Minggu, 01 November 2015

Menulis: Tindakan Preventif dan Kamuflatif


Ada orang yang menulis karena memang bercita-cita menjadi penulis. Ada yang menulis karena ingin dikenal. Ada pula yang menulis untuk memenuhi tugas(seperti dalam mata kuliah Menulis Cerita dan Drama ini). Orang-orang menulis dengan berbagai tujuan. Orang menulis untuk menyampaikan sesuatu, pesan, atau mungkin misi. Tapi, saya menulis untuk mencegah kegilaan. Ya, menulis merupakan sebuah tindakan preventif bagi saya untuk mencegah kegilaan.
Bersyukurlah orang yang dianugerahi pribadi yang ekstrovert, yang senang bersosialisasi dan bisa terbuka dengan siapapun. Saya tidak. Saya adalah seorang introvert dengan kepribadian kompleks. Seringkali saya tidak bisa menyampaikan hal yang saya inginkan, yang saya pikirkan. Saya tidak bisa menyampaikannya kepada sembarang orang. Namun akibatnya, hal-hal tersebut memenuhi otak saya. Saya sadar, jika terus seperti itu,  maka lama-lama saya bisa gila. Sesuatu itu harus dikeluarkan, maka saya pun menulis. Menulis apa saja. Menulis tanpa tendensi. Hanya sekedar “mengeluarkan”, ibarat orang buang hajat. Mencegah agar saya tidak gila.
Jika biasanya saya menulis hanya kalau sedang mood, sedang ingin, namun dalam mata kuliah ini, saya “dipaksa” menulis. Saya HARUS bisa menulis untuk memenuhi target. Baik target waktu, kualitas, maupun kuantitas. Maka saya pun memutar otak, bagaimana caranya supaya Mas Ilham dan Mbak Inspirasi mau datang kapanpun saya butuhkan??
Jawabannya adalah musik. Lagu. Saya suka mendengarkan musik. Musik genre apapun, selama liriknya baik dan bagus menurut saya. Saya yang memang suka mengkhayal, seringkali khayalan saya terangsang ketika mendengarkan sebuah lagu. Yang saya khayalkan bukan melulu suatu keadaan seperti yang diceritakan dalam lirik sebuah lagu, tapi lebih ke suasana seperti apa yang tepat untuk mendengarkan lagu tersebut. Mirip. Tapi tidak sama. Sebagai contoh, misalnya ketika saya mendengarkan lagu lawas milik Billie Holiday yang berjudul Old Devil Called Love yang liriknya menceritakan seorang wanita yang tidak berdaya menolak kuasa cinta, maka yang terbayang di khayalan saya, lagu tersebut tepat jika menjadi backsound/theme song sebuah fragmen perselingkuhan. Lalu saya berpikir, perselingkuhan seperti apa yang sudah saya ketahui(benar terjadi)? Setelah itu baru saya menuliskannya menjadi cerita.
Satu hal lagi yang saya sukai dari menulis cerita: kamuflatif. Oke, seseorang bisa saja menulis sebuah cerita 100% sesuai kenyataan. Entah itu pengalamannya sendiri atau orang lain. Tapi, saya lebih suka “mengaburkan” kenyataan tersebut. Mencampurnya dengan imajinasi dengan komposisi berbeda-beda. Bisa saja perbandingan antara realitas dan khayalan itu berbanding 50-50, 70-30, atau 40-60. Menurut saya, proses “mengaburkan” kenyataan dalam sebuah cerita merupakan seni.
Jadi bisa saja cerita itu merupakan pengalaman pribadi saya, tapi saya membuatnya seolah itu adalah pengalaman orang lain atau pengalaman yang juga pernah dialami sebagian besar orang. Bisa juga cerita itu merupakan pengalaman orang lain, tapi saya buat seolah-olah itu kenyataan yang saya alami. Dalam hal ini, saya sangat kagum dengan Dan Brown dan Mario Puzo. Dua orang itu mempunyai kemampuan luar biasa dalam mengamuflasekan sebuah cerita. Membuat saya merasa “berada” di dalam cerita mereka dan membuat saya percaya bahwa cerita mereka benar-benar terjadi. Untuk mewujudkan kamuflase sebuah cerita, maka saya membekalinya dengan gaya bahasa. Saya gunakan majas-majas, bahasa simbolik.
Saya selalu kesulitan jika diminta menulis cerita remaja, apalagi anak-anak. Jelas, itu bukan aliran kepenulisan yang saya pilih. Saya tidak suka membaca teenlit dan chicklit. Saya lebih suka cerita yang cenderung surealis dan mature. Mungkin ini pengaruh dari gaya kepenulisan pengarang yang saya kagumi. Saya nge-fans dengan Linda Chistanty, Nukila Amal, Dewi Lestari, dan Clara Ng(saya sangat suka gaya bercerita Clara Ng dalam bukunya yang berjudul Malaikat Jatuh). Saya juga suka novel Pangeran Kecil karya St. Exupery dan Olenka karya Budi Darma. Mereka mempengaruhi tulisan saya. Oleh karena itu, saya masih harus banyak-banyak belajar menulis cerita remaja dan anak-anak.
Mungkin beberapa hal di atas yang bisa saya sampaikan berkaitan dengan proses kreatif saya dalam menulis. Saya tidak akan berhenti menulis. Lebih tepatnya tidak bisa mberhenti menulis. Karena menulis merupakan sebuah kebutuhan bagi saya. Sebuah tindakan preventif. Mencegah kegilaan. Meski sampai detik ini saya masih menulis tanpa tendensi. Tapi siapa tahu, suatu hari nanti saya bisa menjadi sehebat Linda Christanty.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar