Minggu, 01 November 2015

JAM TANGAN RANI HILANG (drama anak-anak)



Rani adalah anak yang manja dan pemalas. Segala keinginannya harus segera dipenuhi saat itu juga. Jika keinginannya tidak terpenuhi, maka ia akan ngambek. Ia adalah putri tunggal pasangan Bapak dan Ibu Rahmat. Pada suatu sore, terdengar ketukan di kamar Rani.

Rani                 : (sedang membaca komik sambil tengkurap di atas kasur) “Siapa?”
Bu Rahmat      : (membuka pintu) “Kamu nggak belajar, Ran?”
Rani                 : “Oh, Mama. Males, Ma. Masak belajar terus, kapan seneng-senengnya.”
Rani                 : “Eh, Ma, belikan Rani jam tangan dong!” (meletakkan komiknya, merajuk)
Bu Rahmat        : (duduk di pinggir ranjang) “Lho, bukannya bulan kemarin kamu baru Mama belikan jam baru? Lagipula jam tangan kamu kan sudah banyak, mau diapakan?”
Rani                  : “Pokoknya Rani mau yang baru! Yang lama buang saja! Rani sudah bosan dengan jam tangan yang lama, Ma. Kan sebentar lagi Rani ulang tahun.”
Bu Rahmat        : “Rani, kebutuhan kamu masih banyak. Kamu harus belajar berhemat. Jam tangan kan harganya juga nggak murah, Sayang!”
Rani                  : “Ah, Mama, pelit ah. Pokoknya Rani minta jam tangan baru!” (keluar kamar dan membanting pintu kamarnya)
Bu Rahmat        : (menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sifat Rani yang belum juga berubah)
Bu Rahmat mengeluarkan handphone kemudian menelepon Pak Rahmat.
Bu Rahmat        : “Halo, Papa? Papa sedang sibuk nggak, Pa?”
Pak Rahmat(suara): “Nggak, ini Papa baru aja selesai meeting kok. Ada apa, Ma?”
Bu Rahmat        : “Ini lho, Pa, Rani… Dia minta jam tangan baru lagi. Katanya sebagai hadiah ulang tahun. Hhh… Mama bingung, Rani belum berubah juga, malas, manja. Kamarnya aja super kotor dan berantakan, Pa. Nggak mau memebersihkan lagi.”
Pak Rahmat(suara): “Ya, sudahlah, Ma. Namanya juga anak satu-satunya. Sabar, Ma. Nanti kita belikan saja jam tangannya, kan sebentar lagi Rani ulang tahun.”
Bu Rahmat        : “Iya, tapi jam tangan Rani itu sudah banyak, Pa. kebutuhan Rani yang lain, yang lebih penting, juga masih banyak, Pa. Rani itu kapan bisa mengerti ya… padahal sudah beranjak ABG… “
Pak Rahmat(suara): “Oke. Nanti biar papa pulang cepet, urusan di kantor sudah selesai kok. Nanti Rani ada les piano kan? Nah, nanti papa jemput mama waktu Rani les aja, biar nanti jadi surprise buat Rani.”
Bu Rahmat        : “Mama tunggu lho, Pa.” (menghela nafas)
***
Hari ulang tahun Rani. Sore. Sepulang Rani les piano. Terdengar ketukan di kamar Rani.

Bu Rahmat dan Pak Rahmat: “Selamat ulang tahun, Sayang.”
Rani                 : “ Mama… Papa…” (terkejut)
Pak Rahmat      : “ Yes! Lihat, Ma, kejutan kita berhasil. Ayo Ran, tiup lilinnya.” (menyodorkan kue tart dengan lilin angka 12)
Rani                  : (meniup lilin)
Pak Rahmat      : “Nah, ini kado untuk Rani. Sesuai permintaan Rani. Mana, Ma, kadonya?”
Bu Rahmat        : (memberikan bungkusan kado)
Rani                  : (membuka kado dengan gembira, ternyata isinya jam tangan model terbaru dari merk ternama. Jam tangan itu berwarna merah muda dan bergambar Mini Mouse, tokoh kartun kesukaannya) “Waaaaaahhhh… Makasih, Pa, Ma!” (berbinar-binar)
Pak Rahmat      : “Rani suka?”
Rani                  : (mengangguk kuat-kuat sambil tersenyum)
Pak Rahmat      : “Syukurlah kalau begitu.”
Bu Rahmat        : “Ya sudah. Ayo, Pa. Kuenya mama bawa ke ruang makan ya. Kalau dimakan di sini nanti bikin semut-semut berdatangan. Rani, mama tunggu di ruang makan ya.”

Pak Rahmat dan Bu Rahmat keluar dari kamar Rani.

Rani                 : (memakai jam tangannya) “Besok aku pamerin ke anak-anak di sekolah deh, pasti mereka pada iri dengan jam tangan baruku ini.”
Rani pun menyanyi.

Lihatlah jam tangan baruku
Jam model terbaru
Ada Minnie mouse dan warnanya pink lucu
Lihatlah jam tangan baruku
Ini merk terkenal dan harganya mahal

***
Dua minggu kemudian. Pulang sekolah, Rani melepas jam tangannya dan meletakkannya begitu saja di meja belajarnya bercampur dengan tumpukan komik. Tiba-tiba Rani mendengar pintu kamarnya diketuk, kemudian Mama masuk ke kamarnya.

Bu Rahmat        : “Rani, ayo makan siang dulu.” (perhatian Mama beralih pada keadaan kamar Rani)
Kamar Rani sangat kotor dan berantakan. Sepatunya diletakkan begitu saja di bawah meja. Bajunya juga ditaruh sembarangan di kursi. Di lantai berserakan majalah dan bekas pembungkus makanan ringan.

Bu Rahmat        : “Ya ampun Rani, kamar kamu berantakan banget! Lihat, bahkan kamu tidak menyimpan dengan baik jam tangan baru kamu. Bukankah Mama sudah menyediakan kotak khusus untuk menyimpan jam tangan kamu?”
Rani                  : “Ah, males Ma, biar di situ saja deh. Kan jadi lebih enak mengambilnya.”
Bu Rahmat        : “Ayo, setelah makan siang rapikan kamarmu!”
Rani                  : “Rani malas, Ma. Nanti biar dibereskan Bi Inah aja! Bi Inah kan pembantu di rumah kita.”
Bu Rahmat        :“Masak kamu nunggu Bi Inah yang merapikan? Bi Nah kan lagi mudik selama seminggu! Rani, ini kan kamar kamu dan kamu sudah besar. Kamu harus bertanggung jawab dengan kerapian kamarmu sendiri.” (mengelus bahu Rani)
Rani                  : “Pokoknya nanti biar dibereskan Bi Inah aja kalau sudah balik ke sini! Kan Bi Inah digaji buat itu juga kan.” (keluar kamar menuju ruang makan)
Bu Rahmat        : (menggeleng-gelengkan kepala melihat ulah Rani sambil mengikuti Rani ke ruang makan).
***
Besoknya ketika akan berangkat sekolah, Rani kebingungan mencari jam tangan barunya.

Rani                 : “Ma, lihat jam tangan baru Rani nggak?”(Rani berteriak dari kamar)
Bu Rahmat        : “Lho, bukannya kemarin Mama lihat kamu menaruhnya di meja?” (datang ke kamar Rani)
Rani                  : “Nggak ada Ma. Rani juga ingat kemarin Rani taruh di atas meja, tapi sekarang nggak ada.”(putus asa)
Bu Rahmat        : “Sudah, cepat berangkat sekolah sana. sudah ditunggu Papa dari tadi tuh! Sudah siang. Nanti kamu terlambat ke sekolah!” (melihat jam dinding)
Rani                  : “Tapi Ma...”
Bu Rahmat        : “Makanya rapikan kamarmu. Sekarang salah siapa juga kalau jam tangan kamu hilang.”

Akhirnya Rani berangkat sekolah dengan cemberut.
***
Malam harinya, saat makan malam, Mama menanyai Rani.

Bu Rahmat      : “Sudah ketemu jam tangannya?”
Rani                 : (menggeleng)
Bu Rahmat      : “Kamarmu sudah kamu rapikan?”
Rani                 : (menggeleng lagi)
Bu Rahmat      : (diam saja mengetahui jawaban Rani, meneruskan makan)
***
Setelah selesai makan malam, bukannya belajar atau merapikan kamarnya, Rani malah langsung bersiap tidur. Ia masih kesal karena jam tangannya hilang. Ia juga kesal karena Bi Inah belum kembali juga sehingga ia diomeli Mama karena kamarnya berantakan.

Rani                  : “Mama itu, sudah tahu jam tanganku hilang bukannya bantuin nyari malah ngomel aja. Bi Inah juga, mudik nggak balik-balik, aku jadi dimarahin Mama kan. Dasar pembantu nggak berguna!”(tidur dengan perasaan kesal)

Tengah malam Rani terbangun karena mendengar suara berisik di kamarnya. Rani mengucek-ngucek matanya. Alangkah terkejutnya Rani karena ia melihat benda-benda miliknya hidup. Benda-benda itu memandang Rani dan mereka tampak marah.

Rani                 : “Apa-apaan ini? Kenapa kalian bisa hidup?” (terkejut campur takut)
Jam Weker        :“Rani! Beberapa hari ini kamu sudah menelantarkan kami! Kamu tidak merawat kami dengan baik dan menaruh kami sembarangan! Lihat, sampai baju si Komik kucel seperti itu!”
Rani                  : (memandang ngeri sambil memeluk bantal)
Jam Tangan      : “Kamu juga tidak merawatku Rani!”
Rani                  : “Jam tanganku, kamu kemana saja? Aku mencari-carimu.”
Jam Tangan      : “Kamu menelantarkanku di atas meja hingga aku terjatuh dan tertimbun buku-buku dan majalah!” (marah)
Benda-benda(bersamaan) :“Sekarang kamu harus menerima balasan dari kami!” (berjalan mengelilingi Rani)
Rani                  : (sangat ketakutan)“Maafkan aku, aku janji akan merawat kalian baik-baik.” (mengiba)

Benda-benda mulai menyanyi, mengeliligi Rani yang ketakutan.

Si Rani anak nakal
Pemalas dan sangat manja
Ayo lekas diserbu
Jangan diberi ampun

Benda-benda    :“Dasar anak pemalas!” (tidak menghiraukan kata-kata Rani) “Terimalah balasan dari kami!” (bersama-sama menerjang ke tubuh Rani)
Rani                 : “Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkk....!!!” (berteriak ketakutan)
Bu Rahmat      : “Rani! Rani! Ada apa Ran?” (memanggil-manggil Rani)
Rani membuka matanya. Benda-benda miliknya yang semula hidup menghilang. Mama ada di depan Rani, memandangnya dengan tatapan khawatir.

Bu Rahmat      : “Kamu mimpi buruk, Sayang?”
Rani                 : “Rani mimpi, Ma?” (bingung)
Bu Rahmat      : “Iya, Mama dengar kamu teriak-teriak, Rani.”

Rani teringat jam tangan barunya. Dia langsung memeriksa di bawah meja belajrnya. Benar,  jam tangan barunya ada di sana, tertimbun tumpukan buku-buku. Rani mengambilnya dan langsung menyimpannya di kotak yang khusus menyimpan jam tangannya.

Rani                  : “Maafkan Rani, Ma. Rani janji besok Rani akan membersihkan kamar Rani.” ( memeluk Mama. Rani menangis)
Bu Rahmat        : “Iya. Nah, begitu dong. Itu baru anak Mama yang cantik dan rajin.” (membelai rambut Rani)

Sejak saat itu Rani menjadi anak yang baik dan rajin.

***TAMAT***

Di Mana Kau, Intel-aktual Muda Indonesia?*


 
Sore kemarin adalah sore yang tak biasa. Tak biasa, karena saya mendapat ajakan menghadiri diskusi sebuah esai Yb. Mangunwijaya dalam buku “Impian dari Yogyakarta” yang berjudul “Sekunang Kenangan Krocuk Krupuk ’45 untuk Rekan ‘74”. Pikir saya, aneh sekali judulnya. Maka saya meng-iya-kan ajakan tersebut dengan ekspetasi positif bahwa saya akan mendapatkan sesuatu dari diskusi tersebut. Saya pun berangkat dengan kepala kosong. Bondo nekat. Bukankah cangkir yang kosong bisa menampung lebih banyak isi? Batin saya.
Jadi, untuk mempersingkat cerita, Sodara, intinya esai tersebut berisi pemikiran Romo Mangun mengenai krisis intelektual muda pada saat ini. Beda sekali jika dibandingkan dengan tahun ’45, ketika masa revolusi. Pada saat itu para intelektual muda menjadi pendorong “something big”. Dalam esainya, Romo Mangun menyebutkan nama-nama para intelektual tersebut beserta umurnya. Tapi dari sekian nama yang disebutkan, otak saya yang lemot ini hanya bisa mengingat tiga nama. Soekarno, 44 tahun; Hatta, 43 tahun; dan Pramoedya Ananta Toer, 20 tahun. Jangan disamakan dengan saat ini, sulit sekali menemukan intelektual muda. Loh, memangnya pada ke mana? Lalu sebuah pertanyaan dari masa lalu terpanggil kembali. Di usiamu yang hampir 24 tahun ini, apa yang sudah kamu lakukan, Dian?

Intelektual dan Intelegensia

Apa yang terbersit di benak Anda jika mendengar frasa “kaum intelektual”? Sarjana, aktivis, atau profesor berkepala botak dengan kacamata tebalnya? Jika ya, mungkin Anda mengalami kerancuan istilah (karena belum mengerti) antara “intelektual” dan “intelegensia”.
Menurut KBBI for Android (belum kuat beli KBBI cetak :p), kata “intelektual” berarti cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan; yang mempunyai kecerdasan tinggi, cendekiawan; totalitas pengertian atau kesadaran, terutama yang menyangkut pemikiran dan pemahaman. Sedangkan kata “intelegensia” berarti kaum cerdik pandai, para cendekiawan. Serupa, tapi tak sama. Nah, lho, terus apa yang membedakan kaum intelektual dan inteligensia?
Kaum intelektual dibedakan dengan kaum intelegensia. Intelektual adalah seseorang yang memusatkan diri untuk memikirkan ide dan masalah nonmaterial dengan menggunakan kemampuan menalarnya. Sedangkan kaum intelegensia adalah mereka yang telah mengalami pendidikan tinggi formal dan modern, para spesialis dan professional, dan mereka yang memeroleh pendidikan tingkat tinggi dengan cara lain.
Adapun ciri-ciri sosial yang ditunjukkan kaum intelektual adalah sebagai berikut: (1) mereka direkrut dari segala kelas sekalipun dalam proporsi yang berbeda-beda; (2) mereka dijumpai di kalangan pendukung atau penentang berbagai gerakan kebudayaan atau politik; (3) pekerjaan mereka pada umumnya bukanlah pekerjaan tangan dan bagian terbesar menjadi penulis, dosen, penyair, wartawan, dsb; (4) sampai batas tertentu mereka agak menjauh dari masyarakat, selebhnya bergaul di dalam kelompoknya sendiri; (5) mereka tidak hanya tertarik pada segi pengetahuan teknis dan mekanis semata-mata; ide-ide tentang agama, kehidupan yang lebih baik, seni, rasa, kebangsaan, ekonomi berencana, kebudayaan dan sejenisnya termasuk dalam dunia pemikirannya. Selanjutnya, berbeda dengan para spesialis, kaum intelektual berusaha melihat hal-hal dalam perspektif yang luas, dalam bentuk saling hubungan dan secara total; (6) kelompok intelektual senantiasa merupakan bagian kecil dari masyarakatnya.
Dari situ dapat kita garis bawahi, bahwa yang membedakan kaum intelektual dengan kaum  intelegensia adalah pada kemampuan berpikir kritis dan kesadaran kritis yang dimiliki. Seorang intelektual bisa jadi seorang intelegensia, namun seorang intelegensia bukanlah seorang intelektual. Terus, kalau menurut saya? Entah mengapa kata intelektual mengingatkan saya pada kata “intel” dan “aktual”. Jika kedua kata itu dirangkai (intel-aktual) maka terdengan mirip dengan kata intelektual. Secara harfiah pun artinya mirip, yaitu (intel) orang yang bertugas mencari dan atau mengamati seseorang atau sesuatu dan (aktual) sesuatu yang baru. Jadi kaum intelektual bagi saya adalah orang-orang yang mempunyai kapasitas ilmu untuk memikirkan secara mendalam sesuatu yang memang benar terjadi dan terkini.

Tetek Bengek Krisis Intelektual Muda
Seseorang dapat menjadi seorang intelektual apabila ia memanfaatkan kemampuan berpikirnya dan memiliki pengetahuan yang cukup mengenai pokok bahasan yang diminatinya. Tentu saja bukan sekedar berpikir, melainkan kemampuan berpikir kritis yang erat hubungannya dengan kesadaran kritis. Berpikir kritis(critical thinking) adalah kemampuan dalam membuat penilaian terhadap sesuatu berdasarkan konsep yang matang dan mempertanyakan segala sesuatu yang dianggap tidak tepat dengan cara yang baik. Tidak mudah percaya dan menerima begitu saja segala hal. Seorang yang berpikir kritis bukanlah seorang apatis, dan berbeda dengan orang skeptis. Jika skeptis hanya berhenti pada sebatas ketidakpercayaan, maka kritis berusaha menganalisa penyebab dan mencari solusi untuk memperbaikinya. Dosen pembimbing saya sering mengeluhkan bahwa dalam dunia mahasiswa saat ini, beliau melihat ada gejala kemalasan berpikir. Menurut saya hal ini sudah bukan gejala lagi, melainkan sudah  menjadi fenomena yang tidak hanya melanda kalangan mahasiswa, namun juga masyarakat Indonesia.
Nah, pertanyaannya sekarang adalah: apa yang menyebabkan seseorang menjadi malas berpikir? Tentu saja banyak hal yang bisa menjadi penyebabnya. Banyak kemungkinan. Mungkin juga penyebabnya adalah hasil kolaborasi kemungkinan-kemungkinan tersebut. Bisa saja karena sisa mental inferioritas bangsa terjajah yang masih tersisa sehingga membuat kita memuja dan menerima begitu saja hal-hal berbau barat yang dianggap hebat bin keren(yang belum tentu sesuai dan benar diterapkan dalam konteks Indonesia). Bisa saja karena “penjajahan” kapitalisme yang telah mengalami transformasi bentuk dari penjajahan fisik menjadi penjajahan pikiran. Menanamkan konsumerisme pada otak melalui berbagai media, membentuk mitos-mitos mengenai suatu konsep kehidupan ideal. Membuat manusia mendewakan nafsu dan kekuasaan, menjadi machiavelis. Bisa saja karena perkembangan zaman yang begitu cepat sehingga melahirkan budaya kompetitif yang sayangnya seringkali menjadi negatif dan malah menimbulkan egoisme. Bisa juga karena hal lain.
Apapun penyebabnya, saya percaya semua itu bisa ditangkal jika kita mempunyai kesadaran kritis. Karena manusia diciptakan dengan hati yang menjadi “penasihat” bagi logika. Freud menyebutnya sebagai conscience yang merupakan bagian dari superego. Dalam diri manusia telah terinstal nilai-nilai kebaikan yang kadang belum diketahui oleh diri sendiri. Tinggal bagaimana caranya kita bisa menyalakan kesadaran tersebut, sehingga tidak terus berkubang dalam kesadaran semu, tidak terus berkutat menjadi manusia yang sekedar hidup-berjuang untuk hidup-merubah hidup. Namun menjadi manusia yang memaknai hidup.

Siklus dan Lingkaran Setan
Membahas masalah penyadaran, saya selalu merasa dihadapkan pada sesuatu yang sangat besar, sangat kompleks, saling bertautan seperti lingkaran setan. Membuat saya menyadari bahwa negara kita dilanda krisis multidimensional—yang entah apa obatnya. Lantas apakah kita sepatutnya berputus asa? Tentu saja tidak. Lalu apa yang harus kita lakukan? Mengharapkan pemerintah melakukan sesuatu adalah hal terbodoh yang bisa dilakukan oleh seorang intelek, karena pemerintah kita hampir-hampir tidak bisa dipercaya dan diandalkan.
Mungkin seorang intelektual harus menempatkan diri sebagai seorang dokter. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Pendidikan sebagai one way of solution. Memilih satu titik. Do something. Lakukan sesuatu di satu titik untuk memutus lingkaran setan. Dimulai dari diri sendiri.

*tulisan saya sekitar 3 tahun lalu yang baru diunggah

Mimpi yang Sempurna


 
Aku ingin bisa merasakan kebahagiaan, walau hanya dalam mimpi atau khayalan semata.
Aku kembali teringat kata-kata yang pernah kau ucapkan itu. Aku tak menyangka, akhirnya akan jadi begini.
***
Aku menyodorkan selembar kertas kumal kepadamu.
“Apa ini?” kamu memandangnya sambil mengernyit sebentar, kemudian paham dan menerimanya.
Selembar kertas kumal itu berisi tulisanku, ceritaku. Kau selalu bilang bahwa pemulung (terlebih tidak berpendidikan tinggi) sepertiku tidak pantas sok jadi penulis. Tapi apa mau dikata, sejak kecil aku sudah gemar membaca, dan dari situlah aku terdorong untuk belajar menjadi penulis. Meskipun kau selalu mencemoohku, tapi kau selalu tak berkeberatan menjadi pembaca pertama tulisanku yang memang hanya kutunjukkan padamu.
“Bagaimana?” tanyaku tak sabar.
“Sebentar…aku belum selesai baca.”
Aku menunggu.
“Ah…, kenapa kamu selalu membuat cerita yang berakhir sedih sih?” tanyamu begitu selesai membaca.
“Aku kurang suka akhir bahagia, happy ending. Bukankah hidup kita juga susah, begini-begini saja?” jawabku.
“Justru itu. Karena hidup kita susah makanya buatlah cerita yang…apa katamu tadi? Hepi ending?”
Aku mengangguk.
“Ya, itu. Buatlah cerita yang hepi ending itu, yang berakhir bahagia. Paling tidak kita bisa ikut merasa bahagia saat membacanya. Apa kau tak ingin bahagia?” kamu meneruskan ucapanmu.
Aku masih diam. Berpikir. Mencerna kalimatnya dan bertanya pada diriku sendiri.
“Aku ingin bisa merasakan kebahagiaan, walau hanya dalam mimpi atau khayalan semata.” katamu lirih.
Aku memandang wajahmu. Sendu. Matamu menerawang.
“Masak kau tak pernah merasa bahagia?” tanyaku sedikit heran.
“Entahlah, mungkin dulu pernah, ketika aku belum mampu mengingat. Kau tahu sendirilah bagaimana hidupku…” jawabmu sedih.
Ya, kalau dipikir-pikir walau sama-sama miskin, tapi hidupku sedikit lebih beruntung daripada hidupmu. Aku masih punya orang tua yang menyayangiku dan seorang adik. Aku masih punya keluarga. Aku punya rumah untuk pulang (sebenarnya lebih pantas disebut gubug reot daripada rumah). Sedangkan kau? Kau selalu bilang sebatang kara walau sebenarnya kau juga masih punya orang tua. Kau kabur dari rumah, meninggalkan mereka ketika usiamu delapan tahun karena mereka memaksamu untuk mengemis dan sering memukulimu, menyiksamu tanpa alasan yang jelas. Kamu memilih menganggap mereka tak ada, membunuh mereka dari ingatanmu. Menghapus mereka dari hidupmu. Lalu kamu memutuskan jadi pemulung untuk bertahan hidup, kemudian kita bertemu dan bersahabat hingga saat ini. Dulu kamu tidur di mana saja, di emperan toko, halte bus, terminal, stasiun. Sampai akhirnya kau membangun rumah kardus mungil di tepi rel kereta untuk tempat tinggalmu.
“Sabarlah, kawan.” aku mengusap punggungmu.
Kamu tersenyum.
“Kau tahu? Aku tak pernah mimpi indah. Kau pernah? Bagaimana rasanya?” katamu tiba-tiba.
“Ah, mana mungkin kau tak pernah mimpi indah?” aku terkejut.
“Ya, belum pernah mimpi indah. Aku selalu bermimpi buruk.”
“Kau serius?”
“Ya. Makanya aku ingin merasakan bagimana mimpi indah itu. Mimpi yang bisa membuatku merasa senang, bahagia. Mimpi yang sempurna.”
Kita tenggelam dalam pikiran kita masing-masing. Aku tak bisa membayangkan bagaimana orang yang selalu bermimpi buruk, tak pernah bermimpi indah.
***
Pengakuanmu membuatku berpikir. Sungguh, seandainya bisa, aku ingin mewujudkan keinginanmu itu. Apalagi sebentar lagi hari ulang tahunmu yang ke-tujuh belas. Sebuah mimpi indah akan menjadi kado yang sempurna di hari ulang tahunmu. Tapi, bagaimana caranya? Bukankah mimpi itu bunga tidur? Apakah kita bisa mengendalikannya?
Aku mendapat sedikit pencerahan ketika secara tak sengaja aku membaca yang kau alami sehingga kau tak pernah mengalami mimpi indah? Sekarang aku harus mulai mencari cara agar kau bisa mendapat mimpi indah. sebuah artikel di sebuah majalah bekas yang kupulung. Artikel itu membahas mengenai mekanisme mimpi. Memang benar, mimpi adalah perwujudan pikiran alam bawah sadar kita.  Sesuatu yang kita pikirkan terus menerus bisa menjelma menjadi mimpi. Ah, kawan, sebegitu dalamkah trauma
“Apa yang membuatmu merasa senang?” tanyaku padamu keesokan harinya, ketika kita beristirahat bersama di bawah pohon randu tak jauh dari TPA. Kamu mengipas-ngipaskan topi kumalmu. Bukan untuk mengusir bau tak sedap tumpukan sampah yang sudah sedemikian akrab, namun untuk mengusir peluh yang meleleh akibat sengatan matahari yang saat itu tepat di atas ubun-ubun kita.
“Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?” kamu merasa sedikit aneh.
“Dengar, kawan, kemarin aku membaca artikel mengenai mekanisme mimpi. Berdasarkan artikel tersebut menurutku kau harus merasa senang, agar rasa senangmu itu mengendap di bawah sadarmu kemudian menjelma menjadi mimpi indah,” jelasku padamu.
Kamu diam, aku menjadi sedikit takut jika ternyata kamu sudah kehilangan keinginanmu itu.
“Kamu masih ingin merasakan mimpi indah kan?” tanyaku takut-takut. “Aku ingin memberikan sebuah mimpi indah untuk hadiah ulang tahunmu … “ sambungku lirih.
“Ya!” kamu menjawab. “Aku ingin mimpi indah. Tolong bantu aku mewujudkannya. Apa kau mau?”
Aku mengangguk cepat dengan mata berbinar.
“Kita mulai dari mana?” tanyamu.
“Apa yang membuatmu senang?”
“Hmmm…baiklah. Kalau begitu kita akan mandi di sungai, membeli gulali, makan es krim coklat, memandangi bintang, dan berlarian di padang bunga,” katamu.
“Baiklah. Ayo kita lakukan!” aku bersemangat. Aku tak menyangka, hal-hal sederhana sudah bisa membuatmu senang.
Sesorean itu kita bersenang-senang. Aku senang melihatmu tertawa lepas saat kita berlarian di padang bunga.
“Kau senang?” tanyaku. Kita sedang berbaring-baring  di padang bunga. Bulan sudah menggusur matahari sejak satu jam lalu, dan kini langit tampak semarak dihiasi gemintang. Venus sang Dewi Cinta tampak begitu genit mengedip-ngedipkan matanya menggoda sang rembulan.
“Ya.”
“Semoga nanti kamu sudah bisa mimpi indah….“
“Semoga….”
***
“Bagaimana? Apa kau mimpi indah semalam?” Sejak saat itu selalu pertanyaan itu yang pertama kau lontarkan padaku setiap kita bertemu, dan dengan berat hati aku menggeleng.
Sungguh, kawan, aku tak sampai hati melihat kesedihan merundung wajahmu ketika aku belum juga bermimpi indah. Aku didera rasa bersalah. Kau mati-matian berusaha membuatku bermimpi indah, namun aku tak kunjung bermimpi indah. Sudah dua minggu ini kita melakukan hal-hal yang menyenangkan, yang membuatku senang.
“Baiklah, kalau begitu besok kita coba lagi, ya?” kamu selalu menguatkanku. Tak lupa sebuah senyum menghiasi bibirmu. Entah dari mana kamu mendapat energi sebesar itu. Terkadang aku iri padamu, kamu adalah orang yang bersemangat dan mampu menularkan semangat itu padaku. Meskipun aku sering mengolok-ngolokmu, mengolok-ngolok kegemaran menulismu. Tapi kamu selalu baik padaku, tetap baik padaku. Kau tahu? Aku bahagia mempunyai sahabat seperti dirimu. Sahabat sebaik kamu.
Malam ini aku merasa sedikit lelah setelah seharian melakukan hal-hal yang menyenangkan. Dadaku terasa agak nyeri dan sesak. Mungkin karena aku kelelahan. Aku sudah beberapa kali mengalami hal seperti ini. Biasanya rasa sesak dan nyeri ini akan hilang sendiri setelah aku beristirahat. Maka aku meneguk segelas air putih kemudian segera berbaring di kardus yang kujadikan alas tidur. Menarik sarung kumal satu-satunya milikku menutupi tubuhku yang sedikit menggigil digigit dinginnya udara malam. Besok adalah hari ulang tahunku. Aku berdoa agar malam ini aku bermimpi indah. Aku mengingat-ingat hal menyenangkan yang kita lakukan hari ini. Ada rasa senang menyelinap dalam dadaku, terlebih ketika kita tertawa bersama-sama. Pelan-pelan mataku pun terpejam.
Aku merasa ada sinar yang terang menerangi rumah kardusku. Apa itu? Aku membuka mata pelan-pelan. Mulanya sinar itu menyilaukan, tapi lama-lama aku bisa melihat sesuatu yang memancarkan sinar itu. Seekor kuda, tepat di depan rumah kardusku. Tapi bukan kuda biasa. Kuda itu berwarna putih bersih, bersayap, dan mempunyai sebuah tanduk di kepalanya. Bulunya tampak begitu halus dan memendarkan cahaya putih lembut. Sangat indah. Aku ternganga. Itu makhluk yang pernah kulihat dalam buku dongeng bekas, milikmu. Aku begitu terpesona saat itu. Unicorn. Ya, aku ingat, katamu nama kuda itu unicorn. Aku pernah berkata padamu bahwa jika unicorn benar-benar ada aku ingin keliling dunia naik unicorn dan kamu menertawakanku karena keinginanku terdengar konyol. Kau bilang kalau unicorn hanya ada dalam dongeng.
Tapi sekarang kuda itu benar-benar ada. Di depanku. Di depan mata  kepalaku sendiri. Aku mengucek-ngucek mata, tak percaya. Barangkali ini cuma mimpi. Mimpi indah, tentunya. Tapi unicorn itu nyata. Unicorn itu tampak jinak. Akupun bangun dan mendekatinya, mengelusnya, membelai surainya yang berkilau keperakan. Unicorn itu merendahkan tubuhnya, sepertinya ia ingin aku naik ke punggungnya. Ragu, aku menaiki punggungnya. Seketika unicorn itu berdiri, merentangkan sayapnya, kemudian menjejakkan kakinya sebelum melesat terbang ke angkasa. Aku yang kaget memejamkan mata seraya memeluk erat-erat lehernya. Udara semilir terasa menerpa rambutku, pelan-pelan akupun membuka mataku.
Wow! Aku terbang! Naik unicorn! Persis seperti keinginanku dulu. Si unicorn terbang dengan tenang. Bintang-bintang dan bulan tampak lebih dekat, seolah aku bisa meraihnya dengan tanganku. Di bawah sana, lampu-lampu kota tampak begitu indah. Aku tertegun, menikmati semua keindahan ini. Lalu aku pun teringat padamu, aku ingin menunjukkan unicorn ini padamu. Kau juga pasti akan sama denganku, terkagum-kagum. Aku tak tahu apakah unicorn bisa mengerti bahasa manusia, tapi pikirku tak ada salahnya dicoba.
“Hei….”aku menepuk lembut punggungnya. “Kau tahu rumah Re? Dia sahabat terbaikku. Apa kau bisa mengantarkanku ke sana, ke rumahnya?” tanyaku.
Tampaknya unicorn ini mengerti perkataanku karena serta merta ia mengurangi ketinggian terbangnya, menukik lembut ke sebuah arah, ke sebuah titik: rumahmu. Aku tidak tahu, tapi malam ini rumahmu berubah transparan. Aku bisa melihatmu tidur sangat lelap, berdesakan dengan bapak-ibumu dan adikmu di atas kasur butut yang terhampar di lantai. Kamu tampak lelah. Aku jadi tak tega membangunkanmu, dan memutuskan mengurungkan niatku.
“Ayo kita pergi. Kau akan mengajakku ke mana lagi?” tanyaku pada si unicorn.
Sekali lagi si unicorn menjejakkan kakinya dan melesat terbang ke arah rembulan. Tiba-tiba ada sebuah cahaya kuning hangat menyilaukan, dan setelah kami(aku dan unicorn) melewati cahaya tersebut, aku sampai di sebuah tempat yang sangat indah. Tempat terindah yang pernah ada, bahkan kekata tak kan mampu untuk menggambarkannya.
“Di mana ini? Tempat apa ini?”
Aku tahu pertanyaanku tak butuh jawaban. Aku pun tahu aku tak ingin ingin pergi dari tempat ini, tak ingin kembali.
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, tapi aku belum juga melihatmu. Di mana kamu, Go? Hari ini ulang tahunmu yang ke-tujuh belas. Aku penasaran apakah kau sudah bermimpi indah atau belum karena aku tak bisa memberikan apa-apa lagi sebagai kado untukmu. Perasaanku tidak enak, semalam sepertinya aku bermimpi kau mendatangiku. Entahlah, aku sudah tak begitu ingat. Akhirnya kuputuskan untuk mendatangi rumahmu.
Sesampai di rumahmu, tampak banyak orang yang berkerumun. Firasatku tak enak. Aku segera berlari menuju kerumunan orang di rumahmu.
“Ada apa, Pak?” tanyaku pada seorang bapak berbaju kumal warna kuning. Ada sebuah peluit yang menggantung di lehernya. Tampaknya ia bekerja sebagai tukang parkir.
“Ada orang meninggal. Sepertinya sudah sejak semalam, tapi baru diketahui tadi pagi,” jelas bapak tersebut.
Aku menyeruak kerumunan, dan seketika jantungku terasa hampir copot dari tempatnya semula. Aku melihat tubuhmu sudah terbujur kaku. Susah bagiku untuk mempercayai bahwa itu kamu. Bukankah kemarin kita masih memulung bersama, membeli semangkuk mi ayam yang kita makan berdua, dan berbaring-baring di padang bunga? Tapi memang benar itu kamu. Kamu telah pergi, tak akan kembali.
Aku ingin bisa merasakan kebahagiaan, walau hanya dalam mimpi atau khayalan semata.
Aku kembali teringat kata-kata yang pernah kau ucapkan itu. Aku tak menyangka, akhirnya akan jadi begini. Tapi kulihat ada segaris senyum menghias bibirmu, menyiratkan kedamaian, kebahagiaan, di tubuh pucatmu yang mulai membiru. Apakah kau sudah mendapatkan mimpi indah itu, sebuah mimpi yang sempurna?
***