Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 November 2015

Di Mana Kau, Intel-aktual Muda Indonesia?*


 
Sore kemarin adalah sore yang tak biasa. Tak biasa, karena saya mendapat ajakan menghadiri diskusi sebuah esai Yb. Mangunwijaya dalam buku “Impian dari Yogyakarta” yang berjudul “Sekunang Kenangan Krocuk Krupuk ’45 untuk Rekan ‘74”. Pikir saya, aneh sekali judulnya. Maka saya meng-iya-kan ajakan tersebut dengan ekspetasi positif bahwa saya akan mendapatkan sesuatu dari diskusi tersebut. Saya pun berangkat dengan kepala kosong. Bondo nekat. Bukankah cangkir yang kosong bisa menampung lebih banyak isi? Batin saya.
Jadi, untuk mempersingkat cerita, Sodara, intinya esai tersebut berisi pemikiran Romo Mangun mengenai krisis intelektual muda pada saat ini. Beda sekali jika dibandingkan dengan tahun ’45, ketika masa revolusi. Pada saat itu para intelektual muda menjadi pendorong “something big”. Dalam esainya, Romo Mangun menyebutkan nama-nama para intelektual tersebut beserta umurnya. Tapi dari sekian nama yang disebutkan, otak saya yang lemot ini hanya bisa mengingat tiga nama. Soekarno, 44 tahun; Hatta, 43 tahun; dan Pramoedya Ananta Toer, 20 tahun. Jangan disamakan dengan saat ini, sulit sekali menemukan intelektual muda. Loh, memangnya pada ke mana? Lalu sebuah pertanyaan dari masa lalu terpanggil kembali. Di usiamu yang hampir 24 tahun ini, apa yang sudah kamu lakukan, Dian?

Intelektual dan Intelegensia

Apa yang terbersit di benak Anda jika mendengar frasa “kaum intelektual”? Sarjana, aktivis, atau profesor berkepala botak dengan kacamata tebalnya? Jika ya, mungkin Anda mengalami kerancuan istilah (karena belum mengerti) antara “intelektual” dan “intelegensia”.
Menurut KBBI for Android (belum kuat beli KBBI cetak :p), kata “intelektual” berarti cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan; yang mempunyai kecerdasan tinggi, cendekiawan; totalitas pengertian atau kesadaran, terutama yang menyangkut pemikiran dan pemahaman. Sedangkan kata “intelegensia” berarti kaum cerdik pandai, para cendekiawan. Serupa, tapi tak sama. Nah, lho, terus apa yang membedakan kaum intelektual dan inteligensia?
Kaum intelektual dibedakan dengan kaum intelegensia. Intelektual adalah seseorang yang memusatkan diri untuk memikirkan ide dan masalah nonmaterial dengan menggunakan kemampuan menalarnya. Sedangkan kaum intelegensia adalah mereka yang telah mengalami pendidikan tinggi formal dan modern, para spesialis dan professional, dan mereka yang memeroleh pendidikan tingkat tinggi dengan cara lain.
Adapun ciri-ciri sosial yang ditunjukkan kaum intelektual adalah sebagai berikut: (1) mereka direkrut dari segala kelas sekalipun dalam proporsi yang berbeda-beda; (2) mereka dijumpai di kalangan pendukung atau penentang berbagai gerakan kebudayaan atau politik; (3) pekerjaan mereka pada umumnya bukanlah pekerjaan tangan dan bagian terbesar menjadi penulis, dosen, penyair, wartawan, dsb; (4) sampai batas tertentu mereka agak menjauh dari masyarakat, selebhnya bergaul di dalam kelompoknya sendiri; (5) mereka tidak hanya tertarik pada segi pengetahuan teknis dan mekanis semata-mata; ide-ide tentang agama, kehidupan yang lebih baik, seni, rasa, kebangsaan, ekonomi berencana, kebudayaan dan sejenisnya termasuk dalam dunia pemikirannya. Selanjutnya, berbeda dengan para spesialis, kaum intelektual berusaha melihat hal-hal dalam perspektif yang luas, dalam bentuk saling hubungan dan secara total; (6) kelompok intelektual senantiasa merupakan bagian kecil dari masyarakatnya.
Dari situ dapat kita garis bawahi, bahwa yang membedakan kaum intelektual dengan kaum  intelegensia adalah pada kemampuan berpikir kritis dan kesadaran kritis yang dimiliki. Seorang intelektual bisa jadi seorang intelegensia, namun seorang intelegensia bukanlah seorang intelektual. Terus, kalau menurut saya? Entah mengapa kata intelektual mengingatkan saya pada kata “intel” dan “aktual”. Jika kedua kata itu dirangkai (intel-aktual) maka terdengan mirip dengan kata intelektual. Secara harfiah pun artinya mirip, yaitu (intel) orang yang bertugas mencari dan atau mengamati seseorang atau sesuatu dan (aktual) sesuatu yang baru. Jadi kaum intelektual bagi saya adalah orang-orang yang mempunyai kapasitas ilmu untuk memikirkan secara mendalam sesuatu yang memang benar terjadi dan terkini.

Tetek Bengek Krisis Intelektual Muda
Seseorang dapat menjadi seorang intelektual apabila ia memanfaatkan kemampuan berpikirnya dan memiliki pengetahuan yang cukup mengenai pokok bahasan yang diminatinya. Tentu saja bukan sekedar berpikir, melainkan kemampuan berpikir kritis yang erat hubungannya dengan kesadaran kritis. Berpikir kritis(critical thinking) adalah kemampuan dalam membuat penilaian terhadap sesuatu berdasarkan konsep yang matang dan mempertanyakan segala sesuatu yang dianggap tidak tepat dengan cara yang baik. Tidak mudah percaya dan menerima begitu saja segala hal. Seorang yang berpikir kritis bukanlah seorang apatis, dan berbeda dengan orang skeptis. Jika skeptis hanya berhenti pada sebatas ketidakpercayaan, maka kritis berusaha menganalisa penyebab dan mencari solusi untuk memperbaikinya. Dosen pembimbing saya sering mengeluhkan bahwa dalam dunia mahasiswa saat ini, beliau melihat ada gejala kemalasan berpikir. Menurut saya hal ini sudah bukan gejala lagi, melainkan sudah  menjadi fenomena yang tidak hanya melanda kalangan mahasiswa, namun juga masyarakat Indonesia.
Nah, pertanyaannya sekarang adalah: apa yang menyebabkan seseorang menjadi malas berpikir? Tentu saja banyak hal yang bisa menjadi penyebabnya. Banyak kemungkinan. Mungkin juga penyebabnya adalah hasil kolaborasi kemungkinan-kemungkinan tersebut. Bisa saja karena sisa mental inferioritas bangsa terjajah yang masih tersisa sehingga membuat kita memuja dan menerima begitu saja hal-hal berbau barat yang dianggap hebat bin keren(yang belum tentu sesuai dan benar diterapkan dalam konteks Indonesia). Bisa saja karena “penjajahan” kapitalisme yang telah mengalami transformasi bentuk dari penjajahan fisik menjadi penjajahan pikiran. Menanamkan konsumerisme pada otak melalui berbagai media, membentuk mitos-mitos mengenai suatu konsep kehidupan ideal. Membuat manusia mendewakan nafsu dan kekuasaan, menjadi machiavelis. Bisa saja karena perkembangan zaman yang begitu cepat sehingga melahirkan budaya kompetitif yang sayangnya seringkali menjadi negatif dan malah menimbulkan egoisme. Bisa juga karena hal lain.
Apapun penyebabnya, saya percaya semua itu bisa ditangkal jika kita mempunyai kesadaran kritis. Karena manusia diciptakan dengan hati yang menjadi “penasihat” bagi logika. Freud menyebutnya sebagai conscience yang merupakan bagian dari superego. Dalam diri manusia telah terinstal nilai-nilai kebaikan yang kadang belum diketahui oleh diri sendiri. Tinggal bagaimana caranya kita bisa menyalakan kesadaran tersebut, sehingga tidak terus berkubang dalam kesadaran semu, tidak terus berkutat menjadi manusia yang sekedar hidup-berjuang untuk hidup-merubah hidup. Namun menjadi manusia yang memaknai hidup.

Siklus dan Lingkaran Setan
Membahas masalah penyadaran, saya selalu merasa dihadapkan pada sesuatu yang sangat besar, sangat kompleks, saling bertautan seperti lingkaran setan. Membuat saya menyadari bahwa negara kita dilanda krisis multidimensional—yang entah apa obatnya. Lantas apakah kita sepatutnya berputus asa? Tentu saja tidak. Lalu apa yang harus kita lakukan? Mengharapkan pemerintah melakukan sesuatu adalah hal terbodoh yang bisa dilakukan oleh seorang intelek, karena pemerintah kita hampir-hampir tidak bisa dipercaya dan diandalkan.
Mungkin seorang intelektual harus menempatkan diri sebagai seorang dokter. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Pendidikan sebagai one way of solution. Memilih satu titik. Do something. Lakukan sesuatu di satu titik untuk memutus lingkaran setan. Dimulai dari diri sendiri.

*tulisan saya sekitar 3 tahun lalu yang baru diunggah

Menulis: Tindakan Preventif dan Kamuflatif


Ada orang yang menulis karena memang bercita-cita menjadi penulis. Ada yang menulis karena ingin dikenal. Ada pula yang menulis untuk memenuhi tugas(seperti dalam mata kuliah Menulis Cerita dan Drama ini). Orang-orang menulis dengan berbagai tujuan. Orang menulis untuk menyampaikan sesuatu, pesan, atau mungkin misi. Tapi, saya menulis untuk mencegah kegilaan. Ya, menulis merupakan sebuah tindakan preventif bagi saya untuk mencegah kegilaan.
Bersyukurlah orang yang dianugerahi pribadi yang ekstrovert, yang senang bersosialisasi dan bisa terbuka dengan siapapun. Saya tidak. Saya adalah seorang introvert dengan kepribadian kompleks. Seringkali saya tidak bisa menyampaikan hal yang saya inginkan, yang saya pikirkan. Saya tidak bisa menyampaikannya kepada sembarang orang. Namun akibatnya, hal-hal tersebut memenuhi otak saya. Saya sadar, jika terus seperti itu,  maka lama-lama saya bisa gila. Sesuatu itu harus dikeluarkan, maka saya pun menulis. Menulis apa saja. Menulis tanpa tendensi. Hanya sekedar “mengeluarkan”, ibarat orang buang hajat. Mencegah agar saya tidak gila.
Jika biasanya saya menulis hanya kalau sedang mood, sedang ingin, namun dalam mata kuliah ini, saya “dipaksa” menulis. Saya HARUS bisa menulis untuk memenuhi target. Baik target waktu, kualitas, maupun kuantitas. Maka saya pun memutar otak, bagaimana caranya supaya Mas Ilham dan Mbak Inspirasi mau datang kapanpun saya butuhkan??
Jawabannya adalah musik. Lagu. Saya suka mendengarkan musik. Musik genre apapun, selama liriknya baik dan bagus menurut saya. Saya yang memang suka mengkhayal, seringkali khayalan saya terangsang ketika mendengarkan sebuah lagu. Yang saya khayalkan bukan melulu suatu keadaan seperti yang diceritakan dalam lirik sebuah lagu, tapi lebih ke suasana seperti apa yang tepat untuk mendengarkan lagu tersebut. Mirip. Tapi tidak sama. Sebagai contoh, misalnya ketika saya mendengarkan lagu lawas milik Billie Holiday yang berjudul Old Devil Called Love yang liriknya menceritakan seorang wanita yang tidak berdaya menolak kuasa cinta, maka yang terbayang di khayalan saya, lagu tersebut tepat jika menjadi backsound/theme song sebuah fragmen perselingkuhan. Lalu saya berpikir, perselingkuhan seperti apa yang sudah saya ketahui(benar terjadi)? Setelah itu baru saya menuliskannya menjadi cerita.
Satu hal lagi yang saya sukai dari menulis cerita: kamuflatif. Oke, seseorang bisa saja menulis sebuah cerita 100% sesuai kenyataan. Entah itu pengalamannya sendiri atau orang lain. Tapi, saya lebih suka “mengaburkan” kenyataan tersebut. Mencampurnya dengan imajinasi dengan komposisi berbeda-beda. Bisa saja perbandingan antara realitas dan khayalan itu berbanding 50-50, 70-30, atau 40-60. Menurut saya, proses “mengaburkan” kenyataan dalam sebuah cerita merupakan seni.
Jadi bisa saja cerita itu merupakan pengalaman pribadi saya, tapi saya membuatnya seolah itu adalah pengalaman orang lain atau pengalaman yang juga pernah dialami sebagian besar orang. Bisa juga cerita itu merupakan pengalaman orang lain, tapi saya buat seolah-olah itu kenyataan yang saya alami. Dalam hal ini, saya sangat kagum dengan Dan Brown dan Mario Puzo. Dua orang itu mempunyai kemampuan luar biasa dalam mengamuflasekan sebuah cerita. Membuat saya merasa “berada” di dalam cerita mereka dan membuat saya percaya bahwa cerita mereka benar-benar terjadi. Untuk mewujudkan kamuflase sebuah cerita, maka saya membekalinya dengan gaya bahasa. Saya gunakan majas-majas, bahasa simbolik.
Saya selalu kesulitan jika diminta menulis cerita remaja, apalagi anak-anak. Jelas, itu bukan aliran kepenulisan yang saya pilih. Saya tidak suka membaca teenlit dan chicklit. Saya lebih suka cerita yang cenderung surealis dan mature. Mungkin ini pengaruh dari gaya kepenulisan pengarang yang saya kagumi. Saya nge-fans dengan Linda Chistanty, Nukila Amal, Dewi Lestari, dan Clara Ng(saya sangat suka gaya bercerita Clara Ng dalam bukunya yang berjudul Malaikat Jatuh). Saya juga suka novel Pangeran Kecil karya St. Exupery dan Olenka karya Budi Darma. Mereka mempengaruhi tulisan saya. Oleh karena itu, saya masih harus banyak-banyak belajar menulis cerita remaja dan anak-anak.
Mungkin beberapa hal di atas yang bisa saya sampaikan berkaitan dengan proses kreatif saya dalam menulis. Saya tidak akan berhenti menulis. Lebih tepatnya tidak bisa mberhenti menulis. Karena menulis merupakan sebuah kebutuhan bagi saya. Sebuah tindakan preventif. Mencegah kegilaan. Meski sampai detik ini saya masih menulis tanpa tendensi. Tapi siapa tahu, suatu hari nanti saya bisa menjadi sehebat Linda Christanty.