Ada orang yang
menulis karena memang bercita-cita menjadi penulis. Ada yang menulis karena
ingin dikenal. Ada pula yang menulis untuk memenuhi tugas(seperti dalam mata
kuliah Menulis Cerita dan Drama ini). Orang-orang menulis dengan berbagai
tujuan. Orang menulis untuk menyampaikan sesuatu, pesan, atau mungkin misi.
Tapi, saya menulis untuk mencegah kegilaan. Ya, menulis merupakan sebuah
tindakan preventif bagi saya untuk mencegah kegilaan.
Bersyukurlah orang
yang dianugerahi pribadi yang ekstrovert, yang senang bersosialisasi dan bisa
terbuka dengan siapapun. Saya tidak. Saya adalah seorang introvert dengan
kepribadian kompleks. Seringkali saya tidak bisa menyampaikan hal yang saya
inginkan, yang saya pikirkan. Saya tidak bisa menyampaikannya kepada sembarang
orang. Namun akibatnya, hal-hal tersebut memenuhi otak saya. Saya sadar, jika
terus seperti itu, maka lama-lama saya
bisa gila. Sesuatu itu harus dikeluarkan, maka saya pun menulis. Menulis apa
saja. Menulis tanpa tendensi. Hanya sekedar “mengeluarkan”, ibarat orang buang
hajat. Mencegah agar saya tidak gila.
Jika biasanya
saya menulis hanya kalau sedang mood,
sedang ingin, namun dalam mata kuliah ini, saya “dipaksa” menulis. Saya HARUS
bisa menulis untuk memenuhi target. Baik target waktu, kualitas, maupun
kuantitas. Maka saya pun memutar otak, bagaimana caranya supaya Mas Ilham dan
Mbak Inspirasi mau datang kapanpun saya butuhkan??
Jawabannya adalah
musik. Lagu. Saya suka mendengarkan musik. Musik genre apapun, selama liriknya baik dan bagus menurut saya. Saya
yang memang suka mengkhayal, seringkali khayalan saya terangsang ketika
mendengarkan sebuah lagu. Yang saya khayalkan bukan melulu suatu keadaan
seperti yang diceritakan dalam lirik sebuah lagu, tapi lebih ke suasana seperti
apa yang tepat untuk mendengarkan lagu tersebut. Mirip. Tapi tidak sama. Sebagai
contoh, misalnya ketika saya mendengarkan lagu lawas milik Billie Holiday yang
berjudul Old Devil Called Love yang
liriknya menceritakan seorang wanita yang tidak berdaya menolak kuasa cinta,
maka yang terbayang di khayalan saya, lagu tersebut tepat jika menjadi backsound/theme song sebuah fragmen perselingkuhan.
Lalu saya berpikir, perselingkuhan seperti apa yang sudah saya ketahui(benar
terjadi)? Setelah itu baru saya menuliskannya menjadi cerita.
Satu hal lagi
yang saya sukai dari menulis cerita: kamuflatif. Oke, seseorang bisa saja
menulis sebuah cerita 100% sesuai kenyataan. Entah itu pengalamannya sendiri
atau orang lain. Tapi, saya lebih suka “mengaburkan” kenyataan tersebut.
Mencampurnya dengan imajinasi dengan komposisi berbeda-beda. Bisa saja
perbandingan antara realitas dan khayalan itu berbanding 50-50, 70-30, atau
40-60. Menurut saya, proses “mengaburkan” kenyataan dalam sebuah cerita merupakan
seni.
Jadi bisa saja
cerita itu merupakan pengalaman pribadi saya, tapi saya membuatnya seolah itu
adalah pengalaman orang lain atau pengalaman yang juga pernah dialami sebagian
besar orang. Bisa juga cerita itu merupakan pengalaman orang lain, tapi saya
buat seolah-olah itu kenyataan yang saya alami. Dalam hal ini, saya sangat
kagum dengan Dan Brown dan Mario Puzo. Dua orang itu mempunyai kemampuan luar
biasa dalam mengamuflasekan sebuah cerita. Membuat saya merasa “berada” di
dalam cerita mereka dan membuat saya percaya bahwa cerita mereka benar-benar
terjadi. Untuk mewujudkan kamuflase sebuah cerita, maka saya membekalinya
dengan gaya bahasa. Saya gunakan majas-majas, bahasa simbolik.
Saya selalu
kesulitan jika diminta menulis cerita remaja, apalagi anak-anak. Jelas, itu
bukan aliran kepenulisan yang saya pilih. Saya tidak suka membaca teenlit dan chicklit.
Saya lebih suka cerita yang cenderung surealis dan mature. Mungkin ini pengaruh dari gaya kepenulisan pengarang yang
saya kagumi. Saya nge-fans dengan Linda Chistanty, Nukila Amal, Dewi Lestari,
dan Clara Ng(saya sangat suka gaya bercerita Clara Ng dalam bukunya yang
berjudul Malaikat Jatuh). Saya juga suka novel Pangeran Kecil karya St. Exupery
dan Olenka karya Budi Darma. Mereka mempengaruhi tulisan saya. Oleh karena itu,
saya masih harus banyak-banyak belajar menulis cerita remaja dan anak-anak.
Mungkin beberapa
hal di atas yang bisa saya sampaikan berkaitan dengan proses kreatif saya dalam
menulis. Saya tidak akan berhenti menulis. Lebih tepatnya tidak bisa mberhenti
menulis. Karena menulis merupakan sebuah kebutuhan bagi saya. Sebuah tindakan
preventif. Mencegah kegilaan. Meski sampai detik ini saya masih menulis tanpa
tendensi. Tapi siapa tahu, suatu hari nanti saya bisa menjadi sehebat Linda Christanty.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar