali jika dibandingkan dengan tahun ’45, ketika masa revolusi.
Pada saat itu para intelektual muda menjadi pendorong “something big”. Dalam esainya, Romo Mangun menyebutkan nama-nama
para intelektual tersebut beserta umurnya. Tapi dari sekian nama yang
disebutkan, otak saya yang lemot ini hanya bisa mengingat tiga nama. Soekarno,
44 tahun; Hatta, 43 tahun; dan Pramoedya Ananta Toer, 20 tahun. Jangan
disamakan dengan saat ini, sulit sekali menemukan intelektual muda. Loh,
memangnya pada ke mana? Lalu sebuah pertanyaan dari masa lalu terpanggil kembali.
Di usiamu yang hampir 24 tahun ini, apa yang sudah kamu lakukan, Dian?
Intelektual dan
Intelegensia
Apa yang terbersit di benak Anda jika mendengar frasa
“kaum intelektual”? Sarjana, aktivis, atau profesor berkepala botak dengan
kacamata tebalnya? Jika ya, mungkin Anda mengalami kerancuan istilah (karena
belum mengerti) antara “intelektual” dan “intelegensia”.
Menurut KBBI for Android (belum kuat beli KBBI cetak
:p), kata “intelektual” berarti
cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan; yang
mempunyai kecerdasan tinggi, cendekiawan; totalitas pengertian atau kesadaran,
terutama yang menyangkut pemikiran dan pemahaman. Sedangkan kata “intelegensia” berarti kaum cerdik
pandai, para cendekiawan. Serupa, tapi tak sama. Nah, lho, terus apa yang
membedakan kaum intelektual dan inteligensia?
Kaum intelektual dibedakan dengan kaum intelegensia.
Intelektual adalah seseorang yang memusatkan diri untuk memikirkan ide dan
masalah nonmaterial dengan menggunakan kemampuan menalarnya. Sedangkan kaum
intelegensia adalah mereka yang telah mengalami pendidikan tinggi formal dan
modern, para spesialis dan professional, dan mereka yang memeroleh pendidikan
tingkat tinggi dengan cara lain.
Adapun ciri-ciri sosial yang ditunjukkan kaum
intelektual adalah sebagai berikut: (1) mereka direkrut dari segala kelas
sekalipun dalam proporsi yang berbeda-beda; (2) mereka dijumpai di kalangan
pendukung atau penentang berbagai gerakan kebudayaan atau politik; (3) pekerjaan
mereka pada umumnya bukanlah pekerjaan tangan dan bagian terbesar menjadi penulis,
dosen, penyair, wartawan, dsb; (4) sampai batas tertentu mereka agak menjauh
dari masyarakat, selebhnya bergaul di dalam kelompoknya sendiri; (5) mereka
tidak hanya tertarik pada segi pengetahuan teknis dan mekanis semata-mata;
ide-ide tentang agama, kehidupan yang lebih baik, seni, rasa, kebangsaan,
ekonomi berencana, kebudayaan dan sejenisnya termasuk dalam dunia pemikirannya.
Selanjutnya, berbeda dengan para spesialis, kaum intelektual berusaha melihat
hal-hal dalam perspektif yang luas, dalam bentuk saling hubungan dan secara
total; (6) kelompok intelektual senantiasa merupakan bagian kecil dari masyarakatnya.
Dari situ dapat kita garis bawahi, bahwa yang
membedakan kaum intelektual dengan kaum intelegensia adalah pada kemampuan berpikir
kritis dan kesadaran kritis yang dimiliki. Seorang intelektual bisa jadi
seorang intelegensia, namun seorang intelegensia bukanlah seorang intelektual.
Terus, kalau menurut saya? Entah mengapa kata intelektual mengingatkan saya
pada kata “intel” dan “aktual”. Jika kedua kata itu dirangkai (intel-aktual)
maka terdengan mirip dengan kata intelektual. Secara harfiah pun artinya mirip,
yaitu (intel) orang yang bertugas mencari dan atau mengamati seseorang atau
sesuatu dan (aktual) sesuatu yang baru. Jadi kaum intelektual bagi saya adalah
orang-orang yang mempunyai kapasitas ilmu untuk memikirkan secara mendalam
sesuatu yang memang benar terjadi dan terkini.
Tetek Bengek Krisis Intelektual Muda
Seseorang dapat menjadi seorang intelektual apabila ia
memanfaatkan kemampuan berpikirnya dan memiliki pengetahuan yang cukup mengenai
pokok bahasan yang diminatinya. Tentu saja bukan sekedar berpikir, melainkan
kemampuan berpikir kritis yang erat hubungannya dengan kesadaran kritis.
Berpikir kritis(critical thinking)
adalah kemampuan dalam membuat penilaian terhadap sesuatu berdasarkan konsep
yang matang dan mempertanyakan segala sesuatu yang dianggap tidak tepat dengan
cara yang baik. Tidak mudah percaya dan menerima begitu saja segala hal.
Seorang yang berpikir kritis bukanlah seorang apatis, dan berbeda dengan orang
skeptis. Jika skeptis hanya berhenti pada sebatas ketidakpercayaan, maka kritis
berusaha menganalisa penyebab dan mencari solusi untuk memperbaikinya. Dosen
pembimbing saya sering mengeluhkan bahwa dalam dunia mahasiswa saat ini, beliau
melihat ada gejala kemalasan berpikir. Menurut saya hal ini sudah bukan gejala
lagi, melainkan sudah menjadi fenomena
yang tidak hanya melanda kalangan mahasiswa, namun juga masyarakat Indonesia.
Nah, pertanyaannya sekarang adalah: apa yang
menyebabkan seseorang menjadi malas berpikir? Tentu saja banyak hal yang bisa
menjadi penyebabnya. Banyak kemungkinan. Mungkin juga penyebabnya adalah hasil
kolaborasi kemungkinan-kemungkinan tersebut. Bisa saja karena sisa mental
inferioritas bangsa terjajah yang masih tersisa sehingga membuat kita memuja
dan menerima begitu saja hal-hal berbau barat yang dianggap hebat bin keren(yang
belum tentu sesuai dan benar diterapkan dalam konteks Indonesia). Bisa saja
karena “penjajahan” kapitalisme yang telah mengalami transformasi bentuk dari
penjajahan fisik menjadi penjajahan pikiran. Menanamkan konsumerisme pada otak
melalui berbagai media, membentuk mitos-mitos mengenai suatu konsep kehidupan
ideal. Membuat manusia mendewakan nafsu dan kekuasaan, menjadi machiavelis.
Bisa saja karena perkembangan zaman yang begitu cepat sehingga melahirkan
budaya kompetitif yang sayangnya seringkali menjadi negatif dan malah
menimbulkan egoisme. Bisa juga karena hal lain.
Apapun penyebabnya, saya percaya semua itu bisa
ditangkal jika kita mempunyai kesadaran kritis. Karena manusia diciptakan
dengan hati yang menjadi “penasihat” bagi logika. Freud menyebutnya sebagai conscience yang merupakan bagian dari
superego. Dalam diri manusia telah terinstal nilai-nilai kebaikan yang kadang
belum diketahui oleh diri sendiri. Tinggal bagaimana caranya kita bisa
menyalakan kesadaran tersebut, sehingga tidak terus berkubang dalam kesadaran
semu, tidak terus berkutat menjadi manusia yang sekedar hidup-berjuang untuk
hidup-merubah hidup. Namun menjadi manusia yang memaknai hidup.
Siklus dan Lingkaran
Setan
Membahas masalah penyadaran, saya selalu merasa
dihadapkan pada sesuatu yang sangat besar, sangat kompleks, saling bertautan
seperti lingkaran setan. Membuat saya menyadari bahwa negara kita dilanda
krisis multidimensional—yang entah apa obatnya. Lantas apakah kita sepatutnya
berputus asa? Tentu saja tidak. Lalu apa yang harus kita lakukan? Mengharapkan
pemerintah melakukan sesuatu adalah hal terbodoh yang bisa dilakukan oleh
seorang intelek, karena pemerintah kita hampir-hampir tidak bisa dipercaya dan
diandalkan.
Mungkin seorang intelektual harus menempatkan diri
sebagai seorang dokter. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Pendidikan
sebagai one way of solution. Memilih satu titik. Do something. Lakukan sesuatu
di satu titik untuk memutus lingkaran setan. Dimulai dari diri sendiri.
*tulisan saya sekitar 3 tahun lalu yang baru diunggah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar